
"Ibu kamu menipu hampir sebagian warga di sini."
"HAH!"
Annisa sampai berdiri mendengar kabar super mengejutkan itu. Ia mendekati ke penjaga warung tadi. "Bu ... maksud ibu apa? siapa yang menipu? menipu kayak gimana? ibu nggak bohong kan sama aku? Pasti ini karena ibu nggak suka sama ibu aku kan? makanya ngomong kayak gini? padahal kenyataannya enggak."
Penjaga warung tadi hanya tersenyum menatap Annisa yang keliatan panik.
"Ibu mengatakan yang sebenarnya, nak. Untuk apa ibu bohong sama kamu? berita itu sangat gempar kok beberapa waktu yang lalu dan karena kamu nanya, ya ibu jelaskan. Ibu tidak berbohong, ibu bisa bersumpah detik ini juga."
Annisa merasa lemas. Ia duduk di kursi plastik dan memijat keningnya.
"Sebenarnya kejadiannya gimana? terus di mana ibu sama bapak aku?"
Penjaga warung tadi hanya menggeleng, memang tidak tahu keberadaan orang tua yang dimaksud.
"Ibu mendengar kalau orang tua kamu membuat suatu usaha? ibu kurang paham, soalnya ibu jarang ke mana-mana dan cuma sibuk di warung saja. Tapi ibu tahu sekali kalau orang tua kamu menjanjikan akan memberikan jumlah uang lebih besar dari uang yang ditaruh warga."
"Maksudnya?" bingung Annisa, masih tidak mengerti.
"Mungkin semacam pegadaian gitu? jadi warga naruh uang ke orang tua kamu dan setelah beberapa bulan kemudian. Uang itu bakalan bertambah sebanyak dua kali lipat. Ya ... warga sini sih awalnya nggak percaya," lanjutnua
Annisa menelan saliva, "lalu?"
"Iya ... tapi ngeliat orang tua kamu yang punya banyak uang dan lihat aja rumah sama mobil yang mereka punya. Jadi, warga di sini mudah percaya. Ditambah cuaca belakangan di sini kurang baik. Buat banyak kebun jadi gagal panen. Kita di sini pada butuh uang dan langsung tergoda sama tawaran orang tua kamu."
"Ya ampun ..."
__ADS_1
"Hampir seluruh warga di sini naruh uang di orang tua kamu. Awalnya sih nggak ada masalah karena orang tua kamu bilang uang bakalan kembali dua sampai tiga bulan. Tapi ini sampai bulan ketiga, nggak ada itikad baik sama sekali. Warga di sini udah pada butuh uangnya tapi orang tua kamu cuma minta warga buat sabar aja, karena nanti ada waktunya orang tua kamu bayar."
"Terus ..." Suaranya semakin melemah, bingung harus bereaksi seperti apa akan masalah ini.
"Ya ... karena orang tua kamu mangkir terus. Akhirnya warga kumpul deh di balai desa depan situ. Ibu masih ingat, ricuh banget waktu itu. Tapi ... pas warga datengin rumah orang tua kamu. Dengan santainya mereka bilang bulan depan ... awalnya warga sih udah nggak percaya. Mereka butuh uang buat kebutuhan mereka. Tapi orang tua kamu berusaha yakinin mereka, sampai akhirnya mereka deal karena orang tua kamu berjanji untuk membayar mereka lebih banyak dari awal perjanjian. Ya ... warga akhirnya percaya dan pulang. Tapi ...
"Tapi?"
"Tapi besoknya kampung sini geger karena rumah kamu kosong. Semenjak itu orang tua kamu nggak pernah keliatan lagi di sini. Kasihan para warga di sini, ada yang sengaja rela jual kebunnya supaya dapet uang berlebih. Tapi ternyata zonk. Makanya sampai sekarang orang tua kamu masih jadi buronan. Karena pak lurah di sini sama pak rt udah ngelaporin orang tua kamu."
Annisa sungguh tidak bisa berkata apa-apa. Selain duduk, tubuhnya sangat lemas.
"Kenapa jadi gini ..."
"Makanya ibu sedikit kaget pas kamu bilang anaknya ibu Marni. Berarti kamu tau tentang kasus ini? tapi ngeliat kamu yang bahkan sekarang ibu. Kayaknya kamu memang nggak tau."
"Hubungan aku sama ibu memang kurang baik, bu. Ibu juga udah lama nggak hubungin aku. Makanya sekarang aku tuh sengaja pulang, kayak mau kasih kejutan. Tapi malah aku yang terkejut sama kabar ini."
Annisa memegang tangan penjaga warung tadi.
"Bu ... ya ampun, duh aku bingung banget. Ini harus gimana?" Annisa memijat kepalanya yang pening. "Kenapa masalah yang ibu aku buat bisa sebesar ini."
"Mending neng tenang dulu, istirahat dulu aja. Berarti neng ini baru dateng banget dari kota kan? pasti jauh ... jadi lebih baik istirahat aja dulu. Nanti kalau udah agak tenang, ibu anter neng ke rumah pak rt untuk jelasin semuanya. Biar ada harapan buat warga di sini juga."
Annisa memandang atap menjulang dari tempatnya duduk.
Rumah orang tuanya memang lumayan jauh dari sini, tapi karena tingkat sendiri. Jadi keliatan sampai ke warung ini.
__ADS_1
"Tapi ..." Annisa menoleh. "Bu, di sini ada tempat penginapan nggak? aku nggak tau harus ke mana. Soalnya rumah juga di kunci. Jadi, aku nggak bisa masuk."
"Oh ... kalau begitu, bagaimana kalau kamu istirahat di rumah ibu saja."
"Apa tidak merepotkan?" tanya Annisa dengan sopan.
Ibu tadi menggeleng. "Ibu cuma tinggal sendiri kok. Udah, kamu mending istirahat di sini dulu aja."
Annisa mengucapkannya terima kasih berlebih karena sudah diberi tahu masalah ini, tanpa ibu itu mencela dirinya. Annisa memutuskan untuk mengambil kopernya lebih dulu, baru mengikuti ibu penjaga warung tadi ke rumahnya yang terletak tak jauh dari warungnya.
***
Di ruangan yang tidak terlalu besar dan hanya terisi kasur dan lemari doang, Annisa sedang duduk menyila di kasur. Tatapannya menatap ragu ponselnya.
"Aku bilang sama mas Bram atau enggak ya?" gumam Annisa
Dirinya ragu. Apalagi alasan Annisa kembali adalah karena dirinya marah dan ingin memberi jarak kepada suaminya. Ia akan kalah kalau menghubungi suaminya lebih dulu. Apalagi mengingat fakta, ia bakalan merepotkan suaminya lagi kalau menceritakan masalah yang dilakukan orang tuanya itu.
Annisa menggeleng dan menaruh ponselnya ke atas kasur.
"Enggak ah ... aku coba urusin ini sendiri dulu. Nanti kalau mentok baru aku hubungin mas Bram deh."
Annisa memilih tiduran di kasur, menatap plafon rumah yang sedikit lapuk. Annisa menarik selimut lalu selanjutnya terdengar helaan napas berat dari perempuan itu.
"Kenapa ibu sama bapak ngelakuin hal begini sih," gumamnya kesal. "Padahal mas Bram udah ngasih banyak hal ke mereka. Tapi kenapa mereka malah menipu banyak orang kayak gini."
"Ya ampun ..."
__ADS_1