Istri Dadakan

Istri Dadakan
Surat


__ADS_3

Kotak kayu tersebut terbuka dan banyak barang asing yang terlihat di netra Annisa. Ia mengambil banyak barang dan menyisakan sebuah surat yang ada di paling bawah kotak tersebut. Annisa menyingkirkan kotak kayu itu dari pangkuannya dan menyisakan surat tadi di lengannya.


Annisa duduk bersandar di bawah dan menatap surat tersebut dengan senyum tipis.


/Untuk Annisa – adik kakak tersayang


Hallo dek ... ini sudah tahun pertama kakak nggak mendengar kabar kamu sama sekali. Sebenarnya, kakak menyesal karena udah meninggalkan kamu. Kakak yakin kalau ibu sama bapak nggak akan pernah bisa memperlakukan kamu dengan baik. Jadi, pasti kamu di sana kesepian ya.


Oh iya ... bagaimana kabar kamu dik?


Baik-baik aja kan?


Tapi, mana mungkin kamu baik-baik aja. Tapi kakak berharap kalau kamu selalu bahagia ya dik. Kakak minta maaf. Ah rasanya minta maaf aja masih kurang. Harusnya kakak bersujud di kaki kamu. Karena udah ninggalin adik yang lemah seperti kamu sendirian. Tapi, maaf. Kakak nggak berani untuk pulang. Kakak malu setiap mengingat kamu. Kakak benar benar udah jadi kakak yang gagal buat kamu. Kakak minta maaf ya.


Adek ...


Kakak memang nggak bisa kasih kamu yang terbaik. Tapi setiap bulannya, kakak selalu membuat sesuatu untuk kamu dan kakak akan menaruhnya di kotak ini. berharap kotak ini bisa sampai ke tangan kamu nantinya.—


 


Annisa terdiam sejenak.


Ia menoleh ka arah barang berserakan yang baru ia keluarkan. Di sana banyak barang kesukaan nya. Annisa tersenyum tipis, “ternyata walau kita udah kepisah, kakak tetep inget semua barang yang aku suka.”


Annisa kembali menatap surat tadi dan melanjutkan bacaannya.


 


Adek ...


Kamu tahu kan kalau kakak ini sayang banget sama kamu? Di dalam kotak ini ada tabungan kakak selama ini. Sebenarnya dari dulu, kakak selalu nyisihin uang jajan dan hasil gaji kakak buat kamu. Kakak sengaja menaruh di tabungan supaya suatu saat nanti, uang itu bisa berguna buat kamu.


Maaf kalau dulu kakak terkesan pelit sama kamu dan belum bisa jadi kakak yang baik.


Kakak melakukan itu semua supaya bisa mengumpulkan semua uang itu untuk kamu. Password nya tentu aja ulang tahun kamu. Kamu pakai ya uang itu. Terserah mau kamu apa kan, mau kamu pakai buat senang senang juga nggak masalah. Yang penting uang itu bisa berguna di tangan kamu—

__ADS_1


 


Annisa kembali terdiam. Tangannya menjangkau buku tabungan yang terselip di antara banyak nya barang. Dengan gemetar ia membuka semua itu dan dirinya benar-benar terkejut melihat uang dengan nominal yang lumayan besar terkumpul di sana. Annisa menggeleng dan mengernyit kecil.


“Hahaha ... nggak mungkin, ya ampun buat apa kak Namira ngelakuin ini semua buat aku?” tanya Annisa meringis kecil. “Gak seharusnya kak Namira segini nya buat aku. Ya ampun kak.”


Annisa kembali merutuki dirinya yang sempat marah sama kakaknya. Ia juga mengingat pernah mengutuk kakaknya karena merasa Namira nggak pernah membantu dirinya sama sekali. Padahal sekarang Annisa melihat semuanya. Ia melihat usaha sang kakak yang sangat membuat Annisa terkejut bukan main.


“Kak ... maafin atas tuduhan dari adikmu yang bodoh ini.”


Annisa kembali menaruh buku tabungan tersebut dan membaca kembali suratnya.


 


Adikku tersayang ...


