
"Nanti kalau udah ketemu sama mamah kamu. Kamu mau ngapain?"
Rama menggumam. Tangan telunjuknya berada di pipi tanda ia sedang berpikir keras. Bram terkekeh.
"Ayah cuma nanya kayak begitu. Tapi respon kamu kayak ditanya dengan asean aja. Duh, nak. Memang betingkah banget ya kamu ini. Padahal dari kemaren ayah denger loh apa aja yang mau kamu lakuin sama mamah Annisa. Tapi sekarang kenapa malah bingung?"
"Karena ... sangking banyaknya yang mau aku lakuin sama mamah!" jawabnya pelan. "Aku jadi bingung deh mau milih yang mana."
Bram terkekeh dan menggeleng.
"Iya deh, terserah kamu aja. Ayah yang salah."
"Memang ayah yang salah."
Bram mendesis. Tidak akan pernah ada hari dia menang dari anaknya. Rama terlalu pintar mencari alasan dan Bram selalu kalah dengan jawaban Rama yang bahkan selalu ada di luar nalar tersebut.
"Ayah ... ini masih lama?"
Rama menangkup wajahnya. Mulai menatap bosan pada barisan mobil yang ada di depannya. Ia mengeluh melihat jalanan yang sangat macet.
"Masih lama sayang. Kenapa? kamu butuh sesuatu?"
Rama mengangguk. "Boleh makan nggak yah? sekalian aku mau makan cemilan. Boleh cari tukan jajanan dulu nggak? soalnya tadi bekal tadi pagi juga udah habis."
Bram melirik kotak bekal yang ada di bangku belakang. Bahkan ia juga belum makan sama sekali. Tadi, Rama yang menghabiskan semuanya sendiri. Dan sekarang Bram juga sadar kalau dirinya juga sedikit lapar.
"Ya sudah ... kita cari makan dulu. Tapi tunggu ya. Semoga di depan sana ada tukan jualan."
"Siap ayah!"
Bran terus menjalankan mobil. Mobil turut berhenti saat mobil di depannya berhenti. Jalanan tak berhenti macet sejak tadi. Padahal bukan waktunya liburan. Tapi jalanan ke kampung Annisa nggak pernah absen untuk macet.
"Kayaknya ... kalau kapan-kapan kita ke rumah mamah Annisa lagi. Mendingan kita naik kereta ya nak. Ayah bener pusing lewatin jalanan yang macet banget kayak gini. Isi semuanya cuman mobil doang. Nggak berhenti dari tadi."
__ADS_1
Bram memijat keningnya yang terasa pening.
"Ih Rama mau naik kereta!" serunya semangat. "Ayah belum pernah loh ajak Rama naik kereta," sebal Rama. "Padahal dulu aku pernah ngajak ayah buat naik kereta loh. Tapi ayah nolak mulu."
"Iya Rama ... maafin ayah ya. Nanti kita naik kereta seperti yang kamu mau. Nanti kita pergi sama mamah Annisa. Oke?"
"OK!'
Bram kembali fokus sama jalanan. Sampai beberapa saat akhirnya Bram bertemu dengan pusat jajanan. Ia langsung memutar mobilnya dan masuk ke pusat jajanan itu. Lalu mengajak Rama untuk turun.
***
"Gimana? enak?" tanya Bram sambil membasuh bibir Rama yang belepotan dengan saus kacang.
"ENAK BANGET YAH!" jawabnya semangat setelah meminum jus jeruk yang ia pesan. "Nanti pas pulang. Kita makan di sini lagi ya yah. Aku mau makan sama mamah. Pasti mamah juga suka makanan di sini. Selera makanan aku sama mamah kan nggak beda jauh," jawabnya yang semangat.
Bram terkekeh.
"Udah kenyang kan!" Rama mengangguk. "Kalau gitu kamu ke toilet gih. Ayah nggak mau kalau kamu kebelet pas di tengah jalan. Soalnya kita udah masuk di desa. Pasti nggak terlalu gampang buat cari kamar mandi," suruh Bram.
