
"Bram mau membawa Annisa kembali ke rumah kalau pakde tidak keberatan. Sudah cukup lama, Annisa pergi dari rumah dan memang sudah waktunya Annisa kembali. Di tambah, di sana ada dokter kandungan yang sudah saya percaya soalnya keluarga besar saya sudah mempekerjakan dokter itu dari lama sekali."
Bram menyentuh tangan Annisa dan mengusapnya perlahan. Ia tersenyum tipis sambil mengangguk, seolah mengatakan pada Annisa untuk percaya saja pada dirinya.
“Ya sudah ... pakde sudah melihat ketulusan di mata kamu. Pakde percaya sama kamu, toh sepertinya Annisa cuman senang saat bersama kamu. Jadi, pakde nggak bisa melarang lagi selain membiarkan kalian untuk bersama.”
Bram berterima kasih sekali lagi.
“Tapi pakde apa ada yang masih membuat pakde ragu tentang Bram?” tanya laki-laki itu dengan pandangan menelisik. “Soalnya ... citra aku kan sedikit terlihat buruk di mata pakde dan bude karena masalah waktu itu. Jadi,” ucapannya terhenti dan ia menghela napas. “Sebelum kami kembali ke kota. Bram mau membersihkan nama saya terlebih dahulu.”
Pakde malah bangkit membuat Bram menatap dengan bingung. “Nggak usah di pikirkan lagi. Selagi kamu benci sama kamu waktu itu. Annisa selalu membela kamu, padahal di situ posisi nya dia lagi ada masalah sama kamu. Jadi, setelah pakde pahami ... kamu itu memiliki peran cukup besar sama hidup Annisa. Jadi, pakde cukup percaya sama kamu. Asal kamu nggak berbuat ulah lagi aja.”
Rasa bahagia di dalam diri Bram langsung membuncah. Dia mengangguk.
“Pasti pakde ... saya nggak akan melakukan hal konyol yang mana membuat istri saya sendiri pergi dari hidup saya. Bram janji akan menjadi kepala keluarga yang baik buat Annisa, Rama, sama dedek bayi di perut Annisa.”
Pakde semakin yakin menyerahkan ponakannya pada laki-laki di hadapannya ini.
“Rama?” panggil pakde. “Benar begitu?’ yang dijawab dengan anggukan semangat dari anak itu. “Hahaha ... kamu lucu banget sih. Nih sekarang pakde mau kasih makan kelinci, gimana? Kamu mau ikut ... di belakang halaman mau nggak?”
Rama mengangguk.
Ia mengikuti kemana pakde pergi, meninggalkan Annisa bersama Bram. Berakhir dua orang itu memilih untuk ke mobil untuk membawakan oleh-oleh untuk sang pakde. Tidak, Annisa hanya diam saja. Melainkan Bram yang bolak-balik pergi menuju rumah dan mobil karena banyaknya oleh-oleh yang dibelikan asistennya di mari.
“Rama beneran udah ketemu sama mbak Sakilla?” tanya Annisa setelah Bram duduk di kursi sampingnya
Bram berdeham, “tapi anak itu kayak nggak nerima Sakilla sih dan Sakilla juga beneran gak tau diri karena malah buat sandiwara baru biar nama dia keliatan bagus dan nggak salah sama sekali. Padahal ... awalnya pas dia ke rumah, mas mau nanya alasan dia ngelakuin ini semua dan sejak kapan dia suka sama kakak kamu. Tapi jawabannya malah ngalor ngidul.”
__ADS_1
“...”
Bram mendesis, ikut marah saat mengingat kala itu.
“Nggak paham lah, dia beneran aneh banget. Nggak jelas sama sekali. Ya .... karena mas semakin kesal, mas suruh aja dia pulang.”
Bram melirik ke arah Annisa dan tersenyum lega saat tak melihat wajah marah dari istrinya itu. “Eh pas pulang dengan bodohnya dia minjam HP mas, terus mas kasih aja, karena alesan dia mau ngabarin keluarganya. Eh, nggak taunya dia malah minjem hp mas buat hubungin kamu. Jadi ... mas beneran kecolongan banget dan ini semua karena kesalahan mas sendiri. Jadi ... dengan segenap hati mas mau minta maaf sama kamu.”
