
Khusus malam ini, Rama tidur bersama Bram setelah sekian lama mereka tidur di kamar masing-masing. Sebelum Annisa datang pun, mereka jarang tidur bareng karena Bram yang memang kurang mencurahkan kasih sayang atau bisa di bilang selalu gengsi itu.
"Ayah ... Rama kangen deh sama mamah."
Rama menarik selimut dan mulai tiduran menyamping. Matanya terus menatap sang ayah yang masih sibuk di atas meja kerjanya dan meminta Rama untuk tidur lebih dulu.
"Eh memangnya mamah kamu masih belum di hubungin?" tanya Rama yang kaget sendiri karena sejak tadi belum ada menghubungi Annisa lagi. "Kamu udah coba telepon atau masih ngomongin telepon yang tadi siang?" tanya Bram lagi
"Ih aku tuh baru aja telepon pas abis makan!" serunya lalu kembali terduduk. "Aku kangen banget deh sama mamah. Tapi mamah kemana ya? katanya mamah nggak bakalan lupain aku dan janji bakalan nelepon terus. Tapi sekarang apa? kenapa mamah juga nggak bisa di hubungin kayak gini? mamah nggak lagi bohong kan sama aku?"
Bram tertegun. Pikirannya berkelana mengingat janji sang istri.
Biasanya Annisa akan memprioritaskan Rama di atas apa pun. Tapi kalau sampai nggak ada kabar kayak gini. Yang ada dirinya dibuat panik. Walau dirinya sendiri yang meminta Annisa untuk fokus sama keluarganya terlebih dahulu itu.
"Coba kamu telepon lagi," pinta Bram yang masih berusaha mikir positif. "Siapa tau tadi mamah kamu lagi nggak pegang HP."
"..."
"Dan jangan nyimpulin hal buruk kayak gitu dulu ya nak. Mamah kamu memang udah janji. Tapi kalau ada hal lebih penting di sana. Dia bisa apa selain ingkar kan? dari pada mikir yang enggak-enggak. Mendingan kamu doa supaya mamah kamu itu baik-baik aja."
"Pasti yah!" ungkap Rama dengan semangat. "Aku pasti do'ain mamah apa pun kondisinya. Jadi ini gimana? telepon lagi nggak?" pinta Rama penuh harap.
Maklum, ponsel dan semua alat gadgetnya akan dikumpul ke ayahnya begitu malam tiba. Karena waktu itu Rama pernah ketahuan diam-diam main gadget pas semua orang udah tidur. Waktu itu ... Rama sedang kecanduan nonton youtube. Jadi, Rama sengaja begadang untuk menonton youtube.
Pas tahu, Bram benar-benar sangat marah.
Karena akibat tingkahnya itu. Kegiatan Rama jadi banyak yang terganggu. Seperti sekolahnya yang jadi terbengkalai karena Rama malas-malasan. Atau mata anak itu yang selalu memerah karena mengantuk dan kantung matanya yang benar-benar menghitam.
Bram pun memberi hukuman dengan menyita semua gadget Rama sebelum tidur. Tidak mau hal yang sama terjadi.
"Kamu mau nelepon lagi?" tanya Bram
Rama mengangguk dengan sangat cepat. Wajahnya begitu semangat dan sumringah. "Boleh kan yah?"
__ADS_1
"Besok kamu sekolah." Bram memberi tahu sambil menatap jam weker di meja kerjanya. "Biasanya kalau jam segini kamu belum tidur, pasti mamah udah marah kan? memang nya nggak apa-apa. Terus kalau kamu tidur agak larut, apa kamu besok nggak bakal ngantuk? atau nanti malah marah lagi pas ayah bangunin."
"Ih enggak ...".Rama merengek.
Bram tersenyum tipis.
Dia beranjak menghampiri sang anak lalu memberikannya ponsel. " Pakai HP ayah sana, telepon mamah kamu. Siapa tau sekarang mamah kamu itu udah megang HP," harap Bram lalu kembali duduk di meja kerjanya.
"OKEI!"
Rama mengotak-atik ponsel sang ayah dan setelah menemukan nomor sang mamah. Anak itu langsung menghubunginya.
