
"Eh ayah udah selesai?" Rama memberikan ruang untuk Bram duduk.
Bram menenggak minuman dingin yang ada di atas meja lalu mengangguk lirih pada anaknya itu. "Hmm ... kamu udah selesai kan? udah beli kado juga buat mbah Dini?" tanya Bram sambil melihat tas tote bag di samping Rama
"Udah yah ... aku beli buket bunga yang cantik banget. Terus aku juga beli mukena buat mbah. Soalnya aku lihat mbah shalat terus mukenanya udah kurang bagus. Makanya aku langsung beli."
"Mulia banget hati anak ayah."
Bram membereskan semua barang di sana dan langsung membawanya. "Kalau gitu kita pulang sekarang ya. Udah jam setengah sepuluh. Kayaknya kita bakalan telat sampai rumah. Jadi, yuk buru-buru."
Ia menggandeng lengan Rama selama menyebrang dan setelah keduanya masuk ke dalam mobil. Bram langsung menjalankan mobil, meninggalkan pusat kota untuk menuju ke kampung Annisa.
***
Suara riuh sorakan terdengar begitu mobil Bram memasuki halaman rumahnya. Sudah banyak warga yang ada di dalam sana. Bahkan saat Bram dan Rama keluar dari mobil suara warga yang menyoraki mereka semakin terdengar kencang.
"Dasar keluarga penipu."
Bram berusaha menutup telinga Rama dan membawanya masuk ke dalam.
"Bapak-bapak semua ... mohon tenang. Saya datang kesini untuk memberi niat baik. Tapi kalau kalian begini. Saya akan mikir dua kali untuk membayar semua nominal uang yang di tipu sama mertua saya."
Warga tersebut tetap menggeleng. Merasa laki-laki di depan nya ini penipu.
"Pasti kamu juga satu komplotan sama Annisa kan? di mana anak itu? ngomongnya mau bayar tapi malah menghilang. Sekeluarga sama aja dan sekarang tiba-tiba anda datang dan ngomong mau bayar semuanya? tidak ... kami tidak akan percaya lagi. Pasti kamu suruhan orang tua Annisa juga kan? nanti kami percaya dan berharap lagi. Tapi pas kami udah berharap. Kamu malah pergi seperti yang lain."
"..."
Yang lain kembali menyoraki Bram.
Bram berusaha menenangkan mereka semua. Bahkan pak Kepala Desa hanya diam duduk tanpa mau membantunya sama sekali.
__ADS_1
"Kalian penipu! Annisa penipu. Perempuan berwajah polos itu nyatanya penjahat yang—
"MAMAH NGGAK JAHAT!"
Semua orang menoleh ke arah Rama yang keliatan marah sambil menatap semuanya. Bram terkejut, ia berusaha meminta Rama untuk kembali ke dalam. Tapi dengan cepat Rama hanya menggeleng.
"Ayah diam dulu!" suruhnya. "Aku kesel banget sama semua orang yang terus bilang mamah penipu terus jahat. Mamah aku nggak kayak gitu! kalian semua yang jahat!"
"Alah bocah sok tau. Bocah kota yang songong kan kamu? nggak usah ikut campur. Kamu nggak bakalan paham kalau orang tua kamu sudah menipu banyak orang," tambah salah satu pria tua. "Tuh jam tangan mahal yang kamu pakai jangan bilang dibeli orang tua kamu karena hasil tipuan? duh nggak berkah! nggak bakal selamat hidup kamu!"
"PAK!" bentak balik Bram.
Ia menatap tajam semua orang.
"Kalian punya urusan sama saya! bukan anak saya."
Bram beranjak mendatangi mobilnya. Ia ambil satu tas yang berisi uang. Ia sengaja menutup pintu mobil dengan kasar.
Uang langsung tersimbul di balik tas dan itu cukup membuat semua orang langsung bungkam. Ditambah wajah marah Bram yang membuat mereka hanya bisa meneguk saliva saja.
