
"Tuan ..."
Bram menoleh sebentar dan kembali sibuk sama ponsel nya membuat Annisa menarik napas dalam. Berusaha mengontrol emosinya. Supaya tidak meledak-ledak lagi.
"Tuan ... maaf kalau kali ini saya mengganggu tuan lagi. Tapi ada yang mau saya tanyakan tentang istri tuan itu. Apa tuan udah ada kelanjutan mengenai omongan yang aku bilang pas itu? karena ... aku nggak tau harus cari cara gimana lagi buat nemuin kakak."
"Memangnya apa yang mau kamu lakukan setelah bertemu sama kakak kamu itu?" tanya Bram pada akhirnya sambil menatap lurus ke arah Annisa. "Kenapa kamu kelihatan ingin sekali bertemu sama kakak kamu. Dia kan sudah campakan keluarga kamu. Nggak hanya itu saja .. dia membuat kamu dan keluarga kamu jadi memiliki hutang yang besar. Jadi, harusnya kamu nggak senang kalau bertemu sama dia lagi."
Annisa memegang pinggiran sofa dan mencengkram kuat. Begitu banyak alasan yang ingin ia katakan untuk bertemu sang kakak. Tapi hatinya terasa sedikit sakit, untuk melontarkan satu per satu alasan itu.
"Kamu nggak suka dengan pernikahan ini?" tanya Bram dengan wajah sangat datar.
"Maksud tuan?" tanya Annisa yang terkejut.
"Kamu ingin bertemu kakak kamu tak lain karena kamu mau protes sama semua kesalahan yang dia lakukan kan? dan karena ulah kakak kamu itu juga, kamu jadi menikah sama saya dan bertemu sama Rama. Jadi ... saya rasa salah satu alasan kamu bertemu sama kakak kamu itu untuk protes sama dia tentang keadaan kamu yang sekarang."
Annisa menghela napas kasar dan tertawa tipis sambil menggeleng lalu sedetik kemudian dia mengangguk. Tidak ada yang salah sama omongan dari Bram. Semua yang dia katakan memang benar adanya.
"Siapa yang bahagia sama posisi aku yang sekarang?" protes Annisa lalu tertawa tipis.
"Menikah dengan laki-laki kaya?" balas Bram dengan menyombongkan kekayaannya. "Kamu bisa merasakan rumah sebesar ini, padahal kamu nggak pernah masuk ke rumah kayak gini. Kamu juga nggak perlu repot-repot kerja untuk hasilin banyak uang. Sekarang aja kamu sudah bisa ngasih uang yang banyak untuk orang tua kamu tanpa ini itu. Jadi, apa yang kamu sesalkan?"
Annisa memainkan ujung bajunya. Ia rasa pendengarannya sedikit salah mendengar sama omongan Bram.
__ADS_1
"Tuan nggak salah ngomong?"
"Maksud kamu?"
"Aku sama sekali nggak butuh uang. Yang aku butuhkan ya cuman pengakuan. Aku nggak pernah peduli sama uang, tapi di sini tuan yang jadi masalah!" Annisa menunjuk Bram. Ia berusaha memberanikan diri dan menatap mata Bram tanpa gemetar sama sekali."
"Saya?" Bram menunjuk dirinya sendiri. "Apa yang membuat saya menjadi alasan ketidaksukaan kamu sama pernikahan ini? Ah ... saya sedikit paham. Mungkin kamu nggak suka mendapat suami seorang duda ya? kamu lebih suka sama laki-laki yang perjaka gitu? Ya ... saya tahu sih. Siapa yang mau sama laki-laki yang udah punya anak? jadi .. ini alasan kamu memaksa saya untuk bertemu sama kakakmu itu?"
"Aku sama sekali nggak pernah permasalahin status orang lain!" perjelas Annisa dengan kesal. "Kalau dari awal aku nggak suka sama status tuan. Udah seharusnya aku nggak suka juga sama Rama! tapi apa?! aku nggak pernah macam macam kan sama Rama? aku nggak pernah tuh permasalahin Rama. Aku malah sayang banget sama Rama. Dia salah satu orang yang buat aku nyaman tinggal di sini."
