
Annisa menceritakan kejadian tadi.
“Makanya mas ... aku langsung kesini, soalnya mau nanya sama kamu.” Annisa menatap takut-takut pada Bram. “Aku boleh kan balik lagi ke sana dan datang ke rumah kak Namira sama mbak Sakilla waktu itu? Aku beneran mau nemuin yang mbak Sakilla maksud. Siapa tau memang ada hal penting yang bisa aku dapet.”
Annisa meraih lengan Bram dan menatap memohon. Mata nya berbinar tanpa sadar.
“Mas ... aku mohon.”
“Annisa ... kamu nih kebiasaan ya, nggak usah memohon kayak gitu. Pasti mas izinin. Apa lagi ini keinginan kamu dari lama. Jadi, Siap-siap aja. Nanti kita ke sana pas hari libur. Oke?”
Annisa tersenyum simpul dan menubruk tubuh suaminya.
“Makasih mas, makasih banyak ...”
“Sama-sama sayang.”
***
Satu minggu kemudian,
Tepatnya saat weekend karena Rama baru bisa ikut pergi. Anak itu tidak mungkin ditinggalkan mengingat terakhir kali Rama sampai histeris. Jadi, Annisa nggak mau membuat kejadian itu sampai keulang lagi. Jadi ia memilih untuk mengajaknya.
Selama perjalanan, Bram terus memastikan Annisa baik baik aja. Rama sama Bram benar-benar men treatment Annisa dengan baik. Dua laki-laki berbeda usia itu nggak mau kalau Annisa sampai ke napa-napa.
Mereka memastikan kalau Annisa baik-baik saja.
“Mamah beneran baik-baik aja?” Rama mengulurkan buah yang udah dikupas. Bekal yang ia bawa dari rumah. “Ini mamah makan buah dulu aja. Udah satu jam yang lalu mama makan buah. Jadi, sekarang mamah harus makan lagi.”
Annisa merengut.
Ia mengusap perutnya yang kekenyangan.
“Mamah ini kenyang loh. Dari tadi kamu sama ayah Bram nggak henti kasih cemilan buat mamah. Jadi, udah ya. Mamah beneran baik-baik aja. Jadi, kalian stop khawatir berlebihan sama mamah. Mamah beneran baik baik aja. Gak ada yang perlu di khawatirin. Kalau memang ada keluhan, mamah pasti langsung bilang sama kalian. Jadi kalian nggak usah khawatir sama sekali.”
Rama menatap Bram dari spion depan dan ayahnya itu mengangguk.
“Ya udah kalau gitu kamu istirahat aja. Masih lama,” beri tahu Bram sambil mandang jalanan yang sangat macet. “Ini nggak tau bakalan sampai jam berapa.”
“Gak ah mas ... nanti kamu sendirian lagi. Gak enak akunya kalau nggak nungguin kamu. Kalau kamu ngantuk gimana? Nanti nggak ada yang nemenin lagi.”
Bram mendesis, “sst ... tidur Annisa.”
Dengan cemberut, Annisa tetap patuh. Ia menurunkan sedikit posisi kursinya hingga tubuhnya tidak terlalu tegak. Juga tak lupa lengan kiri Bram, ia gunakan untuk mengusap rambut Annisa. Memberikan afeksi kenyamanan sehingga Annisa cepat tertidur.
__ADS_1
***
“Biarin aja dulu, mamah kamu lagi butuh waktu sendiri.”
Bram menarik tubuh Rama yang baru mau menghampiri Annisa itu.
Begitu mereka tiba di rumah yang sempat di tinggali sama Sakilla dan Namira, perempuan itu langsung bergegas menuju kamar yang di maksud dan sejak beberapa waktu yang lalu. Annisa hanya terduduk di dekat laci dan menatap kosong sebuah album foto yang baru ia temui.
Melihat mamahnya yang nggak bergerak sama sekali. Membuat Rama khawatir tapi Bram malah menahannya.
“Ayah, tapi mamahnya.”
Rama menggeleng, menatap tak tega sambil menggeleng.
“Mamah kamu lagi sedih, kalau kita samperin yang ada mamah kamu makin kerasa sedih nya. Jadi mendingan kita nunggu di sini.” Bram mengangkat Rama dan membawanya menjauh dari kamar itu. “Kasih waktu dulu buat mamah kamu. Kalau nanti mamah kamu nangis—
Bram seketika terdiam, ia menoleh pada Rama. Mereka mendengar suara isak tangis Annisa. Rama sedikit memberontak untuk turun, tapi Bram menggeleng dan terus menahannya sambil memeluk erat anaknya.
Bram juga ikut sakit hati mendengar tangisan istrinya. Tapi Bram nggak mau mengganggu Annisa yang lagi mengenal kisah dulunya.
“Ayah, aku nggak tega,” beri tahu Rama membuat Bram menoleh karena tersadar dari lamunan nya. “Ayah kenapa nggak kasih aku turun sih. Aku mau ketemu sama mamah! Buruan, turunin aku sekarang.” Rama bergerak heboh di gendongan Bram membuat laki-laki itu hanya menahan tubuh Rama yang kian memberontak.
“AYAH!” pekik Rama dengan suara berbisik.
Rontaan nya mulai melemah dan Rama menangis di gendongan Bram.
