
Bram menghela napas lelah.
Raut wajahnya yang lelah sangat menggambarkan kalau hari ini laki-laki itu sudah bekerja keras di kantor. Banyak yang harus ia kerjakan sampai lupa waktu, dan ya ... jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam tapi Bram baru keluar kantor bersama asistennya.
“Maaf ya saya menyita waktu kerja kamu. Tenang aja, nanti bakal ada uang lembur kok.”
Asistennya terkekeh. “Tuan kayak sama siapa aja. Tenang aja tuan. Ini tugas saya, jadi saya nggak merasa berat sama sekali. Saya yang harusnya berterima kasih sama tuan karena udah memberikan banyak hadiah dan kesempatan pada saya."
Bram mengangguk formal.
Ia menaiki mobil dan mengendarai meninggalkan perusahaannya. Selama perjalanan, pikiran Bram hanya tertuju ke Annisa karena sadar kalau dirinya sudah membuat istrinya itu menunggu.
"Duh, mana HP tiba-tiba mati lagi. Kenapa deh, nggak jelas banget." Bram mengomel. "Semoga aja Annisa udah tidur deh dan nggak nungguin aku. Kasihan dia kalau nunggu di tengah kondisinya yang lagi hamil."
Bram terus mengendarai mobil sampai tiba di rumahnya dan ia menyapa satpam yang menjaga lalu turun dari mobil.
__ADS_1
"Assalamualaikum— hah?"
Bram semakin merasa bersalah melihat istrinya yang tertidur di sofa. Tanpa pikir panjang dirinya itu langsung bergegas menggendong Annisa yang terlelap.
Ia membawanya ke kamar dan menidurkannya di kasur kamar mereka. Sepertinya pergerakan Bram membuat Annisa cukup terganggu. Ia mengeluh dan menoleh, "mas," seru Annisa dengan suara yang sangat samar.
"Sstttt ... udah tidur aja ya. Udah malem," pinta Bram duduk di pinggiran kasur sambil mengusap di dahi Annisa yang kelihatan ngantuk itu. "Tidur sayangnya mas ..."
Annisa menggeleng lirih. Matanya berat, tapi ia ingat kalau lusa sudah sidang Sakilla. Ia tidak boleh mengulurkan waktu. Annisa berbalik sambil memegang perutnya. Lalu dia menggenggam tangan Bram.
Bram terdiam.
"Besok ya sayang ... ini udah malem. Kamu tidur aja."
Annisa membuka matanya lagi dan menggeleng. "Kamu bohong. Pasti besok kamu kerja kan ..." Annisa menatap kecewa. "Tadi juga kamu ngomong ntar malem. Tapi jam berapa ini? kenapa kamu baru pulang ... mana gak ngabarin aku lagi."
__ADS_1
Bukannya sedih Bram malah terkekeh melihat Annisa yang mengomel tapi matanya tertutup.
Istrinya sangat menggemaskan ...
"Maaf ya Annisa. HP mas rusak, jadi mas gak bisa hubungi kamu. Juga, buat besok sama lusa mas udah minta izin buat gak datang ke kantor. Jadi kamu bisa terus sama mas. Kamu omongin deh apa yang mau kamu bilang dari tadi pagi itu. Asal sekarang kamu tidur ..."
Annisa kembali membuka matanya. "Beneran?"
Bram mengangguk. Ia mengusap kening Annisa lagi. "Gih tidur, kita omongin besok yaa."
Annisa tersenyum lebar dan mengangguk. Ia berbalik menghadap Bram dan memeluk laki-laki itu, mendusel di perut Bram sembari terus menghirup aroma tubuh suami nya.
Bram juga diam saja dan terus memberikan afeksi kenyamanan untuk sang istri.
Beberapa saat Bram terus diam di posisinya. Gak peduli tubuhnya yang mulai kesemutan, asal Annisa gak terusik tidurnya. Sampai ia merasakan napas Annisa yang mulai tenang. Baru dengan perlahan Bram melepas pelukan sang istri dan mengusap rambut Annisa.
__ADS_1
"Apa yang sebenarnya mau kamu omongin, kenapa keliatan nya penting sekali?"