
Setelah ditampar secara tiba-tiba seorang pria cukup berumur datang dan mengajak Bram dan perempuan itu untuk berdiskusi. Mereka duduk di kursi sudut ruangan dan seketika Bram baru mengetahui kalau dua orang itu adalah adik dari mertuanya. Alias bude dan pakde dari pihak Annisa.
"Maaf kalau istri saya terkesan nggak sopan sama kamu. Tapi di sini saya mau menjelaskan kalau kami mengaku keberatan melihat kedatangan kamu di sini dan dari siapa kamu mendapat informasi tentang kami? kenapa kamu bisa sampai di sini?"
"Maksudnya?" bingung Bram.
Bram tidak mengerti. Tatapan mereka berdua seolah menghujat dirinya dan ia tidak tahu apa yang salah darinya. Ia hanya mau bertemu sama Annisa bukan yang lain.
"Bude dan pakde sendiri sebenarnya ada apa? kenapa kalian kelihatan nggak suka sama saya? ah ..."
Bram menunduk sopan. "Mohon maaf sebelumnya ... Saya belum mengenalkan diri secara resmi ya? saya suami Annisa dan kami baru menikah beberapa bulan yang lalu. Maaf kalau saya nggak mengundang bude dan pakde. Saya tidak ada maksud seperti itu. Kedatangan saya ke sini karena saya mendapat kabar kalau Annisa sedang ada di sini dan saya mau menemuinya. Jadi, bolehkah saya menemui Annisa? karena anak saya alias anak sambung Annisa sudah sangat merindukannya."
Bude menoleh pada pakde. Ia menggeleng pelan.
"Kalau kedatangan kamu cuma untuk menyakiti Annisa. Pakde harap kamu pergi saja."
__ADS_1
Dituduh seperti itu membuat Bram langsung menggeleng.
"Saya nggak ada niat buruk sama sekali kok pakde. Saya sungguh khawatir sama keadaan Annisa karena beberapa hari belakangan saya tidak mendapat kabar sama sekali."
Bude terlihat gelisah. "Kalau memang nggak ada niat buruk untuk apa kamu mencarinya setelah kamu menyakitinya," ucapnya mendesis.
Hanya terdengar desisan angin sangat kecil tapi Bram jelas mendengar omongan budenya itu. Ia menatap bude dan pakde di hadapannya itu. Berusaha mencari jawaban, kenapa mereka berdua menatap benci sekali ke arahnya.
"Ini kedatangan saya bermaksud baik kok. Tapi kenapa bude dan pakde seakan menatap benci ke saya?"
"Gimana nggak benci kalau kamu secara nggak langsung yang buat Annisa terbaring di rumah sakit!"
"Mau apa kamu? urusan dengan kita belum selesai."
"Saya nggak bisa tenang. Saya mau ketemu sama Annisa. Saya mau tau kondisinya. Saya nggak tau kalau Annisa itu lagi sakit. Ya ampun ... saya mohon pakde, bude .. kalau saya ada salah nanti kita bicarakan. Tapi saya mau ketemu sama Annisa dulu."
__ADS_1
"Kamu ceraikan saja Annisa."
Tubuh Bram sampai bergetar mendengar hal tersebut. Dia menoleh dan menatap penuh keterkejutan lalu menggeleng.
"Ini masalahnya ada apa ya? kenapa bude dan pakde seolah benci sekali sama saya? kalau ada salah tolong jelaskan. Jangan diam saja."
"Saya mohon ..."
***
"Annisa hamil ... kandungannya masih sangat lemah tapi bukannya istirahat, dia malah dipusingkan dengan pesan yang kamu kirim. Karena itu juga kami marah besar sama kamu. Menjadi suami kok nggak ada tanggung jawabnya dan malah menyakiti hati istri."
Bram mengerutkan keningnya.
"Maksudnya gimana ya? soalnya pesan saya sama Annisa sudah lama nggak dibaca dan kenapa tiba-tiba jadi omongin pesan itu?"
__ADS_1
Bude menatap bingung.
"Bukannya kamu ngirim pesan ke Annisa kalau udah milih mantan istri kamu itu dan nggak mau lanjutin hubungan sama Annisa?"