
"Mas ih? masa sekarang?"
Annisa menggeleng panik. Dia sangat takut akan respon Rama nantinya. Dia juga tahu kalau yang Bram maksud itu menceritakan tentang kehamilannya pada Rama. Annisa memang bahagia, tapi dia takut kalau Rama akan merasa tidak suka. Mengingat selama ini Rama gak pernah bahas tentang seorang adik sama sekali.
"Kenapa?" tanya Bram tanpa bersuara sambil menatap Annisa
Annisa menggeleng.
"Ini sebenarnya ada apa?" tanya Rama yang sejak tadi menatap ayah dan mamahnya bergantian. Ia tidak tahu apa yang dibahas sama orang tuanya, tapi ia jelas tahu kalau ada yang di sembunyikan sama orang tuanya dan sepertinya ini cukup penting.
Bram menghela napas pada akhirnya.
"Ya sudah ... nanti malam ada yang mau ayah bicarain sama kamu. Jangan sekarang," putus Bram pada akhirnya. "Dan sekarang mendingan kamu istirahat lagi. Ayah yakin kamu pasti masih capek kan?"
***
"Mas ... jangan sekarang. Aku beneran takut kalau Rama belum siap. Takutnya dia malah sedih gitu loh yang. Makanya aku nggak berani buat ngomong sama Rama. Ya kamu tahu sendiri lah sekarang suasananya belum pas buat bahas hal yang serius begini."
Bram menepuk pahanya, dengan cemberut Annisa tetap mendatangi Bram dan duduk di pangkuan suaminya. Dengan sigap Bram memeluk tubuh Annisa dan mengusap perutnya yang masih rata.
"Anak itu pasti mengerti dan juga mas nggak mau di undur undur buat masalah ini. Apalagi kita belum cek sama sekali janin kamu. Masih banyak yang harus di urus, jadi mas mau selesaiin satu per satu. Makanya mas mutusin buat omongin ini sekarang."
Annisa meremang. Perasaannya masih nggak enak. Ia menyamankan posisi di pangkuan Bram dan memeluk menyamping tubuh Bram. Ia menelusup masuk ke ceruk leher suaminya dan menghirup dalam-dalam aroma tubuh Bram yang nyatanya mampu membuat dirinya sedikit lebih tenang.
__ADS_1
"Aku takut kalau Rama bakalan mikir yang macem-macem."
"Enggak ... mas yakin kalau anak itu sudah dewasa. Dia gak bakal mikir yang macem-macem. Kalau pun memang di sedih atau ngerasa agak gimana. Biar mas yang ngomong empat mata sama dia. Kamu tenang aja. Rama nggak bakal gimana-gimana. Dia bakalan menerima anak kita dan adik nya itu."
Bram masih melihat Annisa yang bimbang.
"Memangnya kenapa sih?" tanya Rama merapihkan poni Annisa, menyelipkannya di belakang daun telinga Annisa. "Kenapa kamu keliatan khawatir banget? bukannya malah bahagia ya karena mau kasih kabar menyenangkan ini ke anak kamu?"
Annisa menghela napas lagi.
"Aku pernah baca kalau seorang anak bakalan merasa terancam saat punya adik. Seorang anak bakalan merasa posisinya bakal direbut sama sang adik. Apalagi maaf ya mas kalau aku ini cuma ibu tiri Rama ... kamu paham lah image ibu tiri yang kadang buruk. Makanya aku banyak baca cuitan, komentar sampai artikel yang bahas tentang kesedihan seorang anak pas ibu tirinya punya anak, terus dia ngerasa nggak pernah disayang lagi sama ibu tirinya. Aku takut ... Rama juga ngerasain yang sama. Apa lagi Rama sering baca. Aku takut kalau dia terpengaruh sama komentar orang lain."
Annisa menatap nanar perutnya yang masih rata itu.
"Pas aku pertama kali tau hamil aja. Aku langsung mikirin perasaan Rama. Aku beneran takut kalau dia kecewa dan marah."
"Istri mas hebat banget sih ... selalu mikirin perasaan orang terlebih dulu ketimbang perasaan sendiri." Bram mengusap lembut rambut Annisa. "Tapi sekarang mas punya pertanyaan buat kamu."
"Iya?"
"Kamu ... sama nggak kayak ibu tiri yang diceritain sama semua orang itu?"
Annisa mengangguk. "Aku yang baca malahan kesel mas. Bisa-bisanya ada ibu sambung yang kayak gitu. Pas belum ada anak dia sayang sama anak tirinya. Tapi pas punya anak kandung sendiri, dia abaiin anak tirinya dan cuma sayang sama ibu sambungnya doang. Kalau begitu dia gak tulus lah ... aku beneran janji sama diri aku sendiri supaya gak sama kayak mereka."
__ADS_1
Bram hanya bisa tersenyum simpul melihat Annisa yang menggebu-gebu ceritanya. Bahkan istrinya itu sampai mengepalkan tangan dan wajahnya memerah, ikut kesal sama topik pembahasan mereka.
"Nah kalau begitu ... apa yang kamu khawatirin? kamu nggak bakalan sama kok kayak mereka."
"Hah?" bingung Annisa menatap suaminya.
"Iya ... buat apa kamu khawatirin hal yang bahkan belum terjadi? tadi kamu bilang kalau takut Rama merasa seperti orang lainnya. Tapi kan kamu nggak bakal jadi ibu tiri yang kayak begitu? jadi apa yang harus kamu takutin? nggak ada ... jadi nggak usah lah mikirin hal begitu."
"..."
"Kalau memang Rama sedikit sedih. Ya kita jelasin aja sama dia kalau adanya dedek bayi nggak membuat kasih sayang dia bakalan hilang. Dia tetep ngerasain jadi anak kesayangan kita dan kita jelasin aja gimana serunya menjadi seorang kakak. Mas yakin kalau dia bakalan bahagia dengarnya."
"Iya juga ya ..."
Bram mengangguk. Ia mengusap surai rambut indah Annisa.
"Jadi ... kamu setuju kan kalau nanti malam bakal jelasin sama Rama? mas mau tau dia tahu tentang ini dari kita. Bukannya malah orang lain."
Annisa mengangguk lagi.
"Karena habis ini masih banyak yang harus kita lakuin. Mas mau temuin bude, pakde. Terus kita juga harus ke kampung halaman kamu buat jelasin semuanya dan setelahnya mas mau urus masalah Sakilla. Jadi ... kita harus selesaikan semuanya secepatnya."
Annisa kembali memeluk Bram dan mengangguk.
__ADS_1
"Iya mas ... maaf ya."
"Gak ada yang perlu minta maaf. Mas paham sama apa yang dipikirin kamu," ucapnya dan memberi kecupan di kening Annisa. "Mas yang harusnya makasih karena kamu udah mikirin keluarga mas di atas apapun itu."