
Annisa tidak tahu, rasanya dunianya berhenti saat itu juga. Satu hal yang kalian semua harus tahu. Dirinya memang sangat membenci sang kakak, karena sudah membuatnya di posisi yang kesulitan. Sangat membenci sang kakak, karena sejak kecil hanya kakaknya saja yang menjadi kebanggaan dua orang tuanya. Sementara dirinya terus saja di singkirkan.
Tapi,
Tetap saja ... mereka hanyalah dua bersaudara yang selalu melakukan apa-apa bersama. Mereka telah melewati semua nya bersama. Walaupun sedikit merasa iri dengan nasib sang kakak karena selalu mendapat kebaikan. Tetap saja, mereka banyak melakukan hal bersama dan banyak hal indah di hidup mereka.
Hanya karena masalah ini saja, mereka sampai berpisah. Rasa sakit yang saat ini Annisa rasakan sangat jauh di banding rasa sakit saat tahu dulu kakaknya mengalami penyimpangan.
"Mas ..."
Bram mengangguk dan semakin mengeratkan pelukan pada istrinya.
"Mas turut berduka cita ya. Nanti kita secepatnya kasih kabar ke orang tua kamu dan mengunjungi ke sana. Karena mau bagaimana pun keluarga kakak kamu itu harus datang ke peristirahatan terakhirnya."
"Mas ... aku udah jadi gagal jadi seorang adik."
Bram menggeleng. Ia memegang pipi istrinya, mengusap terus air matanya yang turun. Hati Bram sangat sakit lihat istrinya yang rapuh seperti ini. Makanya dari tadi, Bram sedang berusaha untuk menggunakan kata-kata yang tak terlalu membuat Annisa sakit. Tapi tetap saja ...
Nyatanya kehilangan orang yang di sayang nggak akan semudah itu untuk ikhlas.
"Kalau aja dari awal aku dulu sempat cegah kakak, biar nggak pergi dari hidup aku. Andai aja dulu aku bisa terus nemenin kakak dan nggak sibuk kerja sendirian. Biar kakak gak ketemu sama mbak Sakilla. Pasti nggak akan kayak gini ..."
__ADS_1
Bram mengangguk lagi, berusaha menjadi pendengar yang baik untuk istrinya itu.
"Mas ... aku mau ke sana, aku mau datang ke makam kakak. Kasihan dia. Pasti dia sendiri. Dia pasti ketakutan. Kakak kan takut gelap. Pasti kakak sekarang lagi nunggu aku."
"Tenang dulu ya Annisa. Jangan kayak gini, nanti yang ada kakak kamu nggak tenang di atas sana. Pasti sekarang ini kakak kamu lagi sedih karena melihat adiknya yang begitu dia sayang meraung kayak gini."
"Gimana aku bisa tenang kalau tau keadaan kakak aku sekarang!" bentak Annisa tanpa sengaja.
Napas perempuan itu memburu. “Aku marah mas sama kakak aku, marah banget. Harusnya dia nggak pergi ninggalin aku lebih dulu! Harusnya dia datang temuin aku. Harusnya dia minta maaf dulu sama aku dan orang tua aku. Bukannya malah pergi begitu aja. Harusnya dia melakukan banyak hal untuk kami. Bukannya hilang kabar dan malah kembali dengan kabar duka kayak gini.”
Bram terus mengusap punggung Annisa.
Banyak perkataan kasar yang di lontarkan Annisa dari pekikan yang cukup kencang hingga Bram merasakan suara Annisa semakin melemah di pelukannya dan tubuh lemas perempuan itu. Menandakan Annisa tertidur di dalam tangisannya.
Dengan pelan Bram mengusap pipi Annisa dengan lembut.
“Di pernikahan ini, rasanya aku cuman memberi kesedihan doang ke kamu. Maaf ya Annisa. Maaf karena mas nggak bergerak cepat buat cari kakak kamu. Maaf karena mas udah bodoh dalam melakukan pencarian ini dan melakukan semua ini dengan santai. Mas memang bodoh.”
