
"Sekarang terserah kamu, kamu mau nurutin kami atau kamu mau berita tentang kakak kamu dikenal sama banyak orang? ibu taruh semua pilihan ke kamu dan kamu juga harus inget kalau, ibu sama bapak udah biayain hidup kamu dari lama. Ibu sama bapak udah keluarin banyak uang buat kamu. Jadi, kamu nggak ada hak untuk nolak sama sekali. Kalau kamu memang paham sama balas budi ke kami."
"Bu ... tanpa balas budi juga, harusnya ibu paham kalau tugas orang tua itu ya ngebiayain hidup anaknya. Jadi, kenapa sekarang ibu nuntut semuanya," ucap Annisa yang hanya bisa menahan kesedihan di dalam hati. "Sudah lah ... mau aku jelasin sebanyak apa pun. Ibu nggak bakalan ngerti sama kondisi aku. Jadi, ibu butuh berapa dan buat apa?"
"Ibu lagi ikutan arisan mobil. Dan setiap pertemuan itu bayar sekitar lima puluh juta. Jadi, ibu mau setiap bulannya kamu kasih ibu lima puluh juga dan ini di luar uang bulanan yang kayak biasanya ..."
Mata Annisa terbelalak. Ia mengerjap, siapa tahu memang salah dengar. Tapi dirinya nggak salah dengar sama sekali. Ibunya benar-benar mengatakan hal yang begitu besar.
"Bu ... buat apa sih? mobil? ibu sama bapak nggak ada yang bisa mobil. Yang ada cuman mubazir doang. Jadi dari pada mubazir. Ibu nggak perlu sampai beli mobil. Sungguh deh bu, nggak usah ya. Untuk kali ini ... lima puluh juta bukan uang yang kecil."
"Makanya ibu suruh kamu minta sama suami kamu. Ibu rasa bagi dia, uang segitu tuh termasuk uang yang kecil. Jadi, ibu mau kamu nurutin permintaan ibu! ibu sama bapakmu juga nggak bisa naik mobil. Tapi, kami mau di pekarangan rumah itu ada mobil. Biar tetangga kamu percaya kalau kamu itu nikah sama orang kaya."
"..."
"Makanya ibu bilang dari awal, kalau sesekali kamu sempetin datang ke rumah dan suruh suami kamu bawa mobil nya yang mahal. Biar mereka percaya. Dan sekarang semuanya udah telat."
"Telat gimana?"
"Ya karena mereka bakalan yakin kalau ibu bisa beli mobil. Toh di sini ibu bawa arisan mobil. Jadi kalian bisa nyicil. Ibu gak langsung minta beli sekarang juga. Walaupun ibu tahu kalau suami kamu itu pasti bisa beli. Tapi ibu nggak ada tuh nyuruh kamu langsung beli. Kamu cukup bayar lima puluh juta tiap bulannya dan setelah setahun ibu bakalan dapet uang."
"NGGAK YA BU ... maaf banget kalau ibu marah. Tapi untuk kali ini permintaan ibu terlampau nggak tahu diri. Kita juga nggak perlu validasi dari tetangga. Biar mereka mikir aja dan nggak usah sombong."
"Alah, ibu kira setelah kamu nikah sama orang kaya. Ibu bisa mendapat apa aja yang ibu mau. Tapi apa ini? sama aja. Kayak kita pas orang susah. Dasar kamu memang pelit! pasti di sana kamu dapetin semua yang kamu mau. Tapi, kamu nggak mau bagi ke ibu sama sekali."
"Bu, tau nggak sih kalau aku sering ngerasa nggak enak sama suami aku sendiri. Ibu nggak lupa kan kalau rumah sebagus itu yang biayain suami aku? dan itu butuh uang yang besar loh. Semua perabotan di rumah baru dan ibu sama bapak juga sering di kirim uang tiap bulannya. Jadi ibu nggak bisa ngeluh lagi. Karena apa yang ibu dapet selama ini udah jauh lebih cukup banget."
"Alah ... kamu tuh memang nggak pernah ngertiin perasaan ibu sama sekali! ibu mau kaya. Ibu capek hidup miskin terus. Kamu sama bapakmu itu nggak pernah bisa kasih ibu uang lebih dan sekarang di saat ibu punya sumber uang. Kamu malah ngelarang ibu? ibu cuman mau ngerasain jadi orang kaya aja! kalau kamu memang nggak mau kasih. Ibu beneran nggak akan diam saja."