Kakak berharap nanti kita bakalan ketemu, suatu saat nanti. Kakak beneran rindu dengan suara ceriwis kamu. Kakak rindu dengan omelan kamu kalau kakak nggak melakukan apa yang kamu pinta. Kakak rindu dengar suara tawa kamu yang selalu aja menertawakan hal remeh. Padahal dulu kakak selalu menganggap kamu aneh, karena hal kecil aja selalu kamu tertawakan. Tapi sekarang kakak sadar kalau semua itu mampu membuat kakak rindu. Tapi ...


Kakak harap semoga kakak bisa sembuh dari penyakit bodoh ini—


 


“Gak Annisa, jangan nangis lagi ...” ucap Annisa memaksa dirinya sendiri. “Dari kemarin kamu udah nangis terus. Kasihan anak kamu.”


Annisa menunduk dan menatap perutnya.


Tapi kehamilan nya ini menjadi salah satu alasan mood Annisa selalu berubah tiap harinya. Annisa tidak bisa mengontrol apa-apa. Semua hal terlihat menyedihkan di mata Annisa. Bahkan hal kecil pun membuat Annisa sedih.


Apalagi ini ...


Tentang kak Namira yang selalu menjadi kesayangan dirinya sampai kapan pun itu.


Annisa menarik napas dalam.


Berusaha menenangkan dirinya, sebelum kembali membaca surat tersebut dengan hati yang semakin tersayat.

__ADS_1


 


Kakak sakit dek, kakak baru tahu beberapa minggu yang lalu dan ternyata penyakit kakak udah parah. Hahaha ... mungkin ini balasan atas dosa kakak selama ini. Kakak menyyesal dek, kakak sungguh menyesal karena udah memilih jalan ini. Maafkan kakak.


Bahkan sekarang kakak cuman bisa terbaring di kasur. Kakak jadi ingat kalau dulu kamu selalu ngelakuin banyak hal sama kakak kalau lagi sakit. Kamu bakalan mastiin kakak nggak akan kesepian dan sekarang kakak merasakan penyesalan bukan main. Kakak butuh kamu. Kakak butuh adik kakak yang sangat menyayangi kakak ini. kakak butuh adik kakak yang selama ini udah kakak abaikan. Kakak butuh kamu, dek ....


Dek ...


Kalau suatu saat nanti kamu bisa menemukan surat ini dan kakak sudah nggak ada di dunia ini. Kakak titip diri kamu sendiri ya. Kamu harus selalu bahagia ya dik. Janji? Apa pun yang terjadi jangan pernah menyerah sama hidup ini. Cari kebahagiaan kamu sendiri. Jangan pernah merasa sendiri, karena di atas sana kakak akan selalu mendoakan adik kakak ini.


Juga ...


Jangan pernah menangisi kakak sama sekali. Kakak sama sekali nggak pantas mendapat tangis dari kamu. Kamu harus bahagia, apa pun itu dan tolong kenang semua hadiah yang kakak kasih ke kamu. Kakak sungguh sayang sama kamu. Bahagia terus ya ...


 


Annisa mengusap air matanya yang turun. Ia meringis membayangkan betapa pahitnya hidup kakak nya pada saat itu. Annisa menatap kasur yang tampak dingin ini. Mungkin beberapa waktu yang lalu, kakak nya ada di atas kasur dengan wajah pucat.


“Kak Namira ...,” ucapnya sangat parau.


Ia memukul kencang dadanya yang sangat sesak.


“Andai aku datang lebih cepat. Pasti sekarang kakak nggak kayak gini. Pasti kakak masih sama aku dan seenggaknya aku pasti masih lihat wajah kakak. Bukannya begini yang cuman bisa meratapi tangisan doang tanpa bisa meluk kakak sama sekali.”


Annisa meringis.


Tinggal sedikit lagi tulisan dari surat tersebut.


 


Dek ... percaya lah kalau kamu orang yang paling kakak sayang. Jangan pernah menangisi kakak sama sekali ya. Kamu juga harus selalu taat kepada Tuhan ya dek. Jangan sepeti kakak yang kayak gini. Kamu harus jadi hamba nya yang taat. Pokoknya apa pun yang kamu pilih, kakak akan selalu dukung.


Bahagia selalu dek .../


 

__ADS_1


Annisa menutup surat tersebut dengan air mata berlinang, ia memeluk surat itu. Berharap kalau kakak nya yang saat ini sedang ia peluk. “Kak ... aku sungguh rindu sama kakak.”


__ADS_2