Istri Dadakan

Istri Dadakan
Kisah Masa Itu


__ADS_3

“Sepertinya orang tua kamu sudah datang.”


Tubuh perempuan itu terhenyak. Annisa sigap berdiri di depan suaminya, sedikit mendongak untuk menatap langsung wajah suaminya itu.


"Ka— kamu kenapa?"


Annisa menarik napas lama. "Mas, sebenarnya aku nggak paham alasan kamu undang orang tua aku. Tapi makasih banget ya, mungkin ini alasan kamu karena udah khawatir banget sama aku dan sayangnya juga waktu nggak bisa di ulang sama sekali. Jadi, nggak mungkin kalau orang tua aku balik ke rumah."


"Bentar ... sebenarnya kenapa kamu nggak suka kalau ibu sama bapak kamu itu datang?" tanya Bram sambil megang bahu Annisa. "Bukannya ... setiap anak pasti seneng ya kalau orang tua sampai turun tangan ke hal kecil kayak gini? Apa lagi kak Namira juga kakak kamu kan? Yang artinya dia anak dari ibu kamu. Tapi kenapa malah kayak gini?"


Annisa mengingat ke belakang lagi. Masalah ibunya yang selalu saja menyalahkan kakaknya membuat dia menarik napas dalam.


"Singkat cerita ... dari kecil ibu sama bapak selalu bangga sama kak Namira. Mungkin karena kak Namira terlahir lebih cantik di banding aku. Kak Namira lebih mendapat segala nya di banding. Dia lebih gampang mendapatkan apa yang dia mau, di banding aku yang harus memperjuangkan semua ini sendiri."


"..."


"Walau gitu kak Namira nggak pernah jahat kok sama aku. Kita tetap punya hubungan yang baik. Semua ini hanya sekedar di hubungan ibu sama bapak aja yang beda-bedain kita. Dan mungkin karena ini juga ibu sama bapak udah punya banyak harapan sama kak Namira. Tapi ... ternyata kak Namira malah mengecewakan mereka. Mungkin karena ini juga mereka kecewa berat sama kak Namira."


"Tentang hubungan kak Namira sama Sakilla?" tanya Bram untuk sekedar memastikan.


Annisa mengangguk.


"Semua begitu cepat terjadi waktu itu. Dari kak Namira yang jujur membuat ibu sama bapak marah. Dari kak Namira malah membentak mereka buat ibu sama bapak bentak balik. Suasana benar-benar hectic waktu itu dan aku nggak bisa apa-apa selain diam. Karena terkejut sama semua ini. Aku berusaha mempelajari semua yang terjadi. Sampai—


Suaranya terhenti. Annisa mengernyit, mengingat malam kelam itu. Saat kakaknya itu malah membawa Sakilla ke dalam rumahnya. Dan untuk memperlihatkan omongannya, ia mencium Sakilla tepat di bibir dan depan semua keluarga yang ada di sana.


/Sampai kapan pun aku akan milih Sakilla! Terserah kalian mau marah sama aku atau gimana. Tapi aku akan angkat kaki dari rumah ini kalau kalian nggak bisa nerima pilihan aku yang satu ini!/


/Yowes ... PERGI! Kami malu punya anak seperti kamu. Cepat keluar dari rumah ini dan selangkah saja kamu itu pergi dari rumah ini. Sama saja seperti kamu yang akan terhapus dari kartu keluarga kami!/


/Namira nggak peduli sama sekali! Ibu sama bapak bakalan nyesel karena udah perlakuin Namira kayak gini! Lagian lebih bagus aku pergi dari rumah ini. Rumah apaan yang sehidup hidupnya selalu susah terus. Buat makan aja susah. Apalagi buat jajan. Kalian yang harusnya malu karena nggak bisa kasih kehidupan yang baik buat anaknya!/


Annisa saat itu benar-benar syok dengan omongan kakaknya yang menjadi sangat kasar kayak gini.


/Ka— kamu


/Kenapa? omongan Namira benar kan? Lagian tinggal setujuin hubungan aku sama teh Sakilla. Pasti hidup kalian bakal makmur. Bahkan Teh Sakilla aja yang baru di hidup aku, Bisa kasih semuanya di bandung kalian yang bisanya cuman ngeluh doang. Memangnya kalian kira aku nggak muak karena hidup kayak gini? AKU MUAK! Makan cuman tempe sama tahu doang. Nggak bisa nonton TV. Tiap hari nya harus panas-panasan untuk dapat uang yang nggak seberapa itu. Belum harus denger ibu sama bapak yang ribut terus karena nggak ada uang. Alah ... capek aku hidup di keluarga kayak gini. Memang bener, mendingan aku angkat kaki dari rumah butut ini dan pergi aja. Hidup aku bakalan lebih terjamin./


/PERGI! SANA PERGI. Rumah ini nggak akan pernah menerima kamu lagi. Lebih baik ibu hidup miskin dari pada dapat tatapan buruk dari semua orang karena kamu. Dasar memalukan, di dunia ini masih banyak laki-laki yang baik dan di antara semuanya kamu malah milih perempuan yang nggak tahu malu ini?/


/Terserah apa kata ibu! NAMIRA NGGAK PEDULI./


Semuanya begitu cepat. Tapi Annisa mengingat jika malam itu menjadi malam terakhir kakaknya ada di rumah dan sebelum benar-benar pergi. Kak Namira menyempatkan diri untuk melempar uang di depan mereka. Annisa masih sangat mengingat bagaimana sang kakak yang rendahin mereka. Hingga orang tuanya yang memiliki sifat keras dan Annisa nggak pernah melihat mereka menangis.


