Istri Dadakan

Istri Dadakan
Menyindir?


__ADS_3

Selama di perjalanan, mobil benar-benar terasa hening. Tidak ada nyanyian hangat seperti biasanya. Tidak ada perbincangan yang memenuhi seisi mobil. Semuanya sibuk dengan pikiran masing-masing dan merana sendiri.


Suasana terasa semakin mencekam saat hujan mulai turun. Rintik kecil itu mulai memberontak ke bumi menggantikan gerimis kecil itu menjadi hujan yang besar.


Annisa mencengkram kuat belt yang membentang di tubuhnya. Sedikit takut membayangkan dirinya nanti akan naik kereta sendiri di tengah cuaca yang seperti ini.


"Kamu beneran mau pergi?" tanya Bram sambil menoleh ke arah Annisa begitu lampu jalanan berwarna merah. "Kalau kamu mau healing, mas nggak masalah kok mesen kamar hotel sampai satu minggu asal masih satu kota sama kamu. Jadi, kalau kangen atau ada apa-apa bisa langsung datang. Tapi kalau jauh kayak gini. Sedikit susah, apalagi dulu tuh kamu pernah bilang sama mas. Kalau sinyal di kampung agak susah," peringat Bram. "Jadi ... kalau misal nanti kita nggak bisa teleponan untuk sekedar ngasih kabar gimana? padahal kan mas mau sama kamu terus. Masa nggak di kasih izin sih ..."


Annisa tersenyum tipis.


"Maaf ya mas ... tapi aku beneran udah kangen sama ibu dan bapak. Kamu tahu sendiri kan kalau terakhir kali ketemu itu pas waktu itu dan itu pun dalam keadaan yang kurang baik. Makanya, aku mau balik dulu. Satu minggu aja kok. Nggak lama kan?"


Bram menjalankan mobilnya lagi dengan cemberut.


"Bagi kamu mungkin nggak lama tapi bagi mas itu lama banget."

__ADS_1


"Nggak apa-apa mas, selama nggak ada aku kan kamu bisa ketemu sama mbak Sakilla—


"Hah?!" sela Bram yang begitu terkejut. "Kenapa tiba-tiba bawa Sakilla ke omongan kita? dan apa maksudnya ketemu kayak gitu?" seru Bram dengan cepat. Terselip nada panik dan Annisa jelas merasakannya.


"Hahaha ... bercanda mas. Maksud aku tuh kan masalah kamu sama mbak Sakilla itu belum selesai. Jadi wajar gitu kalau kalian saling ketemu. Toh, nggak ada yang salah juga kan? memang apa yang salah dari omongan aku?" tanya Annisa bertanya balik


"Ya enggak sih, aneh aja karena tiba-tiba kamu bawa-bawa nama Sakilla. Padahal kita nggak ada bahas dia sama sekali tuh."


Annisa menatap cermin, jalanan sampai tidak terlihat karena hujan yang terus turun ke bumi. Seolah langit tahu kalau dirinya juga merasakan sedih yang begitu dalam dan ingin menangis, mengeluarkan air mata, seperti air yang terus turun dari langit.


"Hah?"


"Iya mm... setiap omongan kita ngarah ke mantan istri kamu. Kamu pasti ngelak, seolah benci banget. Aku nggak paham kenapa. Tapi bukannya ini terlalu berlebihan ya mas? bahkan kamu juga nggak kasih izin aku buat ketemu sama mbak Sakilla. Eh ... ngomongnya sih kasih izin, tapi kamu nggak pernah tuh bahas ini lagi."


Seakan terkunci, Bram kini diam. Bingung harus menjawab apa. Sesekali Bram melirik ke Rama lewat kaca spion mobil. Ia mendapati Rama merengut dan duduk menyandar ke jendela.

__ADS_1


"Bukan itu maksud mas ..."


Annisa menggeleng.


"Oh iya mas ... kamu kan selalu bilang ke aku, kalau ada apa-apa jangan sungkan buat cerita sama kamu. Nah aku juga mau kamu begitu ya mas. Jangan simpen sendiri masalah kamu. Kamu harus bagi semuanya sama aku. Karena aku beneran nggak suka sama orang yang bohong. Lebih baik sakit di awal, dibanding kecewa karena diam diam tahu kebohongan orang yang kita sayang."


"Hah? Kamu—


"Yeay ... kita udah sampai," potong Annisa saat Bram sudah memarkirkan mobil di parkiran stasiun.


Annisa buru-buru membuka pintu mobil dan membuka payung yang sejak tadi sudah dia bawa. Tanpa mendengar panggilan Annisa, perempuan itu langsung keluar dan beranjak ke pintu belakang. Membuka pintu lalu gendong Rama. Annisa berlalu ke stasiun dan meminta Rama untuk menunggu di tempat yang tertutup.


Setelahnya, Annisa kembali dan memayungi Bram yang menerobos hujan sambil membawa tas besarnya.


Belum tiba di tempat Rama berteduh, Bram menahan lengan Annisa dan menatap lurus mata istrinya dengan begitu serius.

__ADS_1


"Maksud kamu ngomong kayak tadi itu apa ya?"


__ADS_2