Bram mengangguk, tangannya masih menahan kepala anaknya yang ada di ceruk lehernya. “Ayah tau, ayah juga denger kok. Tapi dengan kita ke sana malah buat mamah makin sedih. Mamah lagi kangen sama tante Namira, kamu pernah datang kan ke makamnya?”
Rama mengangguk.
“Dan kamu masih inget kan gimana sedihnya mamah waktu itu?”
Rama lagi dan lagi mengangguk.
“Ayah masih ingat pas itu, kamu sama mamah Annisa malah sama-sama menangis. Padahal di situ posisinya mamah lagi sedih banget, tapi karena kamu yang sedih. Mamah malah harus hentiin tangisannya dan nenangin kamu. Ayah nggak mau hal itu terjadi. Ayah mau biarin mamah Annisa kelarin tangisan nya dulu biar lega. Nanti kalau udah waktunya, ayah bakalan samperin mamah kok. Tapi nggak sekarang.”
Rama semakin mengeratkan pelukannya pada Bram.
“Tapi mamah baik baik aja kan yah? Dedek di perut mamah juga baik baik aja kan? Aku khawatir.”
Bram mengangguk dengan cepat. “Kamu nggak usah khawatir. Mereka semua baik baik aja. Udah, mendingan kita keluar dulu yuk.”
Bram beranjak keluar sambil menggendong anaknya. Mereka mencari angin segar, berharap bisa menetralkan perasaanya. Walau tanpa Rama sadari, saat ini Bram sungguh khawatir dengan keadaan sang istri. Berulang kali Bram melirik ke dalam dan berdoa supaya Annisa tidak ke napa-napa.
__ADS_1
***
Sementara itu,
Annisa langsung menemukan sebuah album foto yang ada di atas nakas. Foto kakaknya dan Sakilla. Tapi foto kakaknya yang langsung membuat perempuan itu salah fokus dan berakhir menangis.
“Aku udah lama banget nggak lihat senyuman kakak yang ini,” gumam Annisa membelai foto Namira yang tersenyum lebar. “Dari dulu senyuman kak Namira selalu jadi favorit aku dan setelah sekian lama aku bisa lihat senyuman kakak lagi.” Ia menarik napas dalam. “Walau aku cuman bisa lihat dari foto doang.”
Annisa tersenyum getir.
Tak ayal tangannya bergetar melihat semua foto itu.
“Kenapa kak Namira bisa sekurus ini?” tanya Annisa dengan parau. “Kak Namira selama ini baik baik aja kan? Kakak juga bahagia kan?”
Annisa terus bertanya hal omong kosong walau tahu tidak akan ada yang menjawabnya sama sekali. Tapi Annisa terus bertanya pada foto yang bahkan bisa membuat rindunya lumayan hilang.
“Dulu aku marah banget sama kakak, sampai aku udah janji sama diri aku sendiri kalau ketemu sama kakak. Aku mau diemin kakak!” serunya lalu terkekeh. “Soalnya aku inget banget, kakak paling nggak bisa di diemin aku. Kakak selalu lemah kalau udah aku diemin. Makanya kakak bakalan lakuin berbagai cara biar aku nggak marah lagi.”
“Tapi ... apa ini?”
Annisa mendengus sambil terus membalikkan album foto tersebut.
Ia juga mengambil foto yang hanya ada kakaknya saja, selebihnya dia meninggalkan foto yang tidak ia butuhkan tersebut.
“Boro boro mau marah sama kakak. Yang ada aku cuman bisa nangis, karena bahkan aku nggak bisa ngeliat detik detik terakhir kakak di sini. Kak ...”
Annisa mengepalkan tangannya. Air matanya semakin deras turun, berulang kali Annisa menyeka air matanya. Tapi semakin banyak juga air matanya turun.
“Kak ... bahkan aku nggak sempat buat sekedar nanya kabar kakak.” Annisa memandang satu foto kakaknya. “Apa dulu ... kakak pernah rindu sama adik kecil perempuannya ini?”
Annisa terkekeh kecil lalu menutup album yang tidak ia butuhkan lagi. Ia tumpuk di dekat kasur dan kini tangannya berusaha menggapai ke bawah kasur. Benar saja, ada sebuah kotak kecil di sana.
“Ih ... kok ke kunci?” ucap Annia dengan suara seraknya.
Ia menoleh kesana kemari, berusaha mencari kunci yang pas. Tapi kamar ini terlalu kosong, tidak menemukan sama sekali kunci yang di maksud. Annisa berusaha membuka paksa, tapi memang kotak kayu itu tidak bisa di buka sama sekali kalau tidak dengan kunci. Annisa berusaha mengangkat kotak yang lumayan berat itu dan mengocoknya pelan. Terdengar bunyi benda yang saling terbentur di dalam sana.
“Apa ini?”
Annisa bangkit dan menatap ke lemari. Dengan langkah ragu ia mendekati lemari dan membukanya. Tangannya berusaha menjangkau ke belakang tumpukan baju. Ia terus mencari asal di dalam lemari hingga
Krekk ...
Mata Annisa membola saat mendengar suara yang tidak asing. Ia menoleh ke sumber suara dan matanya semakin terbelalak melihat sebuah kunci kecil yang sepertinya pas untuk kotak tersebut.
__ADS_1
Ia tersenyum simpul.
“Ya ampun ...”