
Baru juga datang, bahkan belum mengucapkan salam. Ibu nya Annisa itu langsung menyuntrung kepala anaknya. Untung saja Bram langsung sigap menahan tubuh Annisa, kalau tidak pasti Annisa akan terjatuh karena dorongan nya cukup kencang.
"Bu?" kaget Annisa.
"Kamu nih ya, harusnya kamu bisa bujuk suami kamu kalau kami memang nggak suka berdiri di sini. Harusnya kamu bisa nekanin ke suami kamu. Kalau hubungan ibu sama anak itu udah nggak ada sejak dia menjaminkan kita waktu itu. Kamu kan tau sendiri bagaimana bencinya ibu sama anak itu," bisik ibu Annisa dengan pelan sambil menarik lengan anaknya. "Kamu nggak ngertiin ibu sama sekali ya!"
“Bu ta— tapi,
“Alah ... memang busuk hati kamu kalau udah bicara tentang ibu. Punya dua anak nggak ada yang bener sama sekali. Yang satu malah suka sesama jenis dan jadi anak pembangkang. Satu nya lagi cuman bisa nyulut emosi. Nggak ada gunanya kamu sama kakak kamu itu.”
Annisa melangkah mundur kecil.
Bahkan mereka belum masuk ke dalam rumah dan bapaknya juga masih menurunkan barang di bantu supir. Tapi ibunya udah marah seperti ini.
“Bu tapi kan nggak seharus—
__ADS_1
“Apa?!” balas sang ibu membuat Bram sigap menjauhkan Annisa dari jangkauan mertuanya itu. “OH. Sekarang udah ada yang bela, jadi kamu bisa bersikap seenaknya sama ibu? Hadeh ... benar kan memang nggak ada gunanya ibu merawat kalian dari kecil. Karena pas gedenya nggak ada yang bikin bangga. Semuanya kacau.”
“Sudah lah, bu ...” bapak Annisa datang sambil merangkul istrinya. “Kita masuk dulu, marahnya di dalam saja. Nggak enak sama yang lain.”
Ibu Annisa mendengus dan melewati Annisa, menyenggol tubuh putrinya dan main masuk begitu saja. Annisa menarik napas dalam. Apa yang udah membuat ibunya marah sampai segini nya? Dan apa salah dia sampai mendapat omelan. Padahal mereka sudah lama tidak berjumpa. Di saat semua orang mendapat sebuah pelukan hangat setelah berjauhan lama dari orang tuanya. Tapi, orang tuanya malah memarahi dia sampai seperti ini.
“Nih bapak bawakan singkong dari kebun pak Tono kesukaan kamu itu. Lagi panen dia,” ucap bapak Annisa sambil memberikan sekantung besar berisi singkong.
Annisa menerimanya, “woah ... enak banget ini kayaknya buat di rebus atau di goreng. Ya ampun, aku pernah mimpiin makan singkong dari kebun pak Tono yang selalu enak ini. Pasti mantep banget kan. Makasih ya pak.”
“Ya sudah pak, bapak masuk dulu aja. Ada yang mau aku omongin dulu sama mas Bram di sini,” suruh Annisa dengan lembut.
Bapaknya itu mengangguk dan langsung meninggalkan dirinya begitu saja. Annisa mengikuti kepergian sang bapak. Sebenarnya sih, bapaknya itu sama saja. Bahkan kalau sudah kesal, omongan bapaknya terasa jauh lebih menyakitkan di bandingan omelan ibunya. Tapi bapaknya itu bisa mengontrol emosinya. Tapi ... nggak tahu lah. Annisa jadi takut nanti terjadi sesuatu karena kedatangan orang tuanya.
“Kenapa kamu nggak bilang?” tanya Bram tiba-tiba
__ADS_1
Lamunannya terpecah, “maksud kamu?” tanya Annisa. “Ah .. tentang orang tua aku ya? pasti kamu kaget kan karena orang tua aku yang kayak gini. Maaf ya mas. Belum apa-apa aja udah buat huru hara. Aku beneran takut kalau nanti malahan buat keadaan makin kacau. Kamu paham kan sama maksud aku?”
Bram tertawa, “bukan itu Annisa ... tapi, tentang singkong itu. Kenapa nggak dari dulu kamu ngomong mau makan singkong. Kan kita bisa beli di supermarket.”
“Ah ini,” seru Annisa sambil menunjuk kantong berisi singkong itu. “Kayaknya rasa singkong nya bakalan beda deh mas. Aku maunya singkong yang berasal dari kebun pak Tono. Soalnya selalu empuk kayak gitu. Enak deh pokoknya. Beda dan nggak alot gitu.”
“Oh ..” Bram mengangguk dan dengan sigap mengambil kantung itu. Tidak rela Annisa membawa barang yang berat. “Buat ke depannya, kamu kasih tau aja semua hal yang kamu mau. Insya Allah mas bakalan wujudin semua itu. Walaupun jauh juga, mas bakal usahain demi kamu.”
Annisa mencibir dan mendorong tubuh suaminya itu.
“Gombal kamu.”
“Bukannya gombal, tapi ini nyata!” tegas Bram lalu merangkul Annisa, membawanya masuk ke dalam rumah. “Mas mau memberikan hidup yang nyaman sama kamu tau,” beri tahu Bram lagi membuat Annisa menggeleng-