
Annisa langsung mematikan ponselnya. Ia terus bolak-balik sambil terus gigit jari. Ponselnya kembali berdering. Tapi Annisa langsung mematikannya tanpa melihat siapa yang menelepon.
"Gucci? ya ampun, aku cuma inget kalau mas Bram punya Gucci mahal di rumahnya."
Bayangan Bram yang memarahi dirinya membuat Annisa gigit jari. Ia sangat takut sampai menangis ketakutan.
"Selama ini aku hati-hati banget sama semua barang di rumah mas Bram karena tau semuanya mahal. Tapi kenapa ibu malah nggak bisa hati-hati sih!" kesalnya.
Annisa sampai jongkok dan memeluk kakinya. Kepalanya ia tenggelamkan di lipatan kakinya. Bayangan Bram yang benar benar marah sampai membentak dirinya membuat Annisa bingung.
"Annisa?" panggil seseorang membuat Annisa mendongak
"Mom?" ucapnya lalu langsung bangun dan buru-buru menghapus air matanya yang turun. Ia paksa tersenyum. "Mommy kok ada di luar? di mana Rama?"
"Kamu kenapa nangis?"
Mommy Chika menatap sekitar dan langsung mengajak Annisa untuk duduk di kursi dekat tangga darurat. Ia tuntun Annisa untuk duduk di sampingnya. Lalu Ia menatap wajah menantunya yang masih memerah.
"Kamu ada masalah? jangan bilang di sana Sakilla menyakiti kamu lagi?" tuduh mommy Chika
Annisa menggeleng.
"Terus? kenapa kamu nangis kayak gini?" tanya mommy Chika yang tersirat akan kekhawatiran.
"..."
"Dari tadi mom udah dapat kabar dari suami kamu kalau istrinya itu pulang. Tapi mom tunggu dari tadi, kenapa kamu nggak kunjung datang juga. Ya mom khawatir lah dan mau keluar terus nunggu di bawah, mumpung Rama juga udah tidur siang. Tapi belum turun, mom malah lihat kamu jongkok di dekat lift gitu. Ada yang nyakitin kamu?"
Annisa menatap ragu. Ia menggeleng pelan, nggak mau ngasih tau masalah ini. Karena nanti malah membuat masalah jadi semakin melebar.
"Annisa?"
"Mom ... aku bisa pulang duluan nggak?" tanya Annisa dengan pelan.
"Pulang duluan? kenapa? ada sesuatu di rumah? atau karena kamu nggak sanggup buat ketemu sama Sakilla lagi?" tanya mommy Chika beruntun. "Oh ... apa karena orang tua kamu ya?" tanyanya. "Mom tadi baru ingat kalau orang tua kamu itu masih ada di rumah. Padahal kita ngak ada janji buat nginep. Pasti kamu khawatir ya sama orang tua kamu?"
Annisa mengulum bibirnya takut-takut sambil mengangguk pelan. Di dalam hatinya Annisa sungguh meminta maaf karena sudah berbohong.
"Ya sudah ... dari pada kamu pulang sendiri, kenapa kamu nggak nunggu kami aja? nanti mom bilang sama Bram buat pulang. Nanti malam kita bisa pulang bareng—
"JANGAN!" pekik Annisa tanpa sadar
Mommy Chika menatap bingung.
__ADS_1
"Itu ... ma— maksud Annisa, kasihan Mas Bram," dustanya. "Iya ... kasihan mas Bram. Ini aja mas Bram belum selesai kan? Annisa juga nggak tau kapan selesainya mas Bram ini. Jadi nanti pasti mas Bram capek buat nyetir. Makanya itu, mendingan aku duluan aja yang pulang. Kalian semua itu di sini dulu, santai aja ..."
Mommy Chika mulai curiga mendengar menantunya yang sedikit terbata. "Kan ada supir," lanjutnya yang membuat wajah Annisa semakin panik.
Mommy Chika menggenggam tangan Annisa.
"Ada apa?" tanyanya dengan sangat lembut. "Cerita aja sama mommy. Mommy akan jaga sendiri. Jadi, ada apa? kamu nggak usah bohong kayak tadi."
Annisa spontan menunduk, malu karena sudah ketahuan berbohong.
"Tidak usah malu," ucap mommy Chika seakan tahu isi hati Annisa. "Cerita aja."
"Mommy ... sebelumnya aku minta maaf banget. Aku nggak tau kalau ibu itu bakalan kayak gini. Tapi tadi ibu ngomong ke aku kalau ibu udah pecahin Gucci mas Bram."
Annisa menunduk ketakutan.
"Dan kayaknya Gucci itu pecah. Mom, aku harus apa? nanti mas Bram pasti marah. Soalnya itu kan barang mahal." jujur Annisa. "Aku disuruh nyicil juga nggak apa-apa kok. Tapi aku minta maaf, jangan usir aku karena ini. Aku bakalan lakuin apa pun yang mom atau mas Bram minta buat ganti rugi Gucci yang di pecahin sama ibu aku kok."
"Eh!" seru mommy Chika langsung membawa Annisa ke pelukan. Mommy Chika merasakan tubuh Annisa yang masih sangat gemetaran di pelukannya. "Nggak, nggak bakal ada yang marah. Nanti biar mom yang bilang sama Bram. Dan ibu bakal mastiin kamu nggak di marahin."
