
Berbeda dengan di luar. Kini Rama benar-benar merasa nyaman saat ada di dalam rumah ibu Dini. Penerangan yang sangat terang dan rasa aman membuat Rama mampu keliling sembari menatapi berbagai hal baru di matanya itu.
Ditambah setelah ibu Dini menceritakan mamah Annisa pernah istirahat di salah satu kamar. Jadilah anak itu sama Bram mendiami kamar itu. Sembari menunggu ibu Dini yang masak. Karena ibu Dini sama sekali tidak mau diganggu kalau sedang memasak.
"Berarti mamah dulu pernah ada di sini ya yah?" tanya Rama lagi sambil tiduran di kasur. Ia sedikit nyaman dan entah kenapa jadi mulai mengantuk (?)
"Ehem ... nak kayaknya kamu kangen banget ya sama mamah Annisa?"
"Hah?"
Bram duduk di kursi rotan dalam kamar. Ia duduk sambil menatap sang anak yang kelihatannya sedikit terkejut itu.
"Iya ... kayaknya kamu kangen banget sama mamah Annisa. Segala hal tentang mamah kamu itu, buat kamu jadi excited. Ayah jadi ngerasa bersalah karena udah buat kamu jadi jauh sama mamah Annisa."
Rama tertegun.
"Ayah sedih sebenarnya. Entah kenapa omongan kamu juga yang tadi buat ayah mikir. Kalau memang karena itu salah satu alasan mamah kamu pergi. Ayah beneran nggak bisa berhenti buat nyalahin diri ayah sendiri. Karena secara gak langsung yang udah buat kamu ketemu sama Bunda kamu itu. Kan ayah? jadi ayah patut di salahkan di sini."
"Ih enggak!"
Rama buru-buru bangun dari tempat tidur dan memeluk Bram dengan sangat erat. Tidak mau ayahnya itu merasa bersalah karena ini.
"Ayah jangan ngerasa bersalah gini. Aku minta maaf kalau udah buat ayah nggak nyaman."
Bram menggeleng.
Bram mengusap punggung Rama. Membawanya masuk ke pelukan dia.
"Ayah bukannya nggak nyaman. Tapi ayah sadar kalau di sini ayah yang berperan besar sama kesedihan kamu dan seharusnya ayah sadar. Selama ini ayah pura-pura nggak tahu doang. Selama ini ayah pura-pura nggak tahu doang dan ternyata memang benar kalau masalah ini adanya dari ayah sendiri. Tapi ayah malah nutup mata."
Rama tertegun.
"Kamu ini juga udah terbiasa sama Annisa dan ayah sadar banget betapa kamu kehilangan sosok mamah kamu itu. Ayah cuma pura-pura nggak sadar. Padahal ayah jelas tau kalau pas tidur foto mamah kamu harus ada di bawah bantal. Atau kamu yang diam-diam nangis."
"Hah?"
__ADS_1
"Ayah tahu semuanya nak."
Rama tertegun, semakin mengeratkan pelukannya pada ayahnya itu.
"Tapi ayah jangan minta maaf. Ini kan salah kita berdua. Jadi, ayah nggak berhak buat minta maaf sendiri kayak gitu. Sekarang, kita harus cari mamah ya yah."
"Pasti sayang ... kita akan cari mamah kamu. Ayah janji bakalan dapat yang terbaik. Ayah janji bakalan bawa mamah kamu ke hadapan kamu. Kamu jangan khawatir sama sekali."
Mereka berpelukan.
Dua laki-laki berbeda usia itu kini hanya bisa saling menenangkan satu sama lain. Sembari berharap semoga Tuhan mempermudah jalan mereka untuk membuat mereka bertemu satu sama lain.
***
"Loh kok anaknya nangis sih?" tanya ibu Dini begitu melihat Rama dan Bram yang keluar dengan wajah sembab. "Kalian kenapa?"
Bram tertawa sembari menggeleng. Ia mengusap wajah Rama dengan menggunakan lengan kemejanya.
"Anaknya lagi kangen sama mamahnya aja. Nggak ada yang spesial sama sekali. Maklum, Rama udah terbiasa sama keberadaan Annisa. Jadi pas di tinggal beberapa hari gini aja Rama udah kangen banget sama mamahnya."
Ibu Dini tanpa sadar menyetujuinya.
"Annisa memang bikin kangen ..."