"Saya punya uang dan saya akan bayar uang kalian yang sudah ditipu sama mertua saya. Jadi stop untuk berulah dan malah membuat saya malas untuk mengurus masalah ini."
"Mertua?" tanya salah satu warga. "Kamu istri dari Annisa? sejak kapan? kenapa tidak ada sebar undangan? dan kalau gitu anak itu adalah anak kalian? woah ... ternyata wajah polos Annisa begitu juga nakal ya sampai dia hamil di luar nikah? duh ... itu semua uang halal nggak? takut saya nanti nerima uang yang nggak halal. Terus jadi masalah bagi keluarga saya nya."
/Betul!/
/IYA!/
/Setuju!/
Masih banyak yang kontra sama kehadiran Bram. Bahkan kepala desa yang sudah ia beri tahu faktanya kini malah dengan santai melainkan ponselnya. Tidak ada niatan untuk membantu sama sekali.
__ADS_1
Bram menggeram sangat marah. Dia benar-benar menatap emosi pada semua hal yang ada di sana.
Ia menaruh tas tadi dengan kasar di atas meja. Hingga menimbulkan suara gebrakan cukup kencang. Cukup buat mulut para warga jadi bungkam.
"PERTAMA ... Saya seorang duda dan anak tadi adalah anak saya. Tapi dengan kebaikan hati Annisa. Dia mampu nerima saya dan anak saya di hidupnya. Jadi ... tidak ada hamil di luar nikah apalagi kebobolan sama sekali. Karena kami sudah menikah dan sah di mata hukum dan negara."
"Ngeles aja kamu ... HU, Kalau memang menikah. Kenapa tidak ada undangan sama sekali? Apalagi Annisa hidup di kota sana. Jadi, wajar kalau ada sesuatu terjadi sama dia. Duh ... kami nggak akan percaya lagi sama semua omongan kamu. Sekeluarga penipu. Jadi wajar kalau kamu juga bisa nipu kami semua di sini."
Bram menarik kursi dan duduk di sana dengan santai.
"Menikah? mengundang kalian? buat apa saya mengundang kalian?" tanya Bram sengak.
Semua warga yang datang tampak sangat terkejut.
"Toh yang datang ke pernikahan saya hanya orang penting. Jadi nggak ada orang biasa kayak kalian. Semua CEO, sampai tamu penting yang datang. Jadi maaf aja ... saya ada kriteria sendiri untuk mengundang orang yang datang ke pernikahan saya."
"Mulut anak kota memang sangat jahat ya!"
"Betul! kami memang tinggal di kampung. Tapi kita nggak akan pernah mempermalukan orang. Dasar kamunya aja yang sombong dan nggak tahu diri."
Bram menggeleng.
"Saya ngomong begini karena kalian duluan yang nuduh saya enggak-enggak. Jadi maaf kalau mulut saya menyakiti kalian. Tapi .. maaf, nggak selamanya orang kota itu sombong. Itu mah sifat standar manusia saja. Mau dia tinggal di mana pun kalau punya sifat sombong ya sombong aja. Di sini ada contohnya tuh." Bram menunjuk kepala desa yang kini terlihat terkejut. Tidak percaya kalau Bram malah menunjuknya seperti ini.
Kepala desa tersebut spontan berdiri dan menatap tidak terima kepada semua warganya.
"Lihat bapak-bapak ... dia cuma orang baru di sini. Tapi udah menghina saya seperti tadi. Dasar memang orang kaya gak ada adab. Pasti dia sombong karena punya uang banyak. Padahal kita nggak ada yang tahu uang apa itu!" kepala desa tadi malah memperkeruh suasana.
Bram hanya menonton saja. Mau melihat sampai sejauh mana. Kepala desa itu akan bertindak.
"Lihat pak, dia diam saja. Pasti dia setuju sama semua omongan saya. Udah pak, nggak usah baik-baik kalau kayak gini. Dia aja bertingkah. Mending kita langsung bawa ke kantor polisi!"
__ADS_1