
“Buatkan saya sarapan ....”
Annisa mengerjap. Tatapannya memicing. Dia nggak salah dengar kan? Biasanya Bram hanya mengucapkan sepatah kata saja setiap harinya. Tapi sejak tadi pagi, Bram terus mengatakan banyak ucapan omong kosong. Tentu saja Annisa belum terbiasa dan masih sangat terkejut.
“Tuan nggak salah ngomong? Bukannya tuan nggak pernah mau makan masakan saya?” seru Annisa yang berusaha mengingatkan Bram akan omongannya di masa lalu
“Saya nggak pernah ngomong gitu,” elak Bram sambil menggeleng kecil.
“Lah!” Annisa menatap tak terima. “Aku inget kok,” cerocosnya. “Waktu itu tuan bilang sama aku, kalau nggak perlu repot masak ke dapur. Karena udah ada mbak yang ngurus makanan. Jadi, sama aja tuan nggak mau aku ngurus makanannya tuan kan? Jadi ... pagi ini aja aku cuman masak makanan Rama aja ...”
“Rama dibuatkan tapi saya tidak?”
“Ish tuan!” seru Annisa. “Jangan buat saya seolah jadi orang jahat kayak gini,” gumam Annisa. “Udah dari beberapa hari yang lalu, aku selalu gini. Tapi kenapa sekarang tuan baru protes deh? Tuan aneh ... udahlah, hari ini aku lagi nggak masak makanan yang banyak. Jadi, tuan nggak bisa minta apa-apa.”
“Mana bisa begitu ...”
Annisa mendesis, menatap tajam mata Bram. Tapi Bram juga nggak mau kalah dan menatap balik Annisa dengan wajah datar. Keduanya terus begitu sampai Rama yang masih berdiri di ujung anak tangga, mengusap kepalanya. Bingung kenapa ayah sama tantenya malah saling tatap-tatapan kayak gitu.
Rama memiringkan wajahnya, “tante .... ayah ... kalian berantem?” ucapnya lalu melangkah turun dan mendekati dua orang dewasa di sana. “Ih ... nggak boleh berantem tau,” ucap anak itu membuat Annisa sama Bram langsung mengalihkan pandangan ke arah lain. Nggak saling menatap lagi. “Kata teteh juga ... kita tuh nggak boleh berantem. Soalnya cuman buat hubungan jadi rusak aja. Udah sana, tante sama ayah baikan aja.”
“Kami nggak berantem,” urung Bram sambil menggeleng
“Ah ... tante sama ayah mah bohong,” jawab Rama. “Cepet baikan, kalau nggak nanti aku marah!”
Annisa terbelalak dan langsung menggeleng, “jangan marah dong, nak ... iya-iya, ini tante sama ayah kamu bakal saling minta maaf,” ucap Annisa lalu menyenggol kaki Bram dengan kakinya, meminta laki-laki itu untuk berpura-pura saja.
__ADS_1
Tapi dasarnya laki-laki yang memang nggak peka, Bram malah duduk dengan santai dan menaikkan salah satu kakinya menumpu kaki lainnya. “Nggak mau ... orang ayah sama tante kamu baik-baik aja kok. Nggak ada yang berantem. Jadi, buat apa ayah minta maaf sama tante kamu itu? Nggak ... ayah nggak mau.”
“Ayah,” panggil Rama dengan memelas. “Kata ayah, walaupun kita salah maupun enggak. Kita harus minta maaf aja sama orang lain. Nggak baik kalau kita marahan. Tapi, kenapa sekarang ayah malah nggak contohin apa yang ayah omongin.”
Annisa diam-diam menjulurkan lidah kepada Bram, membuat laki-laki itu melotot balik.
“Ayah ... ini sama aja aku nggak boleh percaya lagi sama ayah. Ayah bohong. Kita nggak usah minta maaf sama orang lain. Kita harus jadi orang dendaman aja. Biar—
“Iya .... iya ..., ini ayah minta maaf.” Bram pasrah, ia nggak bisa apa-apa melainkan menuruti perintah anaknya. Dengan malas, ia memandang Annisa yang berdiri di belakang tubuh Rama. “Saya minta maaf ...”
