Istri Dadakan

Istri Dadakan
Pernyataan Yang Menyakitkan (2)


__ADS_3

"Karena mamah Annisa yang ngomong kalau aku nggak boleh jahat sama tante. Walaupun tante udah banyak salah sama aku. Sama ayah dan sama semua orang."


Rama tersenyum tipis. Membayangkan sang mamah ada di sini dan pasti akan tersenyum bangga akibat ulahnya itu. Ah mengingat mamahnya yang sedang tidak di hubungin buat Rama jadi sedih lagi.


Satu detik kemudian, dia menggeleng dan kembali fokus sama perempuan dewasa di depannya.


"Tante ... sebenarnya banyak pertanyaan yang hinggap di benak aku. Sampai aku bingung harus nanya yang mana dulu. Soalnya semuanya terlalu bingung buat aku."


"..."


Rama menyatukan lengannya dan meremas pelan. Mulai merasa gugup.


"Sedari kecil yang aku tahu itu, tante udah meninggal. Dari kecil aku sudah paham kalau aku beda dari teman aku. Aku nggak punya ibu yang ngerawat aku dan aku cuma punya ayah yang hebat. Sayangnya ... ayah sibuk sama kerjaan ayah dan aku nggak bisa ngeluh apa-apa. Karena tahu ayah kerja juga demi aku."


Rama mulai duduk menyandar dan menatap kosong ke arah televisi yang tak menyala sejak tadi.


"Kadang aku iri sama temen aku. Mereka dirawat sama ibu mereka dari kecil. Dari mereka yang dijemput sama ibunya sampai mereka yang dibuatkan bekal. Banyak yang buat aku sedih dan dari situ aku kadang kesel, kenapa tante di panggil cepet sama Tuhan. Padahal aku belum ngerasain punya sosok ibu sama sekali."


"..."


"Tapi ayah selalu ajarin aku buat menerima takdir dari Tuhan dan ayah juga selalu ceritain semuanya tentang Tante. Buat aku yang nggak tahu apa-apa tentang Tante, mulai sedikit tahu dan ikut merasa seneng. Karena aku ngerasa tahu dikit tentang sosok orang yang melahirkan aku. Walau aku nggak pernah ketemu sama sekali."


Sakilla masih diam.


"Tante tahu? berapa rapuhnya aku sama ayah? aku sering lihat ayah yang diem-diem ngerokok di balkon karena rindu sama tante. Tante juga tahu gimana sedihnya aku pas semua temen-temen aku mojokin aku karena aku yang nggak punya ibu?"


Rama menghapus air matanya yang turun dan terkekeh pelan. Mengingat masa yang menyakitkan.


"Aku kadang benci, tante. Di umur aku yang masih kecil. Aku harus bisa ngelakuin semuanya. Karena ayah yang super sibuk. Aku cuma nggak mau ganggu ayah. Aku juga tahu ayah masih suka sedih. Makanya aku nggak mau buat ayah lebih sedih lagi."

__ADS_1


"..."


"Terutama pas aku penasaran sama sosok orang yang melahirkan aku." Rama tersenyum tipis semakin memeluk erat bantal sofa. "Karena aku sadar, setiap aku nanya sama ayah. Malemnya pasti ayah sedih. Atau nggak ... setiap malem ayah tuh selalu nemenin aku tidur dan nunggu sampai aku terlelap. Tapi tanpa ayah tahu, kadang aku masih sadar kalau ayah nangis di samping aku dan cuma manggil nama tante."


"..."


"Kala itu ... aku tidak terlalu mengerti. Aku marah sama tante karena udah buat ayah aku kayak gini. Tapi setiap aku ngomong isi hati aku, ayah malah marah sama aku. Ayah terus bela tante dan ngomong kalau orang yang melahirkan aku adalah orang yang sangat baik dan aku sama sekali gak berhak buat membencinya sama sekali."


Napas anak itu mulai tercekat.