Napas Annisa seakan tercekat. Dia benar-benar benci ada di antara dua pilihan seperti ini. Ia sangat nggak suka.
Perempuan itu terus memutar otak supaya apa yang mau di lakuin ibunya itu nggak akan di lakuin. Dia terus mencari cara supaya ibunga nggak benar-benar melakukan itu semua. Dia akan memutar otak supaya ibunya nggak akan melakukannya. Di saat dia juga nggak bisa memberikan uang sebanyak itu.
Lima puluh juta?
Annisa menggelengkan kepalanya.
Selama ini aja Annisa jarang meminta uang sama Bram. Dia biarkan Bram mau memberi kapan pun. Toh, di rumah ini sudah punya semuanya. Jadi, dia nggak perlu memiliki uang.
__ADS_1
Tapi, kenapa di saat seperti ini ibunya malah menginginkan uang sebanyak itu.
"Bu ..." panggil Annisa dengan suara yang semakin saja mengecil.
"Hmm ... kenapa? kamu mau ngomel lagi? di sini memang nggak ada yang sayang sama ibu. Kalian memang nggak pernah ada yang ngertiin perasaan ibu. Kalian cuman bisa ngomong ini itu. Padahal ibu cuman minta hal kecil doang."
"Masalah nya itu bukan hal kecil sama sekali," jelas Annisa dengan nada yang benar-benar udah frustasi. "Kalau lima juta, aku bakal usahain. Tapi kalau udah puluhan juta. Aku beneran nggak bisa bantu. Terserah ibu mau bilang apa. Tapi selama ini aku juga kesusahan dan setelah dapet rezeki ini dari Allah. Akh nggak ambil untung. Aku biasa aja dan nggak mau kelabakan sama sekali."
"Itu mah emang kamunya aja yang bodoh! dapet suami kaya tuh harusnya di manfaatin, bukannya cuman diem doang. Alah, ibu juga masih nggak ngerti kenapa suami kamu bisa nikah sama kamu."
"..."
"Makanya sebelum suami kanu sadar kalau dia menikah sama perempuan yang nggak jelas dan jelek kayak kamu. Harusnya kamu bisa porotin dia dong. Dari pada suami kamu itu keburu sadar. Jadi, kamu buruan deh ambilin harta dia. Pasti rumahnya gede kan? sehari aja kamu ngambil perhiasan juga nggak bakal sadar."
Tanpa sadar air mata Annia menetes dan dia hanya bisa tertawa kecil sambil menggeleng.
Kenapa ibunya sendiri bisa mengatakan hal yang menyakiti hatinya?
Annisa menarik napas dalam. Kembali lagi memikirkan ribuan insecure yang selama ini selalu aja membuat dia merasa sungkan untuk ada di sini. Ini benar-benar ketakutan terbesar di hidupnya.
Tapi, kenapa hal yang paling dia takutin. Ibunya malah mengatakan sesantai itu? ibunya itu benar orang yang melahirkan dirinya kan? kenapa di saat ibunya harus buat dia yakin kalau dirinya melang terbaik. Tapi ini ibunya malah buat dia semakin terpuruk dan sakit hati?
"*Kenapa diam saja? nangis? dasar cengeng .. padahal ibu ngomong jujur sama kamu. Bahkan ngeliat kamu nikah sama orang tampan aja udah aneh. Eh sekarang kamu malah nikah sama orang tampan dan kaya. Gimana ibu nggak berpikir negatif? tapi ya ibu nggak peduli. Mau kamu segenit apa sama suami kamu itu. Atau kamu yang ganggu pernikahan mereka. Ibu nggak peduli sama sekali. Karena akhirnya ini akhir ibu mengalami penderitaan di hidup ibu. Karena ibu udah nggak kuat harus makan tempe tiap hari. Ibu nggak kuat harus diem doang karena dibentak rentenir yang dipinjam uang nya sama kakak kamu."
"..."
"Ibu juga nggak kuat kalau kita nggak bisa bayar listrik. Ibu nggak kuat harus di rendahin sama keluarga sendiri. Ibu yang harus mohon-mohon. Dan sekarang ... kamu bisa lihat. Kalau mereka yang malah datang terus ke rumah. Ibu berhak dong menyombongkan semuanta? anggap aja balasan karena selama ini mereka udah jahat sama ibu*?"
Annisa memejamkan mata.
