Istri Dadakan

Istri Dadakan
Draft


__ADS_3

“Ayah ... bapak tadi kenapa sih?” kesal Rama begitu Bram masuk ke dalam mobil dan menjalankan mobil


“Maksud kamu?” tanya Bram yang berusaha fokus dengan jalanan lantaran hari mulai gelap dan salah satu sumber penerangan hanya dari mobilnya saja. Selebihnya lampu jalanan terlihat sangat remang.


“Iya yang bapak tadi. Kenapa omongannya tajem banget, terus tadi kenapa dia bawa-bawa nama mamah. Tadi aku kesel banget. Mau bales. Tapi tangan ayah nahan kepala aku. Jadi aku langsung simpulin kalau ayah minta aku buat diem aja."


"Pintarnya anak ayah ..."


Rama tersenyum lebar. Mood Rama sudah jauh lebih baik ketimbang sebelumnya. Ia udah mulai bisa menenangkan dirinya atas apa yang terjadi. Tadi ... Rama juga meminta maaf pada Bram karena sudah menyalahkan ayahnya itu.


"Ayah?" panggil Rama lagi sambil menatap dengan penuh tanda tanya. "Kok ayah nggak jawab pertanyaan Rama? itu kenapa tadi bapak itu ngomong tentang mamah? terus ayah juga keliatan marah banget. Terus hutang apa itu? mamah punya hutang?"


Bram menghela napas pasrah. Ia lupa kalau anaknya ini terlahir pintar. Jadi dia nggak bisa apa-apa selain pasrah dan menjawabnya.


Ia menjelaskan apa yang terjadi.


"Ayah nggak tahu kamu paham atau enggak sama cerita ayah. Tapi memang itu yang terjadi. Jadi, salah satu kemungkinan kalau mamah kamu nggak bisa di hubungin tuh karena ini. Ayah merasa ... kalau mamah kamu ini sedikit pusing sama masalah di sini."


"Jadi mamah nggak sempat buat hubungin kita?" lanjut Rama yang langsung disetujui oleh Bram.


Rama termenung. Menjadi orang dewasa ternyata nggak segampang yang dikira ya? Beberapa hari belakangan, Rama mulai memikirkan hal tersebut dan masalah yang baru ia dengar ini menambah pemikiran dia tentang betapa susahnya menjadi orang dewasa.


"Aku nggak mau cepat cepat gede," aku Rama tiba-tiba


"Hmm?" Bram melirik anaknya yang tampak murung. "Kenapa anak ayah tiba-tiba ngomong kayak gini?"


Rama menarik napas, jenuh dan membuka seatbelt tanpa melepasnya. Ia memilih meloloskan tubuhnya dari bawah lalu duduk santai di kursi mobil. Ia menatap ayahnya.


"Orang dewasa tuh punya banyak masalah ya yah?" tanya Rama dengan polos. "Aku nggak mau jadi orang dewasa. Pasti pusing harus mikirin ini itu."


"Hah? kenapa tiba-tiba banget sih nak." Bram tertawa


"Ck elah ... soalnya aku lihat mamah sama ayah tuh ada aja masalah. Ya aku nggak mau lah kalau hidup aku juga gitu. Aku mau hidup dengan tenang, tanpa mikirin apa-apa. Aku mau jadi kecil terus. Aku mau main doang. Aku mau belajar terus mau disayang sama mamah dan ayah doang. Aku gak mau mikirin hal pusing. Bikin capek aja ..."


Bram terkekeh lalu menggeleng pelan. Tangannya mengusap surai rambut Rama.


"Semuanya ada takarannya sayang. Semua udah ada jalannya. Mau kamu nggak suka jadi orang dewasa. Pasti suatu hari nanti kamu melewatinya. Kamu nggak akan pernah bisa jadi kecil terus. Itu sama aja kamu melawan takdir yang udah Allah tetapkan buat kamu."


"Gitu?"


