
Mommy Chika menatap nanar menantunya yang keluar dari kamar cucunya itu sambil menangis. Matanya terus memandang ke arah mana Annisa pergi dan ternyata menantunya itu yang masuk ke dalam kamarnya. Ini membuat hati mommy Chika menjadi sesak bukan main.
“Memang nggak seharusnya Bram memaksakan perempuan lain masuk ke hidupnya, di saat masih banyak masalah di hidup anak itu.” Mommy Chika merutuki anaknya yang gegabah dalam memilih hal ini. Dia menggeleng kecil, sebenarnya nggak setuju atas pernikahan anaknya.
Bukan,
Bukan karena dia nggak suka sama Annisa. Jelas mommu Chika sangat menyukai Annisa. Siapa yang tidak suka sama perempuan baik hati seperti Annisa? Perempuan yang punya kesabaran seluas samudera dan tentunya punya kebaikan yang membuat semua orang suka. Tapi, Annisa terlalu baik untuk Bram. Itu yang ada di pikiran mommy Chika sejak tadi.
"Nggak seharusnya Annisa berada di sini. Ia jauh lebih layak tinggal di tempat yang memberi kebahagiaan untuk dirinya. Bukan yang meremehkan seperti ini. Ya ampun, mereka tuh sebenarnya sadar nggak sih sama tingkah yang di lakukan ke Annisa?"
Mommy Chika beranjak ke kamar Rama.
"Bram sama Rama harus tahu, kalau nggak seharusnya mereka membuat Annisa pusing. Kalau mereka nggak mau melihat mamah mereka pergi dari sini lagi. Toh, Bram juga harusnya sadar kalau umur Annisa masih sangat muda. Yang artinya dia jauh lebih berhak ada di tempat seumuran nya. Bukan menjadi sosok ibu di rumah ini. Yang nggak bisa di hargain sama sekali."
Mommy Chika meraih pintu kamar cucunya dan membuka dari luar. Ia melihat cucunya yang ada di atas kasur dengan selimut yang membentang di tubuhnya.
Mommy Chika menarik kursi, menimbulkan decitan. Tapi semua suara yang di tunjukkan sama sekali nggak buat Rama terganggu. Anak itu nggak menoleh sama sekali dan memilih untuk tetap menatap ke arah depan. Nggak peduli sama apa yang di tunjukan sama omanya.
"Oma beneran kecewa banget sama kamu," ucap oma membuat tubuh anak itu tersentak. "Oma memang nggak pernah mengajari kamu. Tapi pasti kamu tahu kalau seorang anak nggak berhak membentak ibunya. Apalagi sampai menangis ..."
"..."
__ADS_1
"Dan tadi oma denger kalau mamah Annisa nangis pas keluar dari kamar kamu. Apa? apa yang kamu lakuin? di sini kamu sendiri yang sering bilang kalau nggak mau mamah Annisa pergi. Tapi, sekarang kenapa malah marah sama mamah? Emangnya kamu nggak pernah mikir kalau mamah Annisa bakalan sedih dan kecewa sama kamu. Terus akhir nya milih pergi. Memangnya kamu mau kalau mamah Annisa itu pergi dari hidup kamu?"
Dengan pelan Rama menggeleng.
"Nak ... oma beneran marah sama kamu karena udah buat mamah Annisa sampai menangis kayak tadi. Karena oma juga seorang ibu, yang mana tangisan air mata seorang ibu tuh benar-benar berharga ..."
"..."
"Kamu tahu nggak sih, bahkan dalam agama saja. Kita di larang untuk membuat ibu kita menangis. Karena memang senggak boleh itu dan kamu malah ngebuat mamah Annisa menangis sampai kayak tadi? apa nak? apa yang ada di otak kamu sampai membuat mamah Annisa itu sampai kayak tadi?"
Rama mengeratkan cengkraman tangannya pada selimut.
"Kamu pernah mikir nggak sih. Mamah Annisa tuh umurnya masih sangat muda. Tapi di umurnya yang masih muda, dia malah mau merawat kamu sama ayah kamu itu. Dia harus terjebak di sini. Di saat harusnya mamah Annisa tuh ada di luaran sana dan berinteraksi sama orang yang seumurannya gitu. Tapi, demi merawat kalian berdua. Mamah Annisa tuh menurunkan egonya. Demi kalian," jelas mommy Chika itu dengan napas memburu. "Oma nggak tahu di sini kamu itu paham nggak sih sama penjelasan oma. Tapi intinya kamu itu harusnya bersyukur, bukan balik memarahi mamah Annisa kamu itu."
"Sebenarnya apa yang kamu katakan sama mamah Annisa? coba oma mau dengar."
Rama menarik napas dalam, sebelum menyibak selimut dan melihat keberadaan omanya. Anak itu mulai duduk di pinggir kasur, menghadap langsung ke arah omanya itu.
Ia mulai menceritakan yang tadi di perbuat sama dirinya ke mamah Annisa.
"Maaf oma," ucap Rama setelah selesai menceritakan semua ini. "Aku nggak ada maksud untuk jahat banget kayak gini. Tapi, aku beneran lagi pusing banget dan nggak pikir jauh sama sekali. Eh, aku malah nggak sengaja bentak mamah Annisa. Aku beneran minta maaf."
__ADS_1
"Ya ampun, nak. Kamu sebenarnya mikir nggak sih? Kamu yang selalu bilang kalau diri kamu itu kesepian dan butuh sosok ibu. Tapi setelah punya, kenapa kamu malah kayak gini?"
"Oma .... aku nyesel," seru Rama pada akhirnya dan nangis. "Aku takut, oma ... mamah nggak bakalan marah kan? mamah nggak bakalan pergi dari aku kan? aku nggak mau kalau mamah pergi karena aku. Aku nggak mau. Mamah harus terus ada di sini. Aku sayang banget sama mamah."
Mommy Chika membawa Rama masuk ke dalam pelukan nya. Ia mengusap punggung anak itu yang tangisannya malah semakin kencang. Mommy Chika jadi merasa nggak enak udah membuat anak ini sangat sedih sampai seperti ini.
"Tidak ... mamah Annisa sangat baik, dia nggak akan marah apa lagi sampai meninggalkan kamu. Kamu tenang aja. Di sini kamu harus minta maaf aja ya sama mamah Annisa dan bilang menyesal karena udah ngelakuin ini dan kamu juga harus janji sama mamah Annisa, kalau kamu nggak bakalan mengulang kesalahan ini lagi. Kamu benar benar nggak sengaja. Dan berjanji juga untuk menjadi anak yang baik untuk ke depannya."
Rama melepas pelukan dan mengusap air matanya yang turun dengan deras.
Ia mengangguk dengan sangat cepat.
"Iya oma, aku bakalan minta maaf sama mamah dan janji kalau bakalan jadi anak baik dan nggak membentak kayak gini lagi. Aku nggak mau ngecewain mamah lagi. Aku gak suka lihat mamah nangis kayak tadi."
Melihat Rama yang menyesal seperti ini saja sudah cukup membuat oma Chika bahagia.
Melihat Rama yang langsung turun dari kasurnya membuat oma Chika menahan lengan cucunya itu. "Eh, mau ke mana kamu?"
"Mau minta maaf sama mamah, oma. Kenapa?" tanya Rama yang sepertinya sudah nggak sabar untuk meminta maaf.
"Diam dulu di sini," titah oma Chika. "Ada yang oma mau jelaskan sama kamu dan mungkin ini jawaban atas semua pertanyaan yang ada di benak kamu selama ini. Yang buat kamu jadi lebih diam dan nggak terkendali ini."
__ADS_1
"Maksud oma?"
"Tentang bunda kamu."