
"Dia sedikit cerita kalau fotonya sama orang tuanya bahkan nggak ada di sana. Semua foto mereka pas dulu sepertinya di buang sama orang tuanya Annisa. Sedih sih jadi Annisa. Dari awal dia bilang kalau pulang mau ketemu sama orang tuanya. Tapi malah diterpa masalah kayak gini."
Bram mau tidak mau setuju.
"Buat besok ... kalau bisa kamu perginya pas sama ibu ya. Jangan pergi sendiri. Ibu nggak mau kalau kamu jadi sasaran warga di sini. Mereka semua memang baik tapi kalau urusannya sudah uang. Ya ... kamu pasti paham dah maksud ibu."
Bram mengangguk.
Keduanya terus berbincang sampai tak terasa jam sudah menunjukkan waktu sangat larut dan hujan juga mulai reda.
"Bu ... kayaknya saya dan Rama pulang dulu ya. Sekalian mau bersih-bersih."
"Ya sudah, nak. Jangan lupa istirahat ya. Kamu baru datang tapi udah urus ini itu. Dan kalau ada kabar dari Annisa. Kamu jangan lupa kasih tahu ibu ya. Ibu beneran frustasi karena Annisa belum ada kabar sampai detik ini."
"Iya bu ... makasih juga atas semua bantuannya sampai penjelasan masalah ini. Maaf kalau saya dan Rama udah merepotkan ibu."
"Nggak ada yang di repotin sama sekali. Ibu malah seneng kalau kamu juga terbantu kayak gini. Sudah, mending kamu pulang. Kasihan anak kamu."
Bram menunduk, menatap wajah Rama yang masih tertidur.
"Iya bu."
Ibu Dini hanya mengantar Bram sampai depan pintu dan selanjutnya Bram jalan ke depan warung sendiri. Di sana mobilnya terparkir.
Baru mau menurunkan Rama. Anaknya itu malah terbangun dan mengerjap bingung.
"Ayah," rengek Rama sambil meraih baju Bram supaya tidak di turunkan. "Mau gendong. Takut," ujarnya lagi sadar kalau sekeliling dia itu sangat gelap.
Semuanya hanya tentang ketakutan Rama. Takut saat mendengar gemericik kecil padahal suara itu berasal dari Bram yang menginjak daun kering. Melihat daun bergerak aja takut, padahal itu karena angin yang menggoyangkan daun. Semuanya membuat Rama takut.
Tapi,
Itu semua membuat Bram sedikit terhibur sekaligus khawatir bukan main.
__ADS_1
"Kayaknya ayah harus ajak jamu camping di luaran sana deh," ucap Bram sambil menjalankan mobil.
"Camping itu apa?"
"Hmm ... camping itu berkemah, kegiatan di alam terbuka dengan mendirikan tenda dan kegiatan alam lainnya Jadi, kamu beneran ngerasain eforia alam. Jadi ayah harap kamu bisa ngerasain betapa indahnya alam itu di malam hari tanpa harus ngerasa ketakutan lagi. Soalnya udah cukup ngeliat kamu begini. Ayah beneran nggak suka."
"Itu artinya jalan-jalan ya yah?"
Bram mengangguk.
"Semacam itu ... tapi bedanya kita bakalan bermalam di alam. Tidur pakai tenda. Seru deh."
Rama langsung excited di pangkuan Bram.
"Aku mau yah! nanti kalau mamah Annisa udah bareng kita lagi. Boleh kan kalau kita camping? ayah mau ajak aku pergi kan? ayah udah janji loh. Ayah nggak boleh ingkar sama sekali."
"Siap sayang ... nanti kalau semua urusan udah selesai. Kita bakalan camping ya."
Tak lama, mobil sampai di rumah besar berlantai dua tersebut. Bram langsung mengajak Rama keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumah.
"Ayah beneran belum ngantuk?" tanya Rama memastikan. "Jangan karena aku, ayah jadi nggak tidur gitu. Nanti aku kasihan sama ayah."
