Istri Dadakan

Istri Dadakan
Cemburu


__ADS_3

Annisa menghentikan langkahnya untuk sesaat saat melihat Bram yang menggandeng Rama, berjalan beriringan. Annisa tersenyum sangat puas melihat mereka yang seperti ini. Lantaran dirinya benar-benar jarang sekali melihat interaksi ayah dan anak itu secara intens.


Sengaja Annisa berjalan lebih perlahan supaya memberi waktu untuk mereka. Saat sedang berjalan, tak lupa wanita itu menatap sekeliling.


Oh iya, Annisa belum memberi tahu ya? Saat ini mereka sudah mengenakan baju biru dongker. Annisa juga milih buat meminjam baju mbak Sakilla. Karena Annisa sama sekali nggak pernah peduli. Mau Mbak Sakilla sudah jahat sama keluarganya. Dia nggak ada hak untuk membenci barangnya juga.


Selain itu,


Saat ini mereka sedang berada di sebuah pusat perbelanjaan. Tidak hanya itu saja, rasanya Annisa terharu. Karena, hal kayak gini tuh jarang banget ada di kampung.


Dulu tuh ... Kalau mau ke supermarket. Pasti mereka harus berjalan cukup jauh dan naik kendaraan yang lama. Itupun nggak semewah yang ada di sini. Tapi sekarang? Bahkan ia menginjakkan kaki di mall yang bahkan nggak berani dia bayangkan sama sekali karena merasa takut sakit hati jika tidak terbayarkan.


Ini semua benar-benar di luar bayangan hidupnya.


Annisa menyilangkan tangan di dada dan mengusap lengan satu sama lain. Ia menarik napas kecil dan tersenyum sangat lebar.


"Ya Allah ... Engkau memberi begitu banyak hadiah untuk Hamba. Bahkan Hamba nggak pernah meminta sejauh ini. Hamba selalu meminta kebahagiaan dan rezeki lancar untuk keluarga Hamba. Tapi engkau malah memberi sejauh ini."


Di tengah hiruk pikuk yang ada di tempat ini, rasanya Annisa mau menangis.


Bukan sedih, melainkan bahagia.


Tanpa sadar langkahnya terhenti dan perempuan itu trtinggal cukup jauh dari Bram dan Rama. Ia memilih menumpu tubuhnya di salah satu toko. Ia menarik napas dalam.


"Anda baik-baik saja?"

__ADS_1


Annisa mendongak dan seorang laki-laki yang kelihatan khawatir sedang menatapnya. Wajah mereka yang lumayan dekat membuat Annisa dengan cepat langsung mundur dan tersenyum canggung.


Wajah pria asing yang begitu tampan di depannya ini langsung melangkah mundur dan tersenyum nggak enak.


"Maaf kalau saya mengganggu kamu ..."


"Eh nggak," balas Annisa sambil menyilangkan tangan berulang kali. "Kamu nggak ganggu sama sekali kok. Ya ampun, maaf."


"Hahaha ... tidak usah sampai segitunya. Kamu nggak perlu minta maaf dan saya juga maaf karena sudah lancang bertanya kayak tadi ke kamu. Karena dari jauh saya udah melihat kamu bersandar di toko ini sambil menunduk. Saya hanya khawatir kalau kamu sedang merasa sakit atau ada hal yang buat kamu berdiam kayak tadi. Makanya saya sedikit lancang ke kamu ..."


Annisa menunduk sopan.


"Ah iya ... makasih banyak, karena sudah khawatir dan memperhatikan orang di sekitar. Tapi, saya baik-baik saja kok. Saya nggak ada masalah sama sekali."


"Baguslah kalau begitu," pria tadi menghela napas lega dan sedetik kemudian ia mengulurkan tangan. "Oh iya, maaf sebelumnya. Perkenalkan nama saya Wawan. Kamu?"


Belum sempat Annisa protes, ia melihat suaminya yang menatap dengan serius dari tempatnya berdiri.


"Kenapa kamu malah ada di sini dan siapa laki-laki ini? Kenapa kalian pegangan tangan. Kamu baik-baik aja kan? Nggak di jahatin sama laki-laki ini?"


"Namanya tuan Wawan, mas. Tadi dia yang sempat ngebantu aku," dusta Annisa sedikit. Supaya Bram nggak semarah itu.


"Terus kenapa kamu masih ada di sini? Kenapa kamu nggak mengikuti kami? Aku sama Rama khawatir tau nggak sih. Takut kamu kesasar. Eh di sini ternyata kamu malah lagi sama pria lain. Ya ampun Annisa ..."


"Ish bukan kayak gitu."

__ADS_1


Dengan cepat Annisa mendorong suaminya dan sekaligus ia menoleh pada Wawan untuk meminta maaf. Ia menunduk sopan dan mengucapkan terima kasih.


Wawan balas mengangguk dan langsung melangkah pergi. Baru mereka sedikit menjauh, Annisa memukul punggung Bram membuat Rama terbelalak. Kaget karena mamahnya itu berani banget.


"Benar-benar ya kamu, mas ... malu tau sama tuan Wawan yang tadi. Padahal dia udah ngebantu aku. Kamu malah kayak nuduh dia gitu. Ya ampun ..."


"Lagian kamunya sih," balas Bram yang masih menatap dengan penuh perasaan kesal. "Aku tuh khawatir banget sama kamu. Kita sampai muter buat ke sini lagi. Tapi kita malah lihat kamu yang lagi ngobrol sama laki-laki lain. Mana deket banget lagi. Kan mas nggak suka ..."


Salah satu alis Annisa terangkat, dia memiringkan wajah. Karena bingung sama ucapan dari suaminya itu.


"Kita nggak sedeket itu lagi," balas Annisa yang tidak kalah sewot.


Walaupun dulu Annisa sedikit takut sama Bram. Karena emosi laki-laki itu benar-benar di luar nalarnya. Tapi saat ini dirinya sudah berani, lantaran Annisa merasa kalau dirinya benar. Maka dirinya nggak perlu diam aja apalagi sampai mengalah.


Makanya dia memilih menjelaskan apa yang terjadi.


"Jadi, gitu mas ... aku kayak beneran ling lung banget karena inget masa lalu dan tuan Wawan nanya keadaan aku. Nggak ada yang salah sama sekali kan? yang salah itu kamu! karena di sini kamu yang nuduh nggak jelas. Beneran deh, mas. Aku nggak paham banget sama yang kamu pikirin itu. Kayak ... ya ampun."


"Udah ih ... mamah, ayah. Nanti keburu malem loh. Kan aku mau main dulu di tempat mainan," seru Rama berusaha menghentikan pertengkaran orang tuanya. "Ayuk ikutin aku! Aku tau tempatnya," seru anak itu dan lewat begitu aja di tengah Annisa dan Rama lalu melangkah pergi.


Melihat kepergian sang anak, Annisa buru-buru mengikuti Rama setelah ia mendelik di depan wajah suaminya.


Melihat itu Bram yang sedang emosi malah terkekeh dan beranjak mendekati istrinya. Setelah dekat ia langsung menarik tangan Annisa dan menggenggamnya dengan sangat erat.


Annisa menoleh.

__ADS_1


"Mas nggak marah, mas hanya cemburu ..."


__ADS_2