Hidupnya memang sesulit itu.
"Bu .. bukannya aku juga udah bilang berulang kali. Apa yang terjadi di masa lalu, jangan buat ibu jadi dendam. Anggap aja itu pembelajaran yang memang harus kita terima dan ibu nggak perlu butuh validasi. Karena itu sama sekali nggak ada untungnya ..."
"Kamu tuh masih kecil dan nggak akan ngerti!"
"Aku paham semuanya. Aku tahu kehidupan menyedihkan kita di masa lalu. Tapi sekali lagi maaf. Aku nggak akan bisa kasih uang besar itu sama ibu. Maaf banget ... bukan aku bermaksud jadi anak durhaka. Tapi aku beneran nggak bisa sama sekali kasih uang yang jumlahnya besar banget."
__ADS_1
"Alah dasar pelit! lihat saja sama apa yang bakal ibu lakuin dan ibu yakin kalau kamu akan terkejut sama apa yang ibu lakuin! pokoknya awas kamu. Lihat saja nanti."
"Bu ... Bu? Ibu!"
Annisa menghela napas kasar saat sadar panggilannya di matikan begitu saja. Ia berdecak, khawatir sama ancaman sang ibu.
"Duh .. apa yang bakal ibu lakuin!" seru Annisa sambil gigit jari tanpa sadar. "Apa lagi ibu bukan tipe yang ngancem doang lagi. Dia bakal lakuin semuanya. Ya ampun ... semoga gak ada yang terjadi deh."
Annisa kembali menatap layar ponselnya. Berusaha untuk menghubungi ibunya lagi untuk bernegosiasi. Tapi sayang ibu nya nggak mengangkat sama sekali. Membuat Annisa hanya bisa pasrah dan memilih untuk bersiap untuk jemput anaknya dan datang ke kantor suaminya.
***
Annisa menatap cermin di depannya. Ia akhirnya menghembuskan napas. Menatap aneh sama dirinya yang berdandan seperti ini. Ia mengerutkan keningnya dan menahan air mata yang terus memaksa untuk keluar.
"Selama ini aku udah insecure karena di kelilingi sama Rama dan mas Bram yang luar biasa tampan. Tapi kenapa ibu malah buat insecure aku semakin menjadi."
Annisa menampung pipinya dan menggeleng kecil.
"Aku memang sejelek itu, nggak semenarik itu. Gimana kalau nanti aku datang ke kantor dan yang ada mas Bram malah di ejek karena tahu aku ini istrinya? Siapa yang nyangka kan kalau aku istrinya?"
Annisa termenung sampai dia memikirkan sesuatu yang penting.
"Gimana kalau aku ngaku sebagai pengasuh dari Rama aja? Ya ... nggak ada yang ngerti kan? lagian nggak ada yang peduli sama aku juga kalau aku cuman baby sister dari Rama kan? Aku bakal pakai baju biasa juga dan dengan gini. Mas Bram nggak akan malu karena aku lagi."
Sedang asyik siap-siap tiba-tiba saja ponselnya berdenting. Pikiran Annisa langsung mengarah ke ibunya. Tapi pas melihat layar, nama suaminya langsung terpampang nyata di layar. Langsung saja dia membuka pesan yang terkirim.
/Annisa ... saya baru sadar kalau selama ini nggak pernah belanjain kamu sama sekali. Jadi, kamu pasti lagi pusing pilih baju kan? ini saya udah ngirim orang buat bawa baju ke rumah. Kayaknya .. dia udah sampai deh. Kamu turun ke bawah dan ambil ya. Jangan lupa untuk di pakai! sampai ketemu lagi nanti, Annisa./
Annisa tersenyum tipis membacanya.
"Mas Bram ternyata bisa sweet juga ya. Selama ini aku kira dia cuman bisa diem aja dan nggak bisa bersikap manis. Tapi semua itu terpatahkan karena sikap dia yang bener bener manis."
Tanpa memikirkan apa-apa lagi. Annisa langsung turun ke bawah dan salah satu pelayan memberikan sebuah tas belanjaan. Setelah mengucapkan terima kasih, Annisa kembali ke kamarnya dan membuka tas tersebut.
Matanya terbelalak melihat merek terkenal yang selalu dia lihat di televisi kini ada di depannya. Ia memiringkan wajah tanpa membuka bungkusnya terlebih dulu.
"Ini nggak salah sama sekali?" gumam Annisa pelan
__ADS_1