"Udah kamu jangan nangis lagi, udah cukup. Sekarang mendingan kita masuk ke dalam dan nenangin diri kamu ya."
"Makasih banyak mom, makasih."
Akhirnya Annisa tiduran dan mommy Chika duduk di pinggiran kasur. Mommy Chika terus mengusap rambut Annisa, memberikan ketenangan perempuan itu dan terus bilang kalau semuanya akan baik-baik saja.
Setelah beberapa menit, menantunya sudah pulas tertidur.
Mommy Chika menatap sendu Annisa yang kelihatan sangat sayu dan menyedihkan.
"Apa yang udah kamu alami, nak? sampai kamu ketakutan banget kayak tadi. Padahal nggak akan ada yang marah sama kamu. Dan kenapa kamu sampai gemetaran kayak tadi? ada yang marah sama kamu atau gimana? ya ampun, mom nggak tega ngeliatnya."
Tidak mau membangunkan Annisa yang baru tertidur. Mommy Chika langsung keluar kamar setelah menyelimuti Annisa. Lalu dia mendatangi kamar satunya dan mengintip cucunya yang masih pulas tertidur.
Ia tersenyum tipis dan kembali menutup pintu kamar lalu duduk di sofa sambil berusaha menghubungi anaknya. Setelah beberapa saat akhirnya panggilannya itu diangkat sama Bram.
/Hallo bu? ada apa? Kenapa ibu nelepon Bram? Annisa udah sampai di sana kan?/
"Aman ... istri kamu baru aja tidur. Tapi bukan itu yang jadi masalah. Tadi ada sedikit kejadian yang buat hati mommy jadi sedikit sakit."
/Ada apa mom? Annisa nggak macam-macam sama mom kan?/
"Istri kamu udah pasti baik sama mok. Tapi ... sebelumnya mom mau nanya kalau semua koleksi Gucci kamu yang ada di rumah itu mahal atau beli di mana?"
__ADS_1
/Apa sih maksudnya mom? Ini Bram lagi serius loh. Kenapa malah nanya Gucci./
"Jawab saja!" paksa mommy Chika.
/Mom tau kan kalau Bram suka koleksi barang antik dan rata-rata Gucci yang di rumah tuh ya antik. Terus juga ada yang hasil dari lelang, cuma ada beberapa di sini. Emang kenapa sih mom?/
Mommy Chika menarik napas dalam.
"Kalau misalnya mommy pecahin salah satu koleksi kamu? kamu bakal marah sama mommy atau sampai membentak mommy nggak?"
/Ya Bram pasti kesal dong mom. Karena Gucci itu juga bukan barang yang murah. Tapi sekedar kesal, nggak mungkin sampai marah dan bentak karena mommy jauh lebih berharga di banding Gucci itu. Memangnya kenapa? mommy pecahin Gucci? eh tapi kapan? mommy kan lagi ada di sini./
"Bukan mom, tapi mertua kamu. Sepertinya mereka berulah di rumah kamu sampai Gucci di rumah kamu pecah—
/APA!/
"Jangan marah dulu. Tadi kamu dengar kalau mom lebih berharga di banding barang itu. Sama dong kayak mertua kamu? Mertua kamu itu sama aja kayak orang tua setelah menikah. Jadi, kamu jangan marah dulu."
/Tapi bu ... mereka cuma bikin Bram kesal dong. Ya ampun, mereka tuh kenapa sih? nggak bisa sekali aja diam. Kenapa sekarang malah barang Bram yang kena. Ini mah kita harus pulang, kalau nggak cepat pulang. Yang ada semua barang Bram yang kena akibatnya./
"Sudah ... tenangin diri kamu. Mom cuma mau bilang kalau tadi istri kamu sampai ketakutan karena masalah ini."
/Annisa?/
"Siapa lagi? tadi mom nemuin dia lagi nangis. Awalnya istri kamu nggak mau ngaku. Tapi setelah mom paksa, dia baru cerita. Dia cuma bilang takut kamu marah inilah itulah, dan kamu harus tau. Badan istri kamu sampai gemetaran pas mom peluk."
/../
"Keliatan banget kalau istri kamu ketakutan. Jadi kamu jangan macam-macam dan malah buat istri kamu makin takut. Udah maafin aja ya ..."
/Ya ampun ... Annisa sampai ketakutan? ya sudah, mom tenang aja. Nanti Bram nggak akan marah. Terus Bram harus apa kalau ketemu sama Annisa? Bram langsung cerita ini aja atau gimana?/
"Jangan ... Pura-pura aja nggak tau. Kalau istri kamu keliatan ketakutan pas lihat kamu. Kamu datengin aja terus dan tenangin dia. Pokoknya temanin dia tanpa singgung masalah ini."
/Iya mom./
"Baru nanti pas pulang, kamu cukup diam dan maafin mereka. Jangan pernah marah. Sungguh mom nggak sanggup kalau lihat istri kamu yang sampai gemeteran kayak tadi."
/Ya sudah ... makasih ya mom atas informasinya./
"Ya sudah, mom tutup ya teleponnya kamu urus lagi dah mantan istri kamu itu."
/Iya .../
__ADS_1