Dadanya terasa sesak membuat Rama berulang kali menghembuskan napas. Dia mulai memberanikan diri menatap Sakilla dan wajahnya pias melihat tante itu hanya menunduk. Entah apa yang ada di pikirannya saat ini, karena itu bukan urusan Rama sama sekali.


"Aku ... seketika marah."


"Mak— maksud kamu?"


"Tante tahu? waktu mamah Annisa datang, aku langsung seneng banget. Aku seneng karena akhirnya nemuin sosok ibu yang tepat buat aku. Sosok ibu yang sayang sama aku dan benar-benar ngerawat aku."


"..."


"Aku yang ngerasain semuanya sendiri. Seketika dibantu sama mamah Annisa dan itu buat aku bahagia banget."


Sakilla sangat terpukul melihat wajah sang anak yang begitu sumringah karena hal ini. Entah, hatinya ikut sakit melihat Rama yang begitu bahagia karena sosok ibu dan alasannya itu bukan datang dari dirinya yang merupakan sosok ibu kandung bagi Rama.


Sementara itu,


Dengan senyuman sangat lebar, Rama menyentuh hatinya.


"Hati aku kayak bersinar tante ... keberadaan mamah benar benar buat aku sebahagia itu. Banyak hal yang nggak pernah aku lakuin dan mamah mewujudkannya semua untuk aku dan aku beneran sayang banget sama mamah."

__ADS_1


Kepala Rama sedikit condong ke Sakilla.


"Dan tante harus tahu, awal mamah sama ayah nikah. Ayah sempet bersikap jahat sama mamah Annisa. Tapi aku marah! dan dari situ ayah suka ngambek. Soalnya aku yang baru kenal sama mamah Annisa udah bela mamah segitu nya di banding ayah yang udah dari bayi tinggal sama aku."


Rama terkikik, membayangkan wajah kesal ayahnya kala itu.


"Tapi aku jawab gini! aku memang udah sama ayah dari lama. Tapi mamah yang buat aku ngerasa aman dan nyaman di rumah ini. Makanya ayah punya banyak waktu dong sama aku! Biar aku bisa adil bagi kasih syang aku!" ucapnya dengan semangat. "Dari situ tante bisa simpulkan sendiri?"


Sakilla menggeleng ragu.


"Itu artinya ... mau selama apa pun ayah hidup sama aku. Tapi kalau ada orang baru dan mampu ngebuat aku ngerasa jadi seorang anak seutuhnya. Maka aku bakalan pilih orang baru itu," ucapnya pelan. "Dan harusnya tante paham. Sosok ayah aja bisa tergantikan sama sosok mamah Annisa. Apa lagi sosok tante yang nggak ada kontribusi sama sekali di hidup aku!"


Dan seketika Sakilla mengumpat pelan. Bingung harus bereaksi seperti apa.


"Tapi ... apa salahnya kalau bunda mau deket sama anak bunda sendiri?" ucap Sakilla pada akhirnya.


Rama mengibaskan tangan di udara.


"Dari awal memang nggak ada salah. Tapi sikap tante yang buat aku sama ayah kesel. Harusnya tante sadar sih kalau tante bukan siapa-siapa sekarang di sini."


"Kamu berani ngomong gitu!" geram Sakilla. "Gimana sih Bram sama perempuan itu ngajar kamu? Kenapa kamu malah tumbuh jadi anak pembangkang begini? Mana ada anak yang ngomong kayak tadi ke ibu kandungnya sendiri?"


Rama menarik napas dalam. Mulai lelah, tapi masih ada yang harus dia tanyakan.


"Sebelum tante marah, harusnya tante tahu ... yang buat aku yakinin diri di sini tuh karena ayah sama mamah. Ayah yang selalu ajarin aku buat menerima keadaan dan merelakan hati supaya bisa ngomong sama tante dan mamah yang selalu ajarin aku untuk nggak jahat sama orang yang udah nyakitin aku."


Rama menajamkan pandangan.


"Karena kalau mamah nggak ajarin kayak gitu. Mungkin sekarang aku udah lebih jahat sama tante (?)"

__ADS_1


__ADS_2