
Sejak kepulangan dari kantor, Annisa merasa kalau suaminya sedikit lebih beda. Bram itu jauh lebih diam ketimbang biasanya. Oh, jangan lupakan wajah menegas suaminya itu yang membuat Annisa sedikit sungkan. Lantaran Annisa takut kalau suaminya akan marah jika dia bertanya sesuatu. Maka dari itu, Annisa segan untuk bertanya dan hanya memilih diam saja. Karena perempuan itu merasa, suaminya memang butuh waktu sendiri.
Tapi, semakin malam rasanya perempuan itu mulai khawatir. Ditambah sejak tadi mas Bram belum ada makan sama sekali. Hanya nanti dan entar saja yang mas Bram itu lontarkan. Seribu sayang ... Annisa masih belum bisa membujuk dan berakhir membiarkan suaminya itu berdiam di ruang kerjanya.
"Mamah ... ayah kenapa?"
Annisa yang sedang menyelimuti Rama langsung terhenyak dan terdiam. Dengan ragu, ia menggeleng. Karena Annisa juga nggak tahu apa yang sedang di alami sama suaminya itu.
Biasanya ... saat malam tiba dan waktu tidur Rama tiba, Bram akan ikut masuk dan mereka berdua akan bersama menemani Rama sampai anak itu memejamkan mata. Banyak hal menyenangkan yang mereka lakukan dan saat semuanya lenyap, hati Annisa terasa hampa.
Tidak, dia benar-benar sudah nyaman sama semua aktivitas yang sering mereka lakukan itu.
Baru saja kemarin dia menyukai segala aktivitas bersama mereka. Tapi, kenapa sekarang malah kayak gini?
"Mah ... kenapa mamah diam aja? Ayah marah sama Rama? Apa Rama ada salah?" tunjuk Rama pada dirinya sendiri itu. "Tapi aku nggak nakal kok. Aku nggak bentak mamah atau ayah. Aku main sesuai jamnya. Aku ikut les. Aku nggak bikin ayah marah kan?"
Annisa tersenyum berusaha menenangkan anak itu.
"Tidak, nak ... sepertinya ayah Bram lagi ada masalah di kantor. Kamu nggak perlu khawatir ya. Nanti biar mamah yang bicara sama ayah kamu," jelas Annisa dengan suara yang sangat menenangkan, hingga Rama merasa jauh lebih baik dan mengangguk. "Kamu cuma perlu ingat kalau hal ini bukan salah kamu sama sekali. Jadi, kamu nggak perlu tuh ngerasa bersalah."
__ADS_1
Rama akhirnya mengangguk.
"Tapi ayah nggak lama kan diemnya? Rama nggak suka lihat ayah yang tadi. Aku lebih suka kalau ayah banyak ngobrol. Rama janji deh nggak bakalan bilang ayah cerewet lagi kalau ayah balik kayak biasa."
Annisa terkekeh.
Memang ... setelah aura dingin Bram itu mencair, Annisa jadi sadar kalau suaminya itu benar-benar cerewet. Segala hal di bicarakan, hal kecil saja di tanyakan. Sampai Annisa hanya bisa menggeleng kepala saja.
Tapi, sungguh. Itu malah menjadi hal lucu bagi Annisa.
"Hahaha ... nanti mamah bilang ke ayah ya. Biar kalau ayah ngomong terus, kamu nggak boleh ngatain ayah lagi."
Ada-ada saja ...
"Sudah ... nggak usah ngomongin ini lagi. Mamah janji kalau besok pas kamu bangun, ayah Bram udah kayak biasa lagi. Jadi, mendingan kamu tidur."
"Temenin ya mah ..."
Annisa mengangguk. "Biasanya juga begitu kan? Udah tidur, udah malem," tambah Annisa lagi dengan cepat.
__ADS_1
Perempuan itu kembali merapihkan selimut yang tadi belum rapih. Ia usap kepala anaknya sembari sesekali menepuk lembut perut anak itu. Suasana yang sepi membuat Rama jadi menguap. Rama terus menatapi Annisa sampai mata yang sejak tadi terjaga itu mulai memejamkan matam.
Annisa tersenyum simpul melihat Rama yang sudah tidur.
Dengan perlahan ia mengambil kecupan di kening Rama, "mamah sayang sama kamu, semoga mimpi yang indah tampan," gumamnya pelan sebelum keluar dari kamar sang anak.
Begitu keluar, suasana rumah yang sepi membuat Annisa menghela napas. Annisa memandang ruang kerja suaminya yang masih menyala. Tanda masih ada orang di dalam sana.
Akhirnya setelah perdebatan dalam batinnya, Annisa turun kembali ke dapur. Ia membuatkan wedang jahe hangat untuk Bram.
"Semoga aja mas Bram suka, soalnya setau aku. Kalau minum yang hangat, pasti badan juga jauh lebih rileks. Jadi, aku harap nanti bisa bicara dari mata ke mati dan hati ke hati tentang masalah yang dipendam sama mas Bram."
Setelah selesai, Annisa kembali ke atas dengan segelas wedang jahe hangat yang masih hangat di lengannya. Ia berdiri beberapa menit di depan ruangan kerja Bram. Sampai akhirnya Annisa menguatkan diri dan mengetuk pintu itu.
"Mas ... ini aku."
"Masuk," suara tegas suaminya mengudara.
Membuat Annisa menarik napas dalam-dalam dan akhirnya masuk. Begitu masuk ia hanya melihat suaminya yang sedang duduk di kursi kebesarannya dan sedang menatap kosong ke satu arah.
__ADS_1
"Mas?"