
Pagi menyingsing di kediaman Bram dan juga Annisa. Suara kicau burung terdengar membuat Annisa yang sejak tadi diam di depan cermin langsung tersadar dari lamunan nya dan menghela napas lelah.
Ia menoleh, menatap sang suami yang masih terlelap lantaran semalam Annisa tidak bisa tidur, mengeluh punggung nya yang terasa sakit. Jadi lah Bram sengaja begadang untuk menemani Annisa yang tak bisa tidur sambil terus memijat pelan pinggul perempuan itu. Mungkin baru tiga jam yang lalu Bram bisa tidur. Jadi Annisa tak tega kalau harus membangunkan Bram.
"Udah lah, mas Bram biarin tidur dulu aja. Dari pada pas nanti siang waktu mau pergi ketemu mbak Sakilla malah jadi ngantuk. Jadi, mending istirahat aja dulu."
Dengan perutnya yang besar, Annisa mendatangi tempat tidur dan membenarkan letak selimut yang berantakan dengan posisi yang sedikit sulit. Ia juga menyempatkan diri untuk mengusap kepala sang suami sebelum meninggalkan kamar itu dan pergi menuju kamar Rama.
***
"Selamat pagi anak mamah."
Annisa memberi kecupan mesra pada Rama yang baru bangun. Dia mengusap kotoran di mata sang anak dan mengusap rambutnya. Rama terlihat sangat lucu kan menggemaskan melihat wajah anaknya yang bengkak.
"Gimana, kemaren sama ayah? seru banget ya. Sampai lelap banget tidurnya dari kemaren malam. Mamah juga gak tega banguninnya."
__ADS_1
Rama mengangguk sembari mengusapkan wajahnya di ceruk leher sang mamah.
"Gimana kabar mamah? dedek baik-baik aja kan? maaf ya mah kemaren aku pergi sama ayah lama banget. Jadi gak bisa makan malem sama mamah."
Annisa menggeleng.
"Enggak masalah kok. Memang ini kan yang kamu mau? lagian udah lama banget mamah sama ayah gak habisin waktu berdua sama kamu. Jadi mamah harap kemaren kamu puas maen sama ayah. Gimana? seru kan maen berdua sama ayah? hampir seharian gitu loh."
Rama mengangguk cepat.
"Kenapa tuh?"
Rama menggeleng lagi.
"Ih mulai main bohong ya sama mamah."
__ADS_1
Rama menelan saliva. Mencari jawaban yang lain. "Eh iya mah, hari ini ya aku ketemu tante Sakilla nya?" tanya Rama berusaha mengalihkan pembicaraan mereka. "Mamah bener gak apa-apa kalau aku ketemu sama mamah? aku beneran gak bakal ke sana kalau mamah sendiri gak mau."
Annisa menggeleng, menangkup pipi buah hatinya itu.
"Pasti kamu udah denger alesannya dari ayah kan? ini mamah sendiri yang mau kok dan mamah nggak masalah kalau kamu ketemu sama tante Sakilla asal mamah masih bisa awasin kamu. Apalagi pertemuan ini juga kan demi kebaikan kamu ke depannya. Jadi, mamah beneran gak masalah sama sekali."
Rama termenung.
"Harusnya mamah yang nanya sama kamu. Kamu beneran gak masalah ketemu lagi sama bunda kandung kamu. Setelah yang mamah tau, pertemuan pertama kalian tuh membawa pengalaman buruk bagi kamu?"
Awalnya Rama diam sampai sebuah senyuman terlihat membuat jantung Annisa seakan merosot dan merasa lega.
"Gak masalah!" Annisa bersyukur di dalam hati. "Toh benar kata mamah sama ayah. Ini juga demi kebaikan aku. Aku cukup dengerin permintaan tante Sakilla dan maafin kan? jadi aku mau ketemu! asal sama mamah dan ayah."
Annisa mengangguk.
__ADS_1
"Pasti, mamah sama ayah pasti selalu ada di samping kamu." Annisa berjanji