Ibu Dini mengangguk lagi. "Sudah, sudah ... sekarang kita makan dulu. Takut semakin malam."
Bram membantu membawa makanan ke tikar di ruang tamu. Mereka melanjutkan makan dengan baik. Tak ada yang bersuara. Bram dan Rama juga makan dengan sangat lahap karena sejak tadi siang belum ada makanan lagi yang masuk.
"Senang melihat kalian makan begini," jujur ibu Dini saat memperhatikan cara makan Bram dan Rama. "Ibu jadi ingat pas Annisa datang. Dia juga makan dengan lahap. Soalnya kata dia, jarang dimasakin sama orang begini. Makanya dia ngerasa masakan ibu spesial banget."
Bram mengacungkan jempol.
"Tapi makanan ibu memang enak banget," ujar Bram setelah menenggak air putih. "Jadi semua orang yang makan pasti seneng. Soalnya ibu juga masak pakai hati. Jadi wajar kalau kita semua suka sama masakan ibu."
Rama sampai menjilati tangannya yang terdapat sisa makanan. Maklum ia jarang pakai dengan tangan. Jadi sedikit canggung kalau makan begini.
__ADS_1
"Enak mbah ... Rama suka makanannya. Makasih banyak ya mbah karena udah masak makanan seenak ini. Rama sampai nambah."
Rama mengusap perutnya yang bundar itu. Kekenyangan.
"Hahaha ibu senang mendengarnya. Capek ibu jadi hilang kalau kalian juga nikmatin makanan kayak gini."
"Iya bu ... sekali lagi makasih ya."
***
Tiba-tiba saja hujan turun dan ibu Dini menyarankan mereka untuk menetap dulu. Bram dan Rama setuju saja. Tapi Bram janji akan pulang kalah hujannya sudah reda. Ia sedikit sungkan tinggal di sini. Ditambah semua gadget, ia tinggal kan di rumah mertuanya. Jadi, Bram memang harus pulang. Karena masih banyak yang harus dia urus.
Saat ini,
Pintu rumah ibu Dini dibiarkan sedikit terbuka. Angin sepoi-sepoi membuat Rama yang sejak tadi tiduran di paha Bram mulai mengantuk. Tanpa sadar ia mulai tertidur dan Bram sendiri sibuk mengobrol sama ibu Dini. Bram cari tahu apa aja yang dilakukan mertuanya selama ini.
"Jadi ... ibu sama bapak tuh memang banyak musuh ya?"
"Lebih tepatnya banyak orang yang nggak suka sama mereka," jelas ibu Dini. "Kami juga kan kurang tahu kalau anak semata wayangnya itu menikah di luar kota. Warga di sini tahunya kalau Annisa itu kerja."
"Begitu ..."
"Makanya beberapa warga di sini sedikit merasa aneh melihat orang tua Annisa yang tiba-tiba kaya. Karena sebelumnya mereka tuh biasa aja. Ya ... beberapa warga sampai mikir yang macem-macem gitu. Tapi semuanya itu berakhir warga yang tutup mata. Karena orang tua nak Annisa suka bagi-bagi uang dengan percuma. Walau setiap mereka bagi-bagi uang. Mereka sembari remehin orang lain."
"Ya ampun."
Bram dari awal memang sudah memiliki firasat buruk tentang orang tua dari istrinya itu.
Matre, mungkin itu satu hal yang Bram sangat tahu.
Tapi balik lagi, Bram tidak tahu kalau mereka bakalan sejauh itu.
"Tapi bu ... beneran Annisa kena akibatnya karena ulah orang tuanya ini?" Bram menghela napas dalam. "Ibu harus tau kalau selama ini hidup Annisa tuh udah pusing karena ulah orang tuanya. Tapi kenapa sekarang orang tuanya masih aja ngelakuin kayak gini? ya ampun Saya tidak tahu segimana sedihnya Annisa pas tahu masalah ini. Ditambah Annisa nggak bagi masalah sama saya lagi. Ya ampun, saya semakin merasa sedih."
"Kelihatan kok ... matanya sangat sayu. Bahkan foto ibu dan bapaknya yang ada di ruang tamu rumah itu selalu membuat Annisa salah fokus."
__ADS_1
Bram ingat foto besar yang ada di rumah mertuanya itu. Bingkai yang sangat besar tapi tak ada foto Annisa sama sekali di dalamnya.
"Memangnya kenapa dengan foto itu?"