"Hmm ... dan tentang masalah, ayah sama mamah kamu nggak pernah merasa pusing sampai muak. Kamu pasti paham maksud ayah? karena mau sebanyak apa pun masalah yang datang ke hidup kamu. Kamu nggak akan pernah bisa menyangkalnya. Karena setiap kehidupan itu pasti punya masalah. Nggak mungkin ada hidup yang enak atau nyaman tanpa masalah. Nggak bakalan ada?"


"Kenapa begitu!"


Rama menurunkan posisi kursi mobil, sedikit tiduran. Tangannya disandarkan menjadi bantalan.


"Memangnya kenapa kita nggak bisa hidup dengan nyaman? kenapa selalu ada masalah? aku nggak suka deh."


"Itu yang namanya ujian dari Allah. Allah mau lihat kamu bisa melewati masalah itu dengan baik atau enggak. Kamu bisa tetap ada di jalan Allah atau tidak setelah diterpa masalah. Intinya masalah itu yang akan membawa kamu ke syurga kalau kamu berhasil melewatinya. Juga ... masalah kayak begitu, membuat kamu sadar kalau Allah sayang sama kamu. Kalau Allah masih perhatian sama kamu."

__ADS_1


Mata Rama membola. Ia langsung duduk tegak dan menatap ayahnya.


"Berarti Allah nggak sayang sama aku dong? aku nggak pernah dapet masalah tuh," akunya sedikit takut.


"Hahaha ... kata siapa? memangnya sekarang kamu lagi nggak kena masalah? ini masalah sayang. Allah mau lihat kalau kamu bisa sabar nggak sampai menunggu mamah Annisa datang."


"Oh gitu— eh kenapa ayah berhenti di sini?"


Rama terkejut melihat mobil yang sudah berhenti. Ia menatap ke arah luar dan hanya ada warung kecil yang penerangan nya sedikit redup.


"Takut," jujur Rama


"Nggak usah takut. Ada ayah."


Bram turun dan beralih ke kursi Rama. Ia menggendong Rama yang badannya sudah keringat dingin itu.


"Ibu Dini," sapa Bram yang melihat ibu Dini sedang merapihkan warung.


"Eh kamu kesini?" tanya Ibu Dini lalu memberikan dua kursi yang baru merapihkan nya. "Baru aja ibu mau kesana habis beresin warung. Soalnya ibu khawatir kalau kamu belum makan. Lagian, ibu suruh kamu ke sini aja kalau ada urusan. Tapi kamu nggak kesini-sini."


"Maaf Bu, tadi saya beneran masih kaget masa masalah di sini. Terus tadi saya habis dari kantor kepala desa untuk ngurus masalah ini," ceritanya. "Eh makasih banyak bu, maaf merepotkan," ucap Bram sambil menerima dua gelas teh hangat.


"Oh ... kamu langsung ke sana?" tanya Ibu Dini yang masih fokus dengan merapihkan warung di dalam toko


"Iya bu, saya mau masalah ini cepat selesai."


"Bukannya bareng ibu aja. Kepala desa di sini agak kurang bersahabat dan ya begitu lah kalau sama orang baru. Jadi, seharusnya kamu datang sama ibu saja."


"Tadi sih memang sedikit ada kejadian buruk gitu. Tapi saya bisa lah membalasnya. Jadi masalah sudah selesai. Saya sudah mengantongi data yang diperbuat sama mertua saya dan saya juga sudah tahu berapa total nominal uang yang di tipu sama mertua saya. Jadi sepertinya saya besok mau bertemu sama seluruh warga yang jadi korban mertua saya."


"Sat set juga ya kamu. Tapi bagus lah kalau kamu mau usut masalah ini. Ibu udah nggak kuat karena banyak yang jahat sama mamah Annisa."


Merasa orang kesayangannya terpanggil, Rama menoleh.


Ia menarik baju Bram membuat ayahnya itu menoleh.


"Siapa?" bisik Rama pelan, malu kalau sampai di dengar.


"Hayo siapa?" tanya balik Rama dengan sedikit candaan. "Sana salaman dulu. Ini ibu Dini yang udah baik banget sama mamah kamu. Inget kan tadi ayah bilang kalau mamah kamu punya masalah di sini? dan ibu ini yang udah bantu mamah kamu. Sana gih salaman," pinta Bram.