Dari tempatnya duduk. Bram masih bisa memantau sang anak supaya tidak pergi terlalu jauh. Lalu ia memilih memainkan ponselnya dan entah kenapa tiba-tiba dia juga merasa kebelet.
"Duh kok Rama agak lama ya," serunya.
Dia tak mungkin meninggalkan barang mereka di atas meja. Yang ada semua barang di sana bakalan raib. Bram nggak mau mengambil resiko dengan meninggalkan semua barang cuma karena kebelet.
"Kamu lama banget," omel Bram begitu melihat Rama datang. "Kamu jaga barang di sini dulu ya. Ayah mau ke toilet dulu."
Bram buru-buru beranjak ke toilet. Tapi sekelebat dia melihat mertuanya. Ia menghentikan langkahnya dan mencari dari arah yang ia lihat. Tapi tak ada orang yang di maksud. Sayang ia merasa udah di ujung dan buru-buru masuk ke toilet.
Begitu keluar, Bram kembali menoleh kesana-kemari untuk mencari orang yang sepertinya dia lihat.
"Tapi ... tadi beneran kayak ibunya Annisa," gumam Bram bingung. "Aku juga dengar suara bapak kok. Tapi di mana mereka?"
__ADS_1
Bram menelisik kesana-kemari.
Sampai Rama menarik bajunya. Anak itu terpaksa menghampiri Bram sembari membawa semua barang yang ada di meja. "Ih ayah ayok! lama banget," kesal Rama yang menyodorkan semua gadget mereka itu.
Rama spontan membantu membawakan semua barang yang di bawa sang anak.
"Ayah kenapa diem di sini sih?" tanya Rama dengan kening mengkerut. "Aku panggilin dari tadi juga. Soalnya meja tadi mau dipakai orang. Tapi ayah kayak lagi cari orang. Ayah cari siapa? memangnya ada siapa di sini?" tanya Rama beruntun.
Bram menggeleng dan berlutut di depan anaknya.
"Kamu duluan ke mobil dulu ya. Ayah mau beli minuman sama jajanan dulu buat di jalan," alibi Bram. "Takut yang kamu beli tadi nggak cukup buat bekal perjalanan kita."
"Ih ... aku mau ikut!" protes Rama dengan cepat.
Bram menggeleng.
"Nggak usah ... mendingan kamu nunggu di mobil aja. Ini di sini ramai banget. Ayah takut kalau kamu ke napa-napa. Mendingan ada di mobil. Adem, kamu bisa main HP. Kamu bisa sendiri kan?"
Rama cemberut tapi ia tetap menurut.
Bram sedikit mendorongnya meminta Rama pergi.
Baru setelah Rama menghilang dari jarak pandangnya. Rama keliling di area yang sebenarnya sangat besar ini. Tapi ia nggak menemukan siapa-siapa. Padahal ia cukup yakin sama apa yang ia lihat. Sampai Bram ingat sesuatu dan ia berhenti di depan jualan yang sedang tutup.
"Bodoh!" Bram merutuki dirinya sendiri. "Kenapa nggak dari awal nelepon orang tua Annisa!"
Bram buru-buru menghubungi orang tua Annisa. Berharap dijawab. Tapi kenyataannya nomor orang tua Annisa malah diluar jangkauan. Bahkan bukan cuma ibu Annisa doang tapi bapaknya juga.
"Bentar deh ... ini sebenarnya kenapa? pada ke mana?" tanya Bram yang perasaannya semakin terasa tidak enak. "Ini mah pasti ada sesuatu yang buruk nggak sih?" tanya Bram pada dirinya sendiri.
Bram berusaha memutar otaknya tapi sama sekali tidak menemukan jawaban sama sekali dan pada akhirnya. Ia bergegas menghampiri mobil dan membanting pintu.
"Ayah!" Rama mengelus dadanya. "Pelan-pelan dong. Terus mana jajanan Rama?" tanya Rama yang nggak paham akan keresahan Bram.
__ADS_1
"Diam dulu Rama! ayah harus fokus. Kita harus ngebut sekarang. Jadi, jangan banyak tanya dan makan saja jajanan kamu! itu sudah lebih dari cukup."