Istri Dadakan

Istri Dadakan
Harapan Kecil


__ADS_3

Rok di atas mata kaki yang dipadu dengan kemeja putih lalu rompi bunga-bunga kecil dari merek ternama kini sedang Annisa kenakan dan sejak tadi perempuan itu hanya terus menatapi cermin. Perempuan yang kesehariannya nggak pernah dandan itu kini dibuat panik karena dirinya bingung memastikan kalau dia sudah rapih atau belum.


"Ah ... aku mending tanya yang lain."


Annisa mengikat cepol rambutnya, membiarkan beberapa helai juntaian rambutnya terjatuh di pipi dan bekalang leher nya. Perempuan itu juga mengambil tas yang sudah ia siap kan lalu turun ke bawah dengan langkah kecil.


"Masya Allah mbak Annisa, cantik sekali."


Langkah Annisa terhenti dan perempuan itu mengerjap sambil menatap bingung ke arah para pelayan yang sudah menatap dia dengan sangat kagum.


"Kalian pada kenapa?"


"Mbak ada acara? pokoknya ... mbak beneran cantik banget. Mbak mau ke mana? kita semua pada pangling loh ngeliat mbak yang kayak gini. Nggak biasanya mbak itu dandan dan nggak biasanya mbak pakai baju sebagus ini."

__ADS_1


"Ah itu .. nggak berlebihan kan?"


Mereka semua langsung menggeleng dan mengacungkan dia jempolnya. Mereka terus mengatakan kalau penampilan Annisa yang terbaik dan nggak ada yang bisa ngalahin sama sekali.


"Saya ada acara sama mas Bram dan Rama. Jadi, memang sengaja lebih rapih. Tadinya mau nanya sama kalian. Takut kalau saya ini terlalu berlebihan atau dandanannya nggak bagus. Tapi, respon kalian malah bagus banget. Saya jadi sedikit bahagia dan nggak terlalu gugup kayak tadi."


"Tapi, beneran deh mbak. Ini bukan karena mbak atasan kami doang atau gimana. Tapi mbak beneran secantik itu. Mbak harus percaya diri karena itu nambah buat orang semakin tertarik sama mbak. Mbak nggak usah gugup. Kalau kita lihat, mbak itu sangat menarik. Jadi ... semangat ya mbak dalam memperjuangkan hak mbak."


Annisa menatap bingung.


"Sedikit tahu tentang pernikahan kamu, nak," jawab salah satu bibi yang memang selalu ada di mansion Bram dan berperan sebagai mengatur keperluan rumah ini. "Jadi, bibi tahu kalau kamu pasti bisa lewatin ini semua. Kamu udah hebat banget sampai detik ini dan bibi juga ngeliat suatu perubahan dari tuan Bram setelah menikah sama kamu kok. Jadi, sampai detik ini bibi cuman mau bilang sama kamu kalau kamu itu hebat!"


Mata Annisa berbinar. Ia sangat terharu karena masih banyak orang yang peduli sama dia. Annisa menyalimi tangan mereka satu per satu. Membuat beberapa pelayan berteriak panik, karena nggak pantas seperti ini.

__ADS_1


"Mbak ... jangan kayak gini. Kita cuman pelayan mbak doang. Nggak pantes salaman gini sama majikan. Jangan ya mbak, nggak enak kalau tuan sampai tahu juga."


Annisa tersenyum sangat tipis.


"Ih ... kan aku udah bilang. Aku ini nggak perlu di anggep seperti atasan kalian. Kita semua ini sama. Aku nggak suka kalau di sanjung segitunya dan kalian nggak perlu takut mas Bram bakalan marah. Karena aku bakal kasih tahu mas Bram untuk nggak terlalu tegas sama kalian. Jadi, kalian panggil biasa aja ya."


"Kalau itu yang mbak mau, insya Allah akan kami laksanakan terus."


Tanpa pikir panjang sama sekali Annisa berterima kasih pada mereka semua yang sudah membuatnya lebih percaya diri. Tak lama, supir keluarga memanggil Annisa dan memintanya untuk pergi sekarang.


"Mohon bantuannya ya pak." Annisa duduk di dalam mobil dengan sangat canggung.


"Iya mbak ... sudah tugas saya. Jadi, sekarang kita ke tempat les den Rama dulu?"

__ADS_1


"Iya Pak."


Selanjutnya, Annisa hanya memandang ke arah jalanan saat mobil mulai melaju. Kali ini dia berharap semuanya akan berjalan lancar.


__ADS_2