“Eh ayah!” sela Rama lagi. “Ayah nggak pernah ajarin aku minta maaf dengan ketus kayak gitu,” seru Rama membuat Bram mengerang. Kenapa sekarang Rama malah banyak mau kayak gini? Dia jadi menyesal sudah mengatakan banyak hal sama Rama. “Ayah harus minta maaf yang lembut sama tante. Terus ayah juga harus peluk tante. Itu yang ayah ajarin ke aku kalau lagi minta maaf. Jadi ... ulang.”
Bram menatap kesal, tapi benar-benar nggak bisa apa-apa.
Diam-diam Annisa memperhatikan itu semua dan terkikik melihat Bram yang biasanya angkuh malah tak berdaya seperti ini di depan anaknya. Bram menatap memelas sama Rama, tapi Rama menggeleng dan terus meminta ayahnya untuk melakukan apa yang dia mau.
Rama berbalik dan berkacak pinggang.
“Mana boleh kayak gitu,” balas Rama dengan kesal. “Tante juga harus maafin ayah. Tapi tunggu ayah minta maaf duluan. Soalnya pasti ayah kan yang udah jahat sama tante.”
“Kamu kok nuduh ayah kayak gitu?” sela Bram dengan pandangan kecewa.
“Karena memang cuman ayah yang sering buat tante nangis,” jawab Rama sambil merengut kecil. “Aku tuh sering liat tau yah, kalau tante sering nangis dan manggil kaya ayah. Jadi, pasti ayah kan yang udah buat tante nangis.”
Annisa terperangah saat tahu kalau Rama sering melihat dirinya yang menangis. Kini dia hanya menunduk. Nggak berani menatap mata Bram sama sekali. Takut kalau Bram bakalan lebih marah sama dia. Tapi setelah beberapa saat Annisa tak mendengar suara. Annisa malah terkejut saat tubuhnya direngkuh dengan seseorang.
__ADS_1
Ia mendongak kecil dan melihat Bram memeluknya. Sebuah elusan di punggung membuat Annisa menghela napas kecil. Rasanya sangat terkejut mendapat sebuah pelukan hangat seperti ini.
“Tuan ...”
“Maaf ... saya sudah memikirkan semalaman dan saya sadar kalau sudah memberatkan hidup kamu. Sampai kamu sering diam-diam menangis. Jadi, kali ini saya mau minta maaf sama kamu,” bisik Bram masih memeluk Annisa. “Maafkan saya ...”
“Hmm ...”
“Bagaimana kalau kita memulai semuanya dari awal? Saya akan berusaha menjadi suami yang baik setelah ini. Tapi tolong ajari saya. Beri tahu kalau saya udah jahat sama kamu. Karena saya tidak tahu tepatnya kapan saya sudah melukai kamu. Jadi ... tolong jujur setelah ini. bagaimana? Kamu mau? Kita memulai semuanya dari awal ...”
Bram melepas pelukan dan menatap mata Annisa. Tangannya menggenggam tangan Annisa, seolah kedua orang dewasa itu lupa akan keberadaan Rama yang masih berdiri di sana.
“Bagaimana?” tanya Bram lagi.
Jujur, Annisa benar-benar tersentuh mendengar semua ini. Sepertinya nggak ada yang salah kalau mereka memang mau belajar untuk berumah tangga kan. Annisa menggigit bibir bawahnya, benar-benar bingung akan semua ini. Sampai saat Annisa menunduk, ia melihat tatapan berbinar Rama membuatnya spontan langsung mengangguk.
“Terima kasih Annisa ... saya akan perlakukan kamu dengan lebih baik lagi dan bakal belajar jadi suami yang baik buat kamu.”
“Aku juga berterima kasih.”
Annisa yang terlampau malu langsung berlutut dan mengusap rambut Rama. “Nah ... sekarang tante sama ayahmu udah saling meminta maaf kan? Gimana kalau sekarang kita makan.”
“YIPPIE! Aku mau ...”
Annisa menggandeng tangan Rama, mengajaknya ke dapur. Sepertinya dia lupa ada seorang laki-laki dewasa yang juga mau ditanya. Kini Bram merengut sambil memandang dua orang itu yang kelihatan sangat dekat.
__ADS_1
“Saya juga mau makan Annisa!” rengeknya.