
Bram POV
Laki-laki itu mendatangi kamar sang anak. Ia mengetuk pintu berulang kali hingga jawaban sang anak membuat laki-laki itu masuk dan membuka pintu. Ditatapnya Rama yang sedang duduk di pinggiran kasur dengan wajah yang super gugup.
Bram terteghn dan buru-buru menghampiri sang anak.
"Nak ... kenapa kelihatan gugup banget?" tanya Bram lalu duduk di pinggiran kasur. "Itu katanya mau ketemu sama bunda Sakilla? dia udah ada di bawah. Kamu bisa langsung nemuin bundamu itu. Pasti ... kamu udah denger mobil yang dateng kan? tapi kenapa diem aja di sini? kenapa nggak langsung turun ke bawah?"
Rama menarik napas pelan.
"Ayah ... aku mau nemuin dia. Tapi, boleh nggak aku nggak panggil bunda ke perempuan itu?" tanya Rama dengan suara yang super pelan. "Aku beneran ngerasa bersalah sama mamah. Semakin aku pikirin, semakin aku ngerasa sedih. Apalagi sampai sekarang mamah nggak pernah jawab telepon aku. Padahal nomor mamah aktif. Aku juga ... mau ketemu dia cuma karena penasaran. Aku cuma mau nanya sesuatu. Aku nggak anggap dia bunda lagi, karena seperti yang ayah bilang ... dia bukan bunda yang baik. Jadi, aku nggak mau panggil bunda. Panggilan itu lebih berhak aku panggil buat mamah."
"Eh?"
__ADS_1
Bram tersentak, tangannya terulur menangkup wajah Rama. Bram baru sadar kalau luka sang anak memang sedalam itu dan fakta itu membuat Bram sedikit sedih.
"Kamu benci sama bunda kamu?" tanya Bram dengan hati-hati
Raja mengangguk dan satu detik kemudian dia menggeleng pelan.
"Mamah nggak pernah ajarin aku buat benci sama orang. Aku benci sama bunda tapi aku nggak bisa benci sama bunda karena mamah pasti marah nggak suka kalau aku jahat sama orang. Tapi ... kalau inget ayah yang sedih karena ulah tante itu. Aku jadi benci. Aku kesel. Makanya ... aku mau nanya sama ayah. Boleh kan aku manggil tante aja? seenggaknya aku udah berusaha buat sopan kan?"
Bram duduk di hadapan anaknya itu. Merentangkan tangan.
Rama melompat turun dan langsung memeluk sang ayah.
Dua laki-laki yang memiliki luka begitu dominan kini merasakan kesedihan yang mendalam. Keduanya berusaha menguraikan kesedihan bersama. Mereka sama-sama saling menguatkan satu sama lain. Dengan harapan mereka bisa menghadapi bersama masalah ini.
__ADS_1
"Nak ... kamu hebat. Anak ayah super hebat. Kamu bisa sampai di detik ini aja ayah udah ngerasa kamu hebat banget. Kamu anak ayah yang paling kuat. Ayah nggak tau lagi, tapi kamu beneran keren banget."
Rama tersenyum tipis di pelukan sang ayah.
"Sekarang ayah serahkan semuanya ke kamu. Kamu mau pilih apa pun juga nggak masalah. Ayah nggak mau ikut campur. Karena ayah takut malah marah dan ayah juga mau bilang ke kamu ... maaf kalau nanti ayah lepas kendali. Maaf kalau ayah nanti nggak sengaja bentak orang itu. Karena sampai detik ini ayah belum bisa maafin dia. Jadi maaf ya. Ayah cuma memperingati kamu dari awal aja. Maaf kalau kamu terkejut."
Rama mengangguk.
"Aku paham kok yah ..."
Keduanya sama-sama melepas pelukan dan merapihkan pakaian mereka yang kusut.
"Sekarang kita ke bawah aja ya. Kamu siap kan?"
__ADS_1
Rama menarik napas dalam disusul dengusan pelan. Dia mengangguk. "Aku siap!"