"Lalu?"
"Tuan ... aku juga mau kali punya suami yang perhatian dan nggak kaku kayak tuan!" seru Annisa yang sudah tidak tahan sama sekali. "Terserah tuan mau bilang apa, tapi kenyataan nya memang begitu. Aku udah terlalu males. Aku punya bayangan indah tentang seorang suami di hidup aku. Jadi, aku mau wujudin semua mimpi-mimpi aku dan tentunya bukan sama tuan. Bukan sama laki-laki yang bahkan gak bisa berlaku baik sama aku."
"Kenapa?" sengak Annisa sambil mencibir. "Tuan nggak merasa kayak gitu?" tanyanya lagi membuat Bram urung untuk membalas dan memilih diam.
"Tuan ... aku tuh punya mimpi. Menikah sama laki-laki yang mencintai aku. Aku bukannya nggak bersyukur karena punya suami kayak tuan. Tapi .. pernikahan kita terjadi bukan karena alasan penting. Tapi karena tindakan bodoh aku dan aku rasa kita nggak akan bertahan lama. Jadi, nggak salah kan kalau aku mengatakan kayak gini? Aku beneran nggak peduli sama apa yang tuan bilang. Tapi aku yakin kalau tuan juga terpaksa sama hubungan ini kan?"
Bram masih diam.
"Aku janji ... kalau misalkan kita cerai, tuan bisa mencari perempuan yang bisa mengurus tuan lebih baik dan lebih penting, tuan bisa mencintai dia. Tapi ... aku minta tolong ya sama tuan. Kalau kita udah cerai. Aku tetep di izinin buat ketemu sama Rama. Aku udah terlanjur sayang sama dia. Aku beneran nggak bisa lepas sama Rama."
"Hmm ... kita lanjut nanti."
__ADS_1
Bram tidak mengatakan apa-apa. Dia memilih meninggalkan Annisa yang menatapnya kecewa. Karena nggak mendapatkan apa yang dia mau.
***
"Nak Rama ... tante mau tanya deh sama kamu. Kamu pernah nggak deh ke kuburan bunda kamu?" tanya Annisa sambil menatap penuh harap. "Tante kan juga mau datang ke sana. Tante mau kasih doa, terus kasih bunga yang banyak biar kuburan bunda kamu jadi wangi. Jadi, karena tante nggak mau bilang sama ayah kamu. Tante jadinya nanya ke kamu aja."
"Oh ... tau dong!" jawab Rama membuat mata Annisa yang mendengar langsung berbinar.
"Kamu beneran tau?"
Rama mengangguk dengan sangat yakin. "Ayah selalu datang ke sana. Kita sering ke sana dan aku sering perhatiin jalan juga. Jadi, aku masih lumayan inget. Tante mau datang ke sana? kita datang tanpa ayah gitu?"
Annisa mengangguk!
"Iya ... tante mau dateng berdua aja sama kamu. Kamu mau kan? tante mau ketemu sama bunda kamu. Biar kita bisa menceritakan apa aja yang udah kamu alamin selama ini ke bunda kamu."
"MAU! AKU MAU KE MAKAM BUNDA!" pekik Rama dengan sangat bahagia.
"Tapi ini rahasia kita berdua ya," peringat Annisa dengan berbisik. "Jangan ada yang sampai tau. Apa lagi ayah kamu. Kita ke sana cuman berdua. Nggak ada yang lain lagi!"
"Oke bunda ..."
Annisa kemudian mengalihkan pandangan dan memandang ke arah lain. Ia terus berdoa dan berharap, semoga semua yang ia mau berjalan dengan baik. Dia nggak akan pernah bisa melewatkan kesempatan apa pun. Dia harus pergunakan waktu dengan baik. Karena nggak ada yang bisa dia harepin di sini.
__ADS_1
/Pokoknya .. aku harus bertemu sama kak Nami! karena sampai kapan pun, aku akan marah sama semua yang dia lakuin ke aku! sama ke ibu dan bapak ../