
Rasanya hari ini benar-benar lelah bagi Bram. Dia pergi ke luar kota hanya untuk berkunjung ke rumah Sakilla dan kini dia langsung kembali. Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Tapi Bram nggak peduli sama sekali. Ia akan pulang saat ini juga.
***
Annisa menatap cemas jam di rumah. Sesekali ia menarik napas dalam. Dari tadi pagi Bram nggak ada kabar sama sekali dan Annisa juga nggak berani untuk bertanya lebih dulu ke Bram. Dia takut kalau Bram akan marah lagi sama dia.
"Tante ..."
Annisa menoleh dan terkejut melihat Rama turun dari lantai atas sambil memeluk bantal dan selimutnya. "Eh! ya ampun, nak ..." Annisa berlari dan membantu membawakan semua barang yang ada di sana. "Kenapa malah turun? kalau nggak bisa tidur kan, bisa panggil tante aja. Ya udah yuk kita balik ke atas lagi. Kamu harus tidur."
Rama memegang tangan Annisa dan menggeleng.
"Nggak mau ah! tante lagi nungguin ayah kan? palingan tante nggak bisa lama-lama nunggu di kamar aku. Jadi, aku yang tidur di bawah aja. Biar bisa sama tante. Aku beneran nggak bisa tidur kalau ada tante," beri tahu Rama dengan jujur sambil menunduk. "Aku udah terbiasa sama tante. Jadi kalau nggak ada tante rasanya sepi banget. Nggak suka deh!"
Annisa tertegun dan langsung tersenyum kecil.
"Beneran?" tanya Annisa yang terdengar bahagia. Merasa dirinya di hargai sama orang lain.
"Iya tante ... rasanya sepi kalau nggak ada tante. Makanya aku boleh kan tidur sama tante?"
"YA BOLEH DONG!" Annisa menoleh ke arah sofa yang cukup besar dan nggak akan membuat badan Rama jadi sakit kalau tidur sementara di sana. "Tante bakalan tunggu ayah kamu di sini. Jadi kalau kamu tidur di sofa nggak apa-apa?"
"Nggak apa-apa."
Sebelah lengan Annisa memegang barang yang tadi di bawa Rama dan sebelahnya lagi, ia gandeng tangan Rama. Mereka menghampiri sofa rumah dan langsung duduk di sana.
"Udah bersih-bersihnya? mau ke toilet lagi nggak? terus, mau minum nggak?"
__ADS_1
Rama menggeleng.
Annisa langsung saja duduk di sofa dan menaruh bantal buat kaki Rama dan kepala Rama memakai pahanya untuk bantal. Rama langsung memposisikan diri tiduran di atas sofa dan langsung saja Annisa menyelimuti anaknya. Lalu menyamankan diri supaya posisi Rama juga enak.
"Udah? agak nyaman?"
Rama mengangguk, masih terus mendongak menatap wajah Annisa.
"Tante ... kapan ya ayah bolehin aku buat manggil tante dengan sebutan bunda?" tanya Rama setelah lama diam. "Aku kan juga mau manggil orang yang udah sayang banget sama aku dengan sebutan bunda."
Annisa tertegun, tangannya yang sejak tadi mengusap kepala Rama seketika terhenti. Walaupun setelah sadar, dia usap kepala Rama lagi untuk membuatnya nyaman dan terlelap.
"Tante juga nggak tau ... tapi apa pun itu panggilan sama sekali nggak bermakna. Selama tante tetep ngurus kamu dan kamu selalu nurut sama tante. Hubungan kita udah terjalin baik. Jadi, nggak terlalu perlu kok panggilan kayak gitu."
Rama menggeleng.
"Hahaha ... jangan terlalu paksa ayah kamu ya nak. Ayah kamu pasti capek pas pulang kerja dan pasti sedih baru pulang anaknya udah protes gini. Nggak usah protes dan macam-macam, yang ada ayahmu semakin marah. Kamu bisa tanya baik-baik aja."
"Huh! ya udah deh. Tapi tante ... tante harus tau kalau aku bersyukur banget karena bisa kenal tante. Tante beneran baik banget. Aku sayang banget sama tante. Dulu aku selalu kesepian. Mbak juga pulangnya sore. Makanya aku selalu sendirian kalau mbak udah pulang. Tapi sekarang udah ada tante. Makanya aku makasih banget sama tante."
"Tante juga sayang sama kamu."
"Tante jangan pergi ya. Aku nggak tau bakalan sesedih apa kalau tante juga pergi," gumam Rama yang mulai mengantuk dan memejamkan mata.
Mendengar permintaan Rama, Annisa merasa semua itu sangat mustahil. Ia menoleh ke arah anaknya. Ternyata Rama sudah tertidur.
"Nak ... tante juga mau ada terus di samping kamu. Tante juga maunya gitu. Bukan karena uang ayah kamu yang banyak. Tapi karena tante udah terlanjur nyaman banget sama kamu, terlalu sayang sampai tante nggak tau kalau kehilangan kamu bakalan kayak gimana. Tapi ... tante bisa apa?"
__ADS_1
Annisa mengusap air matanya yang turun.
"Semua jawabannya ada di ayah kamu. Kalau dia nggak suka sama tante. Tante bisa apa? tante akhirnya bakalan pergi. Tapi ... apa pun yang terjadi. Tante harap masih bisa bersama kamu ya nak."
***
Jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam dan Annisa baru mendengar suara mobil yang masuk. Annisa langsung menatap pintu yang terbuka. Di sana ada Bram yang kelihatan sangat kusut.
"Tuan? mau makan dulu atau mandi? biar aku siapin air hangat," seru Annisa dengan pelan. Lalu dengan perlahan Annisa mengangkat Rama ke gendongannya. Ia posisikan tubuh Rama dengan sangat nyaman di gendongannya.
"Tuan?" panggil Annisa karena Bram tidak menyahut sama sekali. "Tuan mau apa? biar aku siapkan."
"NGGAK USAH GANGGU SAYA ANNISA!" tegas Bram membuat Annisa melangkah mundur.
"Maaf ..."
"Saya nggak minta untuk di tungguin kayak gini. Sudah kamu masuk sana. Saya nggak mau melihat kamu lagi!"
Tanpa pikir panjang langsung saja Annisa buru-buru naik ke lantai dua dengan perasaan tak menentu. Ia masuk ke kamar Rama, ingin menidurkan anak itu. Sekalian setelah ini sepertinya Annisa harus intropeksi diri.
"Nyatanya ... sampai kapan pun, aku nggak akan pernah mendapat posisi yang baik." Gumam Annisa.
Lalu dia menidurkan Rama ke atas tempat tidurnya. Dia selimuti Rama dengan baik. Dan setelahnya Annisa memilih berlutut di pinggiran kasur Rama sambil mandang anak itu.
"Rama ... ayah kamu masih aja jahat sama tante. Tapi tante rasa ini memang yang harus tante rasakan. Karena sikap tante yang sedari awal udah kurang ajar. Tapi kenapa sesakit ini ya dibentak sama ayah kamu? apa tante serendah itu ya? sampai nggak dianggap seperti ini?"
Annisa menggigit bibir bawahnya. Ini semua sangat menyesakkan. Annisa menghela napas kasar sambil terus mengusap pipi Rama yang sudah terlelap itu.
__ADS_1
"Kamu harus tumbuh jadi anak baik ya, dan jangan pernah merendahkan seorang perempuan seperti ini. Kamu harus tumbuh jadi anak yang baik!"