Istri Dadakan

Istri Dadakan
Bujukan Bram


__ADS_3

Semua keinginan Rama sudah terpenuhi. Makan malam juga sudah terlewati, kini Bram dan Rama sedang berdiam di dalam mobil tanpa melakukan apa-apa. Kecuali Bram yang sedang memikirkan kata supaya anaknya itu tidak malah marah dan setuju akan hal ini.


"Ayah?" panggil Rama memecah lamunan Bram. "Ayah kenapa? kok ayah melamun terus? ayok kita pulang! ini udah malem. Nanti mamah nyariin loh."


"Kamu mau ketemu sama bunda Sakilla lagi gak?" todong Bram mengabaikan pertanyaan sang anak.


Rama terhenyak dan terdiam.


"Kenapa ayah ngomong gini lagi? ayah mah ... nanti mamah pergi lagi kayak waktu itu? aku nggak mau! sampai kapan pun, aku nggak akan pernah mau ketemu sama tante itu lagi."


"Tapi ini ide dari mamah kamu."


Dan Rama spontan diam lagi. Menatap ayahnya dan memastikan semua itu benar. Anggukan dari Bram membuat Rama sedikit kecewa. Bahunya melemas dan ia menyandarkan tubuhnya di kursi mobil.


"Jangan marah sama mamah kamu, ada alasan kenapa mamah kamu minta buat begini."

__ADS_1


Rama berbalik. "Apa?"


Bram menjelaskan alasan Annisa melakukan ini. "Ayah tau kalau kamu mungkin nggak terima sama usul ayah atau mamah. Ayah juga tau kalau kejadian kemarin buat kamu jadi benci sama mamah kandung kamu sendiri. Tapi jujur aja, benar kata mamah kamu kalau nggak selamanya kamu hidup dengan rasa dendam."


"..."


"Kamu pernah bilang kan gak mau ketemu lagi sama bunda kamu itu? ya udah, ayah janji ini pertemuan terakhir kalian. Kamu tinggal memaafkan saja apa yang bunda kamu bilang nanti dan setelahnya, kamu benar-benar bebas."


"..."


"Kamu juga gak akan hidup dengan penuh rasa bersalah lagi. Ayah jamin. Ini salah satu jalan yang buat hidup kita jadi jauh lebih tentram. Kamu gak usah khawatir sama sekali karena ayah janji nanti bundamu itu nggak akan macam-macam lagi kayak waktu itu."


"Tapi ini beneran permintaan mamah kan?" tanya Rama memastikan.


"Iya sayang." Bram mengangguk. "Nanti habis pulang kita tanya sendiri aja ke mamah. Gimana?"

__ADS_1


"Iya deh."


Melihat anaknya yang masih lemas, Bram tersenyum. "Sini, mau ayah peluk?" Rama berdeham gemas. Membuat Bram terkekeh dan langsung mengangkat anaknya dan membawa Rama ke pangkuannya sambil memeluk dirinya erat.


"Gak apa-apa. Anggap aja ini latihan hidup. Kamu tahu kan kalau nggak ada yang tahu dengan jalan hidup ke depannya. Jadi ayah harap ini salah satu pembelajaran buat kamu kalau kamu harus bisa melewati berbagai masalah di hidup kamu. Oke?"


Rama mengangguk kecil.


"Anak ayah udah hebat pokoknya!" Mengelus punggung Rama yang masih terasa kosong. "Kemarin hubungan kamu sama dia belum baik kan? sekarang kamu perbaiki deh. Jangan simpan rasa dendam itu lagi. Cukup maafkan dan lupakan semua perbuatan buruknya. Oke?"


Rama melepas pelukan dan mendongak.


"Tante itu nggak bakal jelekin mamah lagi kan?"


"Enggak, kalau pun iya nanti ayah langsung marah. Ayah bakalan tetep ada di samping kamu. Pokoknya tenang aja, kamu cukup ketemuan aja dan sisanya biar ayah yang urus. Oke?"

__ADS_1


"Iya ayah." Rama hanya bisa pasrah saja.


Bram tersenyum bangga menatap sang anak yang sudah bisa menahan egonya. Ia mengecup puncak kepala Rama dengan penuh kasih sayang. "Anak ayah hebat! pokoknya kamu yang terbaik."


__ADS_2