Kini menangis sambil berlutut, sepertinya sangat sakit hati melihat perilaku anak sulungnya yang seperti ini.


Kehidupan mereka terlihat sangat suram untuk beberapa hari selanjutnya. Ibunya yang memilih diam dan bapaknya yang terus saja menghela napas kasar. Annisa yang berada di antara mereka. Benar-benar sangat kesulitan. Dirinya itu harus bisa menyesuaikan diri sama emosi mereka yang masih sangat menggebu.


Bahkan harus dirinya yang menjadi sasaran amukan mereka. Dia yang dibentak. Dia yang dilempar barang. Dia yang harus mengurus semuanya. Dia yang di salahkan dan masih banyak lagi perbuatan yang membuat Annisa berpikir kalau dia turut membenci sang kakak karena masalah ini. Walau saat itu dirinya maish terus berusaha memikirkan semua yang terjadi.

__ADS_1


Karena, ini semua terlampau aneh.


Sampai dua bulan setelah mereka mulai hidup lebih tenang. Tak ada lagi tuh tangisan orang tuanya yang membuat Annisa jadi bingung. Nggak ada lagi amarah mereka yang buat Annisa harus elus dada.


Hanya saja, sejak saat itu Annisa nggak lagi merasakan kehangatan di rumahnya. Yang ada di hanya terus bersabar sama semua yang terjadi di sini. Karena suasana rumah nya benar-benar berubah menjadi muram dan sendu.


Sampai ...


Saat Annisa pulang mencari kerjaan. Dia harus di hadapi sama amukan orang tuanya lagi yang mengatakan Namira memiliki hutang dengan jumlah yang sangat besar dan menjaminkan mereka untuk membayar hutangnya. Jangan lupakan sama bunga yang begitu besar. Bahkan untuk menggadaikan rumah mereka yang buluk saja. Rasanya itu semua nggak cukup untuk membayarnya.


Dan dari situ, orang tua Annisa benar-benar bersumpah untuk membenci anak sulung mereka. Semua barang Namira di buang dari rumah itu. Dan tentu aja mereka menyuruh Annisa memikirkan semua hutang itu. Mereka membebankan dirinya yang bahkan dia bingung mencari uang untuk sekedar makan untuk mereka.


Rasanya pedih kalau ingat kala itu.


"Dari situ mas ... ibu sama bapak beneran tahu kalau kak Namira udah jahat sama kita semua. Mereka benci dan selalu aja nggak pernah mau denger urusan kak Namira sama sekali," jelas Annisa dengan perlahan.


"..."


"Makanya aku takut kalau ibu sama bapak datang untuk sekedar marah doang. Aku takut kalau kamu sama Rama malah lihat sisi ibu aku yang kayak gitu. Kamu tahu sendiri. Bahkan untuk hal kecil aja ibu selalu marah. Apa lagi hal besar kaysk gini dan menyangkut kakak."


Bram diam membisu.


Dia nggak tahu kalau ternyata masalah ini seserius itu.


"Maaf , mas beneran nggak mikir sejauh itu. Karena yang mas pikirkan pasti orang tua mana yang nggak sedih kalau anaknya pergi kan? Dan banyak tuh kasus anak yang udah melakukan kejahatan separah apa pun. Tapi orang tua itu tetap mengakui anak mereka."


"..."


"Mungkin itu untuk keluarga normal," jawab Annisa sambil terkekeh kecil.


Perempuan itu menggeleng kecil dan memutuskan duduk di pinggiran kasur. Memandang lurus ke arah balkon kamar mereka yang pintunya terbuka.


"Nyatanya keluarga aku nggak seperti keluarga pada umumnya."


"Maksud kamu?"


"Iya ... seperti yang aku ceritain tadi. Mereka nggak seperti keluarga pada umumnya. Kamu paham lah maksud aku. Kamu pasti bisa nyimpulin semuanya sendiri kan? Dan karena keluarga aku sendiri, bahkan aku nggak pernah berani bermimpi untuk hidup sama seorang pangeran tampan."


"..."


"Sedari kecil hidup aku tuh jauh dari kata nikmat. Bahkan hal kecil aja rasanya aku benar-benar harus bersyukur. Karena untuk makan aja itu sangat susah. Lulus sekolah aja rasanya aku benar-benar merasa beruntung, mas. Karena aku bisa mengatur beasiswa aku dan bisa tahan karena sekolah tapi sambil nyambi kerja juga."


"..."


"Kadang aku ngeluh, kadang aku bersyukur. Semuanya benar-benar buat aku sedikit muak. Aku capek tapi aku nggak bisa ngomong capek, karena setiap harinya aku denger orang tua aku mengeluh terus."


