Istri Dadakan

Istri Dadakan
Gengsi


__ADS_3

"Aku baik-baik aja, tapi mas juga baik-baik aja kan? nggak ada yang luka sama sekali. Nggak ada yang kehilangan sesuatu?" tanya Annisa khawatir.


Bram menggeleng dan menepuk kepala Annisa. "Sudah kamu masuk dulu aja. Itu Rama dari tadi sudah ngintip, kayaknya dia takut hampirin kita. Kamu tenangin dia dulu ya. Bilang kalau semuanya udah baik-baik aja," titah Bram sambil menunjuk keberadaan Rama dengan dagunya.


Annisa mengikuti arah pandang Bram dan langsung saja ia bergegas untuk menghampiri anak itu.


Sementara, Bram melangkah pergi. Setelah lumayan jauh dari halaman rumahnya. Ia keluarkan sebatang rokok dan ia hirup lalu menghembuskan napas kasar. Jarang ia merokok seperti ini. Kalau saja pikirannya nggak sekacau ini, Bram pasti nggak akan menyentuh sebatang rokok pun. Karena hanya dengan rokok, dia bisa melupakan sejenak semua masalah yang baru saja terjadi.


"Ya Tuhan ... sebenarnya apa yang terjadi di sini?" gumam Bram sambil menelusuri jalan setapak. Dia menghela napas lagi. Sebelah tangannya yang nggak memegang rokok, dia taruh di kantung celana. Tangan lainnya ia pegang rokok dan menghempaskannya dengan bebas.


"Sakilla ... mas nggak mau percaya sama semua yang mas cari. Tapi kenapa semua mengarah ke kamu? seolah yang ada hanya lah kejujuran omongan Annisa. Tapi ... mas gak bisa menyalahkan kamu begitu saja. Apa lagi ... kita udah bareng-bareng dari lama banget. Jadi, kayak nggak mungkin kalau kamu memang melakukan ini."


"Dan apa alasannya?"


Sekelibat bayangan perkembangan Rama dari kecil membuat Bram mencengkram rokoknya. Nggak peduli dengan api yang masih menyala. Tangannya terbakar, tapi seperti nggak terjadi sesuatu. Bram hanya membuang putung rokok itu. Membiarkan tangannya yang terbakar dan terluka.


"Kalau memang kamu melakukan ini. Kenapa kamu tega?" gumam Bram lagi. "Apa arti cinta yang selama ini selalu kamu serukan ke mas? Dan ... kenapa kamu tega ngelakuin ini semua ke anak kamu? ya ampun Sakilla ... mas nggak habis pikir sama kamu. Apa yang sebenarnya ada di benak kamu."


Bisa dibilang pencarian data sudah mencapai tujuh puluh persen. Bukan karena Sakilla yang tidak hati-hatj. Tetapi karena Bram memiliki banyak uang untuk mencari tahu informasi sedetail apa pun dan semua bukti mengarah ke fakta kalau Sakilla belum tiada sama sekali. Bram hanya tidak memiliki bukti tempat tinggal di mana perempuan itu berada.

__ADS_1


Lagi pula, kalau sampai mendapati informasi tentang tempat tinggal Sakilla. Bram merasa dia nggak sanggup untuk menemui perempuan itu.


"Belasan tahun ... belasan tahun, Sakilla! kita bersama. Mengukir kebahagiaan bersama. Lewatin suka dan duka bersama. Kita sama-sama kuat untuk memiliki seorang anak. Kalau nggak punya rasa cinta yang menggebu. Mas yakin kalau kita nggak akan sanggup untuk terus bersama. Tapi, kenapa malah begini? Kenapa malah kamu yang ninggalin mas setelah mendapatkan apa yang kamu mau?"


Bram menghembuskan napas kasar dan semakin kuat mengepalkan tangannya. Mengabaikan rasa perih akibat luka yang belum terobati itu.


"Sakilla ... huft." Bram sudah tidak sanggup lagi untuk berkata seperti apa. Semuanya beneran kacau dan tak terkendali sama sekali. Sampai Bram nggak tahu dalam bertemu dengan Annisa menjadi sebuah anugerah atau musibah.


Anugerah karena dia akhirnya mengetahui perbuatan jahat istrinya selama ini yang udah mengelabui dirinya sampai membohongi banyak orang. Musibah karena merasakan rasa sakit hati yang begitu dalam karena masalah ini.


"Tapi ... ini mah yakin banget sih kalau memang ibunya Sakilla tau sesuatu. Dia nggak mungkin diam saja. Gue yakin kalau dia tahu tentang keberadaan anaknya atau memang sekeluarga yang berusaha menyembunyikan fakta ini."


Langkah Bram terhenti dan dia menoleh, melihat ke arah rumahnya. Terbayang di sana sedang ada Annisa yang berusaha menenangkan anaknya. Tanpa sadar laki-laki itu tersenyum sangat tipis sampai dia nggak sadar, kalau dirinya memang sedang tersenyum atau enggak.


Sayang, gengsi yang ada di benak laki-laki itu. Membuat Bram nggak pernah mengatakannya. Walau setiap hari rasanya dia selalu ingin mengatakan kalimat indah itu.


Sayang, semuanya terhalang dengan kata gengsi.


***

__ADS_1


Sementara itu,


Di mansion Bram, Annisa mendekati Rama dengan hati-hati. Anak itu juga memilih diam karena nggak tahu harus bilang dan mengatakan apa. Di umurnya yang masih belia dan gak pernah melihat kekerasan di depan matanya. Kini Rama di buat terkejut karena melihat orang yang dia sayang malah di tampar sama orang yang jelas jelas sangat dia kenal.


"Rama ...," panggil Annisa dengan pelan sambil duduk di hadapan anak itu. "Kamu kenapa? kenapa melamun kayak gini?"


Rama menunduk, diam.


"Katanya kalau ada apa-apa mau cerita sama tante. Tapi, kenapa sekarang kamu malah diem kayak gini? kamu gak mau cerita sama tante? kamu nggak percaya ya sama tante lagi?" gumam Annisa di buat sedih. "Ah ... kalau gini tante lagi sedih banget. Rasanya tante nggak tahu harus bilang apa sama kamu. Tanta sedih ..."


"Tante, jangan nangis."


Tangan mungil itu menggapai pipi Annisa dan mengusap pelan membuat Annisa tersenyum sangat tipis.


"Bukannya aku nggak mau jawab. Aku kaget, tante. Aku nggak pernah ngeliat orang yang ditampar di depan mata aku sendiri," ucapnya dengan suara gemetar.


Annisa langsung di buat panik mendengar itu. "Eh ... jangan nangis. Ini tante nggak apa-apa, kamu jangan nangis. Ya ampun," seru Annisa yang panik sendiri.


Rama menggeleng dan mengusap pipi Annisa lagi. "Tante bohong ... ini tangan tante sama pipi tante merah, ada bekas lukanya lagi. Huaaaa ... tante bohong. Aku benci sama nenek. Nenek jahat sama tante."

__ADS_1


Annisa yang pikirannya kalut, nggak bisa apa-apa selain panik dan malah ikut menangis. Dua orang yang saling menguatkan tadi kini malah menangis. Membuat laki-laki yang sejak tadi berada di luar untuk menenangkan diri kini berlari panik karena mendengar suara tangisan yang sangat dia ketahui.


"Ada apa ini?!"


__ADS_2