Bram meluruskan kakinya dan mengangkat ke atas meja. Sedikit pegal karena hari ini ia sudah melewati banyak hal. Lalu ia melirik pada Rama yang masih menunggunya menjawab.
"Ayah belum ngantuk, nak. Ini juga masih belum terlalu malam. Ayah pun belum mandi. Ayah mau lurusin kaki dulu. Jadi, santai aja. Kamu nonton aja. Ayah tungguin kamu. Lagi pula kalau ayah tidur duluan juga. Kamu nggak bakalan berani kan? ayah tahu kalau kamu keliatan takut banget di sini. Jadi, ayah nggak mau ninggalin kamu sendirian."
Bram berbalik dan menatap seisi rumah. Rumah besar ini memang tidak menyeramkan. Di lantai atas pun lampu pada menyala. Jadi, tidak ada yang membuat Rama takut.
Tapi Rama berbalik lagi dan mengangkat bahu.
"Rumahnya gede tapi sepi."
"Rumah kita juga begitu kok," papar Bram mengingatkan anaknya.
__ADS_1
"Iya sih ... tapi kan di rumah kita ada pak supir, ada pak satpam, ada mbak, ada bibi banyak lah. Aku jadi nggak terlalu takut. Tapi kalau di sini tuh ya sepi banget."
Bram mengangguk setuju.
"Ya ... suasana di kampung ama di kota memang begini nak. Sebenarnya nyaman tahu begini. Karena kamu nggak akan dengar suara kendaraan yang bisanya cuman bikin pusing doang. Kalau kamu suka ketenangan kamu pasti suka. Tapi, mungkin kamu belum terbiasa aja. Makanya sedikit pang ling dengan suasana begini."
"Iya sih ... ayah bener."
Rama menghela napas lelah. Lalu ia menepuk paha Bram dan tiduran di sana. Dengan paha Bram sebagai bantalan nya. Ia kembali fokus sama suasana televisi.
"Sekarang aja masih sepi. Apalagi pas mamah kamu masih kecil," ujar Bram sambil menyisir rambut Rama dengan jari jemari dia.
"Memangnya mamah tinggal di sini ya yah?" Anggukan Bram membuat Rama mengangguk kecil. "Kalau begitu, ternyata mamah orang kaya ya yah. Mamah rumahnya tuh gede."
Bram terkekeh.
"Enggak ... rumah ini ayah yang urus karena permintaan dari nenek sama kakek kamu. Sebelumnya rumah ini kayak rumah samping pada umumnya. Kecil tapi nyaman dan dulu mamah kamu tinggal di tempat nyaman tersebut."
"Ah ... kalau ngomongin mamah. Aku jadi kangen sama mamah. Maksudnya ... kalau mamah ada di sini. Aku mau deh di ajak mamah keliling. Ke tempat yang mamah pernah lalui. Kayaknya seru kan yah."
"Hmm ... nanti ayah yang ngomong sendiri ke mamah kamu. Kamu tenang aja."
"Oke!"
Mereka kembali menonton televisi dengan serius. Setelah beberapa saat Rama mulai mengantuk. Ia langsung duduk dan mengucek matanya.
"Ayah ngantuk," adunya.
"Mandi dulu gih. Seenggaknya guyur aja sekali. Jangan lama-lama. Hari ini kita pergi ke banyak tempat dan lewati perjalanan yang jauh. Jadi, gak tahu seberapa banyak kuman yang ngikut. Jadi, mandi ya. Ayah tunggu di sini. Semua handuk dan peralatan mandi ayah udah taruh di kamar mandi. Kamu ambil baju di koper kamar aja. Nanti kalau butuh apa-apa panggil ayah aja."
Rama mengangguk.
Dengan langkah lunglai ia memasuki kamar di lantai bawah. Ia mengambil piyama yang ada paling atas koper terbuka. Langkah kakinya berhenti tepat di pintu masuk kamar mandi. Ia mengerjap pelan lalu menggeleng.
__ADS_1
"AYAH, AKU TAKUT ... AYUK MANDI BARENG."