"Bingung nggak sih, kalau kita udah punya mimpi atau sudah tau apa yang mau kita lakuin. Tapi semua itu nggak berjalan seperti yang kita mau."


Annisa menjentikkan jari dan mengangguk, membenarkan omongan suaminya itu.

__ADS_1


"Itu yang buat aku sedih, mas. Rasanya semua angan-angan aku tuh menghilang karena semua fakta yang ada di hidup aku. Dan orang susah kayak kami tuh beneran nggak enak banget. Udah susah makan. Kita juga terus dapat tatapan kasihan dari orang lain lagi. Padahal aku paling benci kalau di tatap kasihan sama orang lain."


Perempuan itu mendengus.


"Tapi kalau memang di ingat-ingat, rasanya hidup aku memang kasihan banget sih. Siapa yang nggak kasihan kalau kita hidup susah dan terkadang kita aja cuman bisa mengharapkan pemberian dari orang lain doang. Karena benar-benar nggak bisa dapat apa-apa. Sangat sulit pas itu tuh."


"..."


"Dari situ aja, aku sama sekali nggak berani untuk mimpi hal besar di hidup aku. Kayak rasanya mustahil banget dan aku juga takut kalau punya mimpi besar, terus pada akhirnya gak terwujud nanti malah buat aku sakit hati doang. Ya ... walau harusnya aku juga tau kalau kuasa Tuhan itu nggak ada yang nggak mungkin. Tapi, namanya juga pemikiran realistis."


"Iya sih ..."


"Dan nggak cuman itu yang buat aku nggak berani untuk bermimpi. Tapi alasan mereka yang terus ribut buat aku berpikir kalau pernikahan nggak seindah itu. Impian aku dari kecil yang di datangi sama pangeran berkuda menjadi lenyap dan aku sangat takut dengan pernikahan. Ya sampai kamu datang dan membuka pikiran aku."


Bram tersenyum tipis.


"Sekarang kamu nggak perlu takut lagi ya. Karena mas akan buat pernikahan kita menjadi seindah yang bahkan nggak pernah kamu bayangin. Mas janji akan terus buat kamu itu bahagia. Semua kesedihan kamu di masa lalau akan terbalas kan sama semua kebahagiaan kamu yang sekarang."


"Aku harap begitu ya, mas ..."


"Dan untuk mengundang orang tua kamu. Mas minta maaf sekali lagi ya. Tapi mau mereka sebenci apa pun tuh sama almarhum kak Namira. Tapi tetap saja mereka tuh harus datang ke makam kakak kamu kan? Di sini mas janji nggak akan bikin huru hara dan malah ribut. Mas bakalan bikin suasana nggak membuat kamu sedih lagi."


Dengan ragu Annisa mengangguk.


"Lagian ... mau bagaimana pun kamu pasti kangen kan sama orang tua kamu? Jadi wajar dong kalau mereka itu datang ke sini. Karena pertemuan kalian terakhir kali tuh pas kita nikah kan? Setelah itu kamu belum pernah ketemu sama sekali."


Annisa mengerjap bingung. "K— kok kamu tau?" tanya Annisa dengan sangat pelan. Ikut penasaran.


"Mas nggak pernah sengaja denger kalau kamu kangen sama mereka."


Annisa tersenyum tipis. Kenapa Bram lebih bisa memperlakukan dia dengan baik ketimbang orang tuanya sendiri. Ia benar-benar bersyukur karena bisa bertemu sama Bram dan Rama yang sudah mengubah pola pikirnya dan buat hidup dia jauh lebih bahagia. Apa pun itu, dia beneran bersyukur karena udah bertemu sama mereka.


"Ya sudah ... mendingan sekarang kita turun. Takut orang tua kamu datang. Sekalian nunggu Rama, bentar lagi dia pulang kan?"


Bram beranjak pergi sampai laki-laki itu merasa ujung baju nya ditarik sama seseorang. Ia menoleh dan melihat Annisa menarik ujung bajunya sambil menatap berbinar.


"Iya? Kenapa Annisa?" tanya Bram


"Sebenarnya ... aku masih penasaran banget sama yang satu ini. Tapi aku takut nanya sama kamu. Kamu jangan tersinggung ya."


Bram menatap bingung dan mengangguk canggung.


"Ya silahkan tanya aja," seru Bram dengan cepat. "Mas ini suami kamu loh. Masa kamu takut sama suami kamu sendiri. Nggak patut banget sih. Udah, kamu nanya aja. Apa yang mengganggu kamu?"


Annisa mengulum bibirnya yang kering dan menatap suaminya lagi.


"Kenapa kamu bisa bujuk ibu buat dateng? Maksudnya, tumben sekali ibu mau datang. Apa lagi ini tentang kakak kan? Rasanya aneh aja gitu. Nggak biasa. Ibu datang dengan cuma cuma apa gimana?"


Bram menggeleng dan menepuk bahu istrinya itu.

__ADS_1


"Intinya tentang uang mobil itu," jawab Bram ambigu


__ADS_2