Cukup lama Bram memandang wajah istrinya itu sebelum mencuri kecupan di kening perempuan itu, selanjutnya Bram beranjak mengambil ponselnya. Dan berjalan keluar. Bram langsung menghubungi orang tuanya. Perbedaan waktu antara negara ini dengan negara orang tuanya tinggal cukup jauh. Jadi, Bram nggak akan mengganggu waktu tidur orang tuanya.
/Hallo nak, bagaimana? Orang daddy kamu sudah menemukan keberadaan mantan istri kamu itu kan?/
__ADS_1
Bram menghela napas. “Iya mom ... tolong sampaikan terima kasih aku ke daddy karena udah baik banget sama Bram dan membuat usaha asisten Bram jadi membuahkan hasil. Benar kata mom, kalau ada masalah. Tinggal bilang aja sama daddy. Pasti daddy bakalan cepet dapetin penyelesaian masalahnya."
/Alhamdulillah kalau begitu ... nanti minggu depan, mom sama dad baru bisa ke sana ya. Kamu selesaikan dulu saja. Di sini mom cuman bisa ngasih saran kalau kamu jangan pernah gegabah. Kamu jangan pernah juga terdoga sama mantan istri kamu itu. Mom udah bilang kamu, untuk urus surat perceraian kamu sama Sakilla. Udah di kerjakan belum?/
"Sudah mom ... tapi untuk yang satu ini, mom nggak perlu khawatir sama sekali. Karena Bram masih bisa mengurus hal ini. Nggak cuman itu aja, Bram juga udah urus surat cerai yang mom suruh. Tapi ini masalahnya dengan kakak Annisa. Ada suatu hal yang harus mom tahu ..."
/Ada apa? Kenapa kedengeran serius kayak gini?/
Bram mrnelan saliva dan menggigit bibir bawahnya. Dia menarik napas dalam.
"Baru Bram dapat kabar dari asisten Bram, kalau ternyata Namira alias kakak dari Annisa meninggal dunia. Asisten ayah dan asisten Bram nemuin Sakilla juga karena data pemakaman dari kakaknya Annisa ini dan sekarang Annisa lagi nangis terus. Bram bingung. Bram nggak pernah jaga orang nangis. Bram harus apa mom?"
/Untuk sekarang, kamu cukup diam. Mom rasa pasti istri kamu itu masih emosi. Jadi, mom nggak mau kalau nanti Annisa tersulut emosi karena ucapan kamu yang terkadang nyakitin itu. Mendingan kalian sama-sama tenangin diri. Karena mau bagaimana pun. Di sini yang lagi sedih bukan Annisa saja. Pasti kamu juga kan?/
Bram terdian, rasa sedih yang sejak tadi tertahan tiba-tiba saja mulai terasakan. Sakit hati yang sejak tadi Bram tahan kini mulai terasa. Tangannya semakin mencengkram kuat ponsel yang ada di genggamannya itu.
/Mau bagaimana pun pasti sekarang kamu lagi sedih kan? Di hadapi sama mantan istri kamu yang kamu kira udah meninggal. Tapi sekarang malah berdiri di depan kamu dan kamu benar-benar mengetahui fakta kalau dia sudah bohong sama kamu. Pasti kamu juga lagi sedih kan? Kalian lagi sama-sama terluka. Benar apa kata mom?/
Mau tidak mau Bram menghela napas kasar.
Ia juga sama sakitnya. Hanya saja Bram tidak mau terlalu memperlihatkan kesedihannya. Karena laki-laki itu enggak mau Annisa bertambah sedih. "Mom ... kenapa Sakilla jahat sama Bram? Apa sebenarnya yang kurang dari Bram. Sampai dia tega meninggalkan Bram sama anak kami," ucap Bram pada akhirnya.
__ADS_1
/Nak ... ya ampun, kamu juga nggak baik-baik aja. Nak, denger kata mom—