Istri Dadakan

Istri Dadakan
Bentakan Dari Rama?


__ADS_3

“Jadi gitu mom ceritanya ...”


Dengan perasaan yang bingung, Annisa menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Pasalnya, karena masalah ini mommy Chika harus menunda penerbangan untuk kembali ke rumah. Dia harus tahu apa yang sebenarnya terjadi, karena enggan membiarkan Annisa menyelasaikan masalah ini sendiri.


“Mommy nggak tahu kalau anak mommy sebodoh itu. Ya ampun, apa yang dia pikirin selama ngomong sama anaknya sendiri. Sampai detik ini aja mommy masih dibuat benci sama Sakilla itu. Bisa-bisanya dia meninggalkan anak mommy dan cucu mommy hanya demi kebahagiaan dia pribadi. Dan sekarang kelakuan Bram malah buat mommy semakin kesal bukan main.”


Annisa memijat keningnya.


“Aku bingung, mom. Semuanya serba salah ... kata mas Bram, kita jujur aja sama Rama. Iya, mungkin kita harus jujur karena mau gimana pun, pada akhirnya Rama bakalan tahu sama hal ini kan? Tapi apa yang harus aku omongin? Masa iya aku harus jujur sama Rama kalau bunda nya itu memiliki penyimpangan gender atau masa aku harus bilang ke Rama kalau bundanya itu belum meninggal karena memilih pergi dari Rama?”


Annisa mengacak rambutnya, sangat frustasi. Ini sama seperti masalah hidup pertama yang harus dia hadapi di pernikahannya. Ini jauh lebih berat ketimbang harus menghadapi sikap suami nya yang sangat keras kepala dan nggak mau mengakui dirinya.


“Mom ... aku harus apa? kasihan Rama, di umurnya yang masih belia masa dia harus mengetahui sikap bundanya yang kayak gini?”


Mommy Chika menarik napas dalam.


“Akan mommy bantu bicarakan sama cucu mommy yang ini. Kamu tenang aja, mommy akan ngehubungin daddy nya Bram dulu untuk menjelaskan situasi di sini.”


Annisa mengangguk mengerti dan mengucapkan terima kasih.


“Oh iya ... daddy nya Bram mengucapkan salam kenal sama kamu dan meminta maaf karena belum bisa datang, karena nggak ada waktu. Daddynya Bram memang selalu sibuk! Pokoknya mommy janji, kalau suami mommy ini udah nggak terlalu sibuk. Kami bakalan datang ke sini. Kamu nggak usah khawatir. Daddy nya Bram nggak ada marah sama kamu kok.”

__ADS_1


Annisa langsung lega mendengarnya.


“Aku tunggu ya mommy dan bilangin daddy kalau salam kenal dari aku.”


“Hahaha iya nak Annisa ...”


***


Kue bolu yang baru matang selalu menjadi favorit semua orang, termasuk Rama dan kini Annisa sudah membuatkan masakan untuk  anaknya. Khusus untuk Rama, karena sampai detik ini anak itu masih belum berubah. Masih lebih diam dan nggak mau berbicara apa-apa selain menjawab pertanyaan dari Annisa, itu pun hanya jawaban singkat.


“Semoga kali ini berhasil ...” harap Annisa


Ia mengetuk pintu kamar Rama, anak itu baru saja pulang dari tempat les. Dan baru pulang, Rama tidak menyapa mereka sama sekali dan langsung masuk ke dalam kamar. Annisa seperti tidak mengenal anak itu sama sekali. Dari yang biasanya selalu manja, kini Rama jauh lebih memilih sendiri dan paling nggak suka kalau sudah ada skin ship di antara mereka.


Masih belum ada jawaban sama sekali membuat Annisa menarik napas dalam dan berusaha untuk menenangkan diri sendiri, nggak mau terbawa emosi sama sekali.


“Mamah masuk ya, kalau kamu masih nggak buka sama sekali,” ucap Annisa yang tentunya nggak di jawab sama sekali. Membuat Annisa memberanikan diri untuk masuk.


Tubuh perempuan itu terpaku saat melihat Rama sedang tiduran membelakangi dirinya. Tidak biasanya Rama memilih tidur di siang hari, di saat anak itu biasanya memilih untuk bermain di halaman belakang rumah.


Annisa masuk dan menutup pintu kembali. Ia taruh sepiring kue itu di meja belajar Rama dan duduk menghampiri Rama. Annisa duduk di pinggiran kasur sembari mengusap rambut Rama. Tidak ada penolakan sama sekali. Annisa melirik Rama, ia melihat mata anaknya yang masih terbuka. Tanda Rama nggak tidur sama sekali.

__ADS_1


“Rama ... mamah sedih loh kalau kamu terus gini. Kamu beneran nggak mau cerita sama mamah apa yang terjadi?”


“...”


“Mamah kan juga mau denger cerita kamu, kamu nggak mau kalau kita kayak dulu lagi?”


“...”


“Mamah beneran kangen banget sama kamu yang dulu ... kamu beneran nggak mau ngobrol sama mamah lagi? Kalau bukan kamu, siapa yang buat mamah seneng di sini? Nggak ada. Karena memang cuman kamu—


“MAMAH DIAM!” pekik Rama tiba-tiba membuat tangan Annisa menghentikan usapannya.


“Rama?” ucap Annisa dengan pelan, terkejut mendengar teriakan anak itu.


“Mamah bisa diem nggak sih, aku tuh lagi mikir. Mamah berisik tau nggak sih! Nanya terus, aku kan belum siap buat cerita. Aku belum mau. Memangnya salah kalau aku nggak mau cerita sama mamah? Nggak kan?! Jadi ... jangan paksa aku.”


“Ah ...,” gumam Annisa lalu tersenyum perih. Ia berjalan menjauh dari kasur anaknya. “Kamu nggak suka ya.”


“Mamah cuman buat aku pusing doang! Aku cuman mau sendiri, apa nggak bisa!” pekik Rama dengan sangat kencang. “Keluar mah! Aku mau sendiri.”


Hati perempuan itu benar-benar sangat sesak melihat anaknya yang seperti ini. Tanpa sadar Annisa menitikkan air mata. Dengan cepat ia mengusap air matanya dan mengangguk, walau nggak bisa di lihat Rama karena membelakangi dirinya.

__ADS_1


“Maaf ... maafin mamah, karena udah buat kamu nggak nyaman,” ucap Annisa pada akhirnya.


Sebelum akhirnya Annisa berlari ke luar kamar dan menutup pintu kamar Rama dengan kencang, karena sudah nggak sanggup menahan tangisan yang semakin turun dengan deras. 


__ADS_2