Tidak seperti tadi siang yang tersambung, kini hanya ada suara operator yang membuat Rama sama Bram saling pandang. Seolah sama-sama memikirkan hal yang sama. Keduanya berusaha memahami keadaan.
"Kan ... pasti ada sesuatu yang terjadi sama mamah," tuduh Rama. "Masa iya dari awal berangkat mamah nggak bisa di hubungin sama sekali sih," gumamnya sedih. "Mamah nggak pergi lagi dari hidup aku kan?" tanya Rama.
Anak itu mulai sedih dan menggeleng.
Dia menunduk sedih.
"Apa aku bandel ya? makanya mamah nggak mau lagi ngobrol sama aku?" tanya Rama dengan sangat sedih. "aku nggak mau mamah pergi dari hidup aku. Aku bakalan sedih banget kalau hal itu memang terjadi," lanjutnya sedih.
Bram merapihkan meja kerjanya terlebih dahulu. Sebelum dia menghampiri Rama. Ia turunkan gengsinya untuk menenangkan Rama.
"Nggak usah mikir macem-macem."
Bram memindahkan posisi tiduran Rama dan membuat kepala anak itu tiduran di pahanya. Bram berusaha memposisikan diri sebagai Annisa. Dia pernah memergoki Annisa melakukan hal ini saat mood Rama sedang tidak bagus.
"Kamu ingat kan mamah Annisa pergi berapa hari?" tanya Bram berusaha mengingatkan anaknya tentang omongan Annisa beberapa tempo yang lalu.
"Satu minggu?"
"Itu tau!" seru Bram sembari menjentikkan jari. "Ini aja belum ada tiga hari. Jadi, kamu yang sabar ya nunggunya. Nggak usah sedih apa lagi sampai marah-marah cuma karena ini. Mamah kamu pasti lagi seneng banget di sana dan nggak mau diganggu. Jadi, maklumin aja."
__ADS_1
Rama menggeleng.
"Aku khawatir ayah."
Bram tertegun.
Dia juga merasakan hal yang sama. Begitu khawatir sama kondisi Annisa. Apalagi sudah beberapa jam mereka nggak saling bertanya kabar. Tapi kalau Bram menunjukkan dia yang juga panik, yang ada Rama makin ikutin panik dan sedih.
Jadi, Bram berusaha menepis pikiran buruk dan berpikir hal positif.
Lebih tepatnya, berusaha positif.
"Sekarang kamu maunya apa?" tanya Bram lagi berusaha menenangkan sang anak.
"Aku mau ketemu sama mamah," ucapnya lirih. Rama mendongak dan menatap langsung wajah Bram yang juga sedang menatapnya. "Mamah udah lama pergi yah. Mamah juga janji bakalan ngajak aku ke rumah nenek tapi nanti. Jadi sama aja kan kalau sekarang ayah ngajak aku pergi ke sana?" tanya Rama dengan memohon.
"..."
"Aku kangen banget yah sama mamah. Aku khawatir tapi aku juga kangen." Anak itu mengeluh. "Lagian kan ... dari awal aku setuju mamah pergi tuh karena mamah janji mau hubungin aku terus. Bukannya menghilang kayak gini. Toh kalau tahu begini juga. Rama nggak bakalan kasih izin mamah buat pergi."
Bram terdiam. Ikut merasa nggak enak juga sebenarnya.
"Okei gini aja. Gimana kalau sampai lima hari mamah kamu nggak ada kabar. Nanti kita yang langsung pergi ke sana? tapi kita harus nunggu dengan sabar dulu."
Rama menggeleng.
"Lusa yah ... jangan sampai lima hari, kelamaan."
"OKEI LUSA!" final Bram yang nggak mau di ganggu gugat sama sekali. Ia mengelus rambut sang anak. "Udah mending sekarang kamu tidur."
Selama menunggu Rama tertidur. Bram menatap bingung ke sembarang arah. Pikirannya terus tertuju ke Annisa yang entah di mana keberadaan dan kabarnya.
"Di mana kamu sebenarnya?" gumam Bram di dalam hati.
__ADS_1