
"Mamah duluan aja ada yang mau Rama ambil dulu."
Annisa keluar kamar sambil membawa tas gemblok yang besar. Tanpa ada kecupan hangat seperti biasanya membuat Rama diam mematung, mulai merasa ada yang janggal di sini.
"Mamah kenapa ngomong kayak tadi?" gumam Rama lalu mengambil sebuah foto asal dari atas meja rias sang mamah. Baru Rama berlari mengikuti Annisa keluar.
"Semoga nggak ada apa-apa deh."
"Lah ... kamu mau pergi sekarang?" tanya Bram yang kaget melihat bawaan Annisa. "Enggak besok aja Annisa? ini udah siang, yang ada kamu sampai di kampungnya malem loh. Udah ah, besok aja. Mas izinin kamu buat pergi kok. Tapi ya besok ya ... jangan sekarang, mas nggak mau kamu itu ke napa-napa."
Annisa diam.
Bram melirik mommy Chika dan mom nya itu mengangkat bahu acuh.
"Ya udah ... mending sekalian berangkatnya nanti malem aja. Biar kamu bisa istirahat di kereta, terus sampainya pas pagian?" ucap Bram sambil cek jadwal kereta di ponsel. "Kalau kamu mau nanti mas pesan tiket di gerbong yang agak ramean. Biar kamu nggak sendiri banget," ucap Bram lagi
__ADS_1
"Hmm ..."
Annisa menaruh tasnya di dekat sofa, berjalan melewati mereka begitu saja.
"Istri kamu beneran nggak apa-apa?" tanya mommy Chika menghampiri anaknya. "Ya ampun, kenapa tiba-tiba Annisa jadi kayak gini. Kamu nggak ngomong apa-apa sama Annisa kan? soalnya keseharian dia kan cuma sama kita. Jadi ya kemungkinan besar masalahnya ada di kita, karena yang mom tau. Dia nggak punya teman atau sanak saudara di sini. Jadi, kamu beneran nggak macem-macem sama dia?"
Bram terdiam.
Sungguh perasaannya ikut tidak enak mendengar pernyataan sang mommy.
"Terakhir kali semuanya masih baik-baik aja kok mom. Gak ada yang janggal. Tapi tiba-tiba aja Annisa kayak gini. Apa dia lagi dapat tamu bulanan ya?" ujar Bram berusaha mikir yang positif thinking.
"Ya sudah ... biar mom siapin makan malam dulu. Baru nanti kita ke stasiun bareng. Jangan tanya apa-apa ke istrimu dulu. Mungkin dia memang lagi dalam keadaan kurang baik. Dari pada kita nanya terus dan malah buat istri kamu itu emosi. Mendingan diemin dulu. Biarin Annisa tenang ... mom sungguh khawatir sama dia."
Bram pasrah dan mengangguk.
__ADS_1
Bram sama Rama sudah berpelukan di atas sofa.
"Ayah ... mamah kenapa?" ucap Rama pelan dengan sangat sedih.
"Ayah juga nggak tau, nak. Tapi kamu nggak apa-apa kan kalau mamah kamu itu pulang kampung dulu?" tanya Bram dengan lembut. "Ayah juga sebenarnya nggak kasih izin, tapi mau gimana lagi. Sama seperti ayah yang mau deket terus sama oma kamu. Mamah kamu juga mau deket sama ibunya. Jadi, ayah nggak bisa larang. Ya udah deh kasih izin aja. Satu minggu doang kok. Nggak bakalan berasa. Jadi, gak apa-apa kan kalau kamu sama ayah dulu?"
Rama mengangguk pasrah.
"Asal nanti pas pulang mamah senyum lagi, nggak cemberut kayak tadi. Rama nggak apa-apa deh. Rama nggak suka deh kalau lihat mamah yang kayak tadi. Bawaannya ikut sedih gitu."
Bram mengusap punggung anaknya.
"Kita do'ain aja ya biar mamah kamu balik kayak biasa lagi. Udah, sekarang kita bantu oma kamu masak dulu. Biar mamah bisa nenangin dirinya."
"Siap yah!"
__ADS_1