Rama langsung turun dari kursinya.


Segala hal yang udah membantu mamahnya harus Rama ucapkan terima kasih.


Dengan pelan, Rama masuk ke dalam toko tersebut.


Ia berdeham pelan.


"Eh ada anak ganteng. Ya ampun, ganteng sekali kamu. Ada apa nduk? kamu butuh sesuatu?"

__ADS_1


"Ibu— nenek— eh?" ucap Rama yang bingung sendiri mau memanggil seperti apa.


"Panggil mbah saja. Biar kamu nggak susah ingatnya."


"Iya mbah." Rama menyalimi lengan ibu Dini. "Tadi ayah aku bilang kalau mbah udah bantu mamah ya? aku mau makasih banyak sama mbah karena udah sayang sama mamah."


Ibu Dini jongkok di hadapan Rama dan mengusap pipi Rama.


"Sama-sama sayang ... gemesnya ya ampun anaknya Annisa. Karena kamu udah baik, sekarang kamu bebas ambil jajanan deh di warung ibu."


"Nggak usah bu," sela Bram yang sejak tadi mendengar. "Ibu kan jualan. Jadi nggak usah. Kalau Rama mau, nanti saya bayar aja."


"Sudah nggak apa-apa. Ambil aja ya nak."


Rama mengangguk dan mengucapkan terima kasih lagi sebelum ia keluar dan duduk di samping Bram lagi.


"Oh iya kamu sudah makan belum?" tanya ibu Dini yang sudah membereskan warungnya itu.


Bram menggeleng.


"Nggak ada lauk di rumah itu. Terus saya ingat kalau ibu punya warung di sini. Makanya saya sempatkan untuk datang. Siapa tahu ibu ada jualan lauk matang. Tapi kayak nya semua udah habis ya. Udah mau tutup begini."


Ibu Dini mengangguk.


"Ibu memang selalu tutup magrib nak Bram. Tapi ibu mau masak makan malam. Gimana kalau sekalian kamu makan di rumah ibu? rumahnya nggak jauh dari sini kok. Soalnya niat awal ibu juga mau datang ke rumah kamu setelah ibu masak. Ibu tahu kalau di sana nggak ada stok makanan sama sekali."


"Eh enggak merepotkan bu?"


Ibu Dini menggeleng.


"Ibu malah senang kalau ada tamu yang datang. Kayak waktu itu Annisa yang datang. Ibu jadi nggak merasa sepi lagi kalau ada orang yang datang ke rumah ibu."


***


Sekarang Bram dan Rama mengikuti ibu Dini yang melewati jalan setapak untuk mendatangi rumahnya itu. Sejak tadi juga Rama sama sekali nggak mau melepaskan pelukan di gendongan Bram. Wajah anak itu ia rekatkan ke ceruk leher Bram. Tangannya mencengkram kuat baju ayahnya.


Rama tidak pernah setakut ini.


Kalau biasanya di tempat tinggalnya, pas malam aja masih kedengeran suara mobil atau motor yang lewat. Masih ramai. Jadi Rama nggak pernah takut sama sekali. Walau harus tidur sendiri.


Tapi sekarang?


suasana masih sangat gelap. Bahkan jalanan masih belum bagus. Terus banyak suara hewan yang terdengar asing di pendengaran Rama dan entah kenapa anak itu benar-benar sangat takut akan hal ini. Dia nggak tahu harus melakukan apa selain menelungkup di tubuh Bram.


Melihat anaknya yang begini malah membuat Rama terkekeh.


Lucu sekaligus khawatir. Jadi, Bram berusaha untuk memberikan kenyamanan pada Rama. Supaya anaknya itu nggak takut lagi. Sesekali Bram juga bakalan mengusap punggung anak itu dan membisikkan kata-kata supaya Rama tidak merasa sepi.


Setelah beberapa saat berjalan. Akhirnya mereka tiba di sebuah rumah yang tidak terlalu besar tapi tidak sekecil itu juga.

__ADS_1


"Ini rumah ibu, silahkan masuk."


__ADS_2