
Sudah satu bulan berlalu dan baru saat ini Annisa begitu tegang saat membaca surat pengadilan yang memanggil mereka untuk datang ke pengadilan Sakilla. Annisa yang selama ini lupa akan janjinya dengan Sakilla, kini tiba-tiba teringat lagi dan karena ini sedari tadi Annisa resah bukan main.
“Kamu tuh sebenarnya kenapa?” tanya Bram sambil melipat selimut, sudah jadwalnya dia yang merapihkan kasur
“Hmm ... ada yang mau aku omongin sama kamu.”
Bram melirik ke arah jam, “keliatannya penting ya?” dan Annisa mengangguk dengan sangat cepat. “Malem ya sayang. Mas buru-buru nih. Mas udah harus siap-siap buat berangkat kerja, ada proyek yang nggak bisa mas tinggalin sama sekali. Jadi, maaf deh kalau mas gak bisa dengerin keresahan kamu sekarang.”
Annisa mau tak mau menunduk. Tidak bisa memaksa juga, kalau suaminya memang lagi sibuk seperti ini kan?
Annisa menghela napas jengah, menatap suaminya yang masuk ke dalam kamar mandi. Dengan langkah lesu, Annisa memilih keluar sambil memegangi perutnya yang belakangan ini cukup membuatnya pegal.
“Mamah kenapa?” pekik Rama berlari turun ke bawah dan membopong Annisa yang keliatan lebih pucat dari biasanya
Annisa terkekeh sambil menggeleng, “mamah nggak apa-apa kok. Cuman sedikit sakit aja perut mamah,” jawab Annisa membuat Rama menatap semakin khawatir. “Eh ini mah biasa kok buat ibu hamil, mamah beneran baik-baik aja.”
__ADS_1
“Kalau sakit sih harusnya mamah di kamar aja,” suruh Rama sambil mengambil air putih dan dikasihnya ke Annisa.
“Eh makasih sayang ...”
“Sama-sama ... mamah kalau lagi sakit tuh nggak usah mikirin sarapan sama yang lain. Udah mamah diem aja, aku sama ayah masih bisa urus diri kita sendiri. Mamah istirahat aja. Kasihan aku tuh lihat mamah."
Annisa terkekeh.
Anaknya akhir-akhir ini memang sedikit rewel membuat Annisa lebih sering istirahat. Perutnya seperti tidak bisa di ajak kerja sama. Makan ini mual, itu mual. Gerak sedikit jadi capek. Badannya pegal. Yang bikin tambah sedih, Annisa gak ada ibu yang menemani dirinya dan bisa diajak curhat tentang kondisinya saat ini.
"Mah kok malah melamun?" Annisa tersadar dari lamunan dan menatap anaknya balik
Rama tersipu malu. Ia menghampiri Annisa dan mengecupi perut mamahnya yang membesar itu lalu mengusapnya penuh kasih sayang.
"Adek, kakak sayang sama kamu. Tapi kamu jangan buat mamah kesakitan ya. Adek memangnya tega ngeliat mamah yang sakit karena kamu? jadi jangan di ulang ya?"
__ADS_1
Annisa terkekeh sambil menyapu rambut Rama dengan jari jemari lengannya.
"Makasih ya sayang karena udah terus khawatir sama mamah dan adek. Kata adek makasih, adek juga udah gak sabar buat ketemu sama abang katanya."
Rama mengerjap. "Aku juga gak sabar, adek kapan keluar nya," rengek anak itu. "Aku tungguin, tapi adek masih terus di perut mamah."
"Hahaha, sabar ya ... masih beberapa bulan lagi adek keluar. Kamu do'ain aja ya biar semuanya baik-baik aja dan adek keluar nanti dengan keadaan sehat."
"Iya mah, mamah tenang aja. Tanpa mamah suruh, Rama pasti do'ain mamah sama ayah kok."
"..."
Annisa menatap kagum pada sang anak. "Oh iya, besok juga ada yang mau mamah omongin sama kamu."
"Besok? kenapa harus besok? kenapa nggak sekarang aja?"
__ADS_1
Annisa menggeleng, "besok aja ..." ucapnya lagi yang memang lebih dulu ingin memberi tahu Bram ketimbang Rama. "Nanti aja ya ..."
"Iya mah."