Annisa mengangguk.
“Tenang aja mas, aku udah nggak marah kok. Toh ini memang pure salah Sakilla.”
Bram membawa Annisa ke pelukannya dan mengusap punggung Annisa.
“Duh yang udah kepisah lama, keliatannya sekarang mesra banget.”
Bram sama Annisa langsung bangun dan tertawa canggung, “eh bude,” papar mereka secara bersamaan
“Biar Annisa bantu,” tawar Annisa
“Nggak usah ... kamu masih butuh istirahat, jangan capek-capek. Udah biar bude aja, kalian santai aja dimari.”
“Makasih bude ...”
***
“Pasti dong ... di sini pakde sama bude juga udah pasti nyari tau tentang orang tuanya Annisa,” ucap pakde setelah Bram meminta untuk menghubungi dirinya kalau ada kabar tentang orang tuanya Annisa. “Kami di sini juga turut minta maaf ya sama kamu. Karena ulah orang tuanya Annisa, malah membuat kamu jadi pusing begini. Kemarin Annisa mengirim pesan pada kami dan bilang kalau semua hutang udah lunas sama kamu. Jadi, kami semakin merasa nggak enak. Kami akan cari cara untuk bayar semuanya.”
__ADS_1
Bram langsung menggeleng.
“Eh nggak usah pakde,” sela Bram dengan cepat. “Nggak usah di pikirin. Masalah Annisa juga masalah saya. Jadi, saya ikhlas membayar semuanya asal Annisa tidak pusing lagi. Yang penting sekarang semua urusan sudah selesai dan kami tinggal cari tahu kabar orang tuanya Annisa saja.”
Pakde dan bude banyak-banyak berterima kasih, membuat Bram jadi tidak enak sendiri.
Mereka terus berbicara di meja makan hingga suasana benar-benar terasa seru dan tak terasa waktu sudah sore. Sudah waktunya Bram dan Annisa untuk pergi, karena mereka mengambil jam perjalanan malam supaya tiba di kampung Annisa saat pagi.
“Kalian sudah mau pamit?” tanya bude dengan sedih
“Iya bude ... tapi Annisa janji akan sering-sering datang ke sini, atau nggak hubungin bude. Biar bude sama pakde nggak merasa kesepian. Bude sama pakde juga boleh kok datang ke rumah nanti. Iya kan mas?” tanya Annisa meminta pendapat Bram
Langsung saja Bram mengangguk.
“Benar bude, pakde ... kalian bisa datang ke rumah. Pintu rumah akan terbuka lebar untuk menerima kedatangan kalian,” Bram tersenyum lebar
Setelah puas berpamitan, kini Bram, Annisa dan Rama sudah beranjak menuju stasiun dan setelah beberapa saat akhirnya mereka tiba juga di stasiun yang dituju. Di sana sudah ada pekerja Bram yang menunggu karena habis mengurus tiket untuk atasannya itu.
“Oh iya ... kamu sudah menyuruh orang untuk rental mobil di sana kan? Perkiraan kalau saya tiba di tujuan, mobilnya bakal udah ada kan? Saya tidak perlu menunggu lagi?” tanya Bram
Orang suruhannya mengangguk.
“Tuan tenang aja ... semua urusan sudah selesai. Nanti ketika tiba di tujuan, tuan akan bertemu dengan kenalan saya dan dia sudah membawakan mobil yang tuan pinta. Tuan tenang aja, kalau memang ada yang kurang. Tuan bisa menghubungi saya.”
Bram mengangguk dan mengucapkan terima kasih banyak-banyak karena sudah banyak membantunya belakangan ini.
Lalu tak lama kereta tiba dan keluarga Bram bergegas masuk dan duduk sesuai tiket yang sudah di pesan.
__ADS_1
“Aku harap semua masalah cepat selesai,” ucap Annisa sebelum mereka berangkat dengan tangan yang bertaut dengan Bram
“Mas harap juga begitu ...”