
"Mommy ..."
Mommy Chika balas memekik dan langsung memeluk menantunya itu dengan penuh rasa kasih sayang. Ia noleh ke belakang. "Nah ... Annisa, itu daddy nya Bram. Alias Daddy Bima. Kamu panggil aja daddy, sama seperti kamu manggil saya mommy ..."
"Hallo Daddy," seru Annisa dengan sedikit kaku. "Salam kenal sebelumnya. Maaf baru sempat mengenalkan diri karena—
"Karena anak saya tidak mengenalkan kamu!" lanjut Daddy Bima membuat Bram yang baru datang sambil menggendong Rama menatap protes.
"Eh tidur." Annisa sigap mengambil Rama yang terlelap dan menggendongnya. "Daddy sama mommy masuk dulu aja. Pasti capek kan karena habis dari perjalanan jauh. Aku pamit undur diri, mau taruh Rama ke kamar dulu ya."
Annisa melangkah masuk ke dalam kamar Rama, menaruh anak itu ke atas kasur. Annisa rapihkan sekeliling kasur supaya Rama terjaga. Jangan lupa Annisa menaruh boneka jerapah kesukaan Rama di dekat bantalnya, baru perempuan itu keluar dari kamar.
Tok ... Tok ... Tok ...
"Bu, Pak, Kalian lagi apa di dalem?" panggil Annisa sambil terus mengetuk kamar tamu. Ia berdecak, apa orang tua nya ini nggak mendengar ada ramai-ramai di luar? Kalau dengar kenapa masih ada di dalam.
Setelah sekian lama, pintu terbuka dari dalam dan ibu sama bapaknya keluar dengan tampang yang sangat angkuh.
__ADS_1
"Apa sih ... mau marah lagi sama ibu? mau bentak ibu lagi? setelah kamu marahin ibu, sekarang kamu malah datang lagi ke sini? Memang nggak ada muka kamu. Dasar ... anak nggak tau diri."
"Buat yang tadi aku minta maaf bu," ucap Annisa memilih mengalah. "Dan maaf kalau kedatangan aku ganggu ibu. Tapi ada orang tuanya mas Bram di luar. Ibu sama bapak nggak mau ketemu dulu kah?"
"Loh suami kamu itu masih punya orang tua?"
Ibu Marni melongok ke lantai bawah dan melihat ada yang ramai-ramai di bawah sana. "Kenapa pas nikah dia nggak datang? Apa kamu nggak di kasih restu, makanya mereka nggak datang?" tuduh ibu Marni
Bapak Wahyu ikut melongok ke bawah dan beralih ke Annisa.
"Ini kamu nggak lagi ada masalah kan di pernikahan kamu?" tuduhnya sambil menatap tajam mata anaknya. "Kamu gak bikin malu lagi kan sampai mereka datang ke sini?"
"Bu, Pak ... kalian masih ingat kan kedatangan kalian ke sini tuh karena apa?" Orang tuanya diam. "Karena kondisi kakak," jelas Annisa berusaha mengingatkan. "Dan di kondisi lagi berduka gini, orang tua mas Bram rela datang dari jauh untuk bisa datang ke makam kakak."
"Oh."
Annisa menghembuskan napas pelan.
__ADS_1
"Bu ... Pak ... aku minta tolong ya, untuk kali ini jangan buat kacau sama sekali. Ibu mau marah sama aku juga nggak apa apa. Tapi jangan di depan mereka."
"Kenapa?! Pasti karena kamu takut reputasi kamu jadi buruk ya. Duh ... kayaknya memang benar kalau kamu ini nggak di kasih restu sama mereka. Dengan kata lain, mereka itu gak sayang sama kamu."
"Bukan gitu—
"Sudah lah, bu ... kali ini kuta nurut aja. Dari pada anak kita pisah sama Bram. Nanti kita gak dapat sokongan uang lagi. Jadi, lebih baik nurut saja."
"Aku cuman minta ibu sama bapak untuk nggak bilang yang macam-macam, aku mohon ... Karena—
"Berisik kamu! Kamu—
"Annisa."
Orang tua Annisa langsung mengatupkan mulutnya dan menepuk pelan bahu Annisa sembari melotot tajam. Lalu saat Bram sudah tiba di lantai atas mereka meninggalkan Annisa begitu saja, melewati Bram dan turun ke bawah.
"Eh ... ibu sama bapak kamu kenapa?" tanya Bram sambil melihat mertuanya yang sedikit aneh itu dan berakhir mengangkat bahu acuh. "Annisa ... udah kan taruh Rama? Kalau udah kita ke bawah lagi yuk. Mom sama dad udah nungguin tuh."
__ADS_1
Bram menarik tubuh Annisa, tapi Annisa nggak mau mengikutinya membuat Bram menoleh dan sadar kalau wajah Annisa sudah tidak sesenang tadi.
"Kenapa?" tanya Bram lalu ingat kepergian mertuanya yang baru saja turun itu. "Ibu sama bapak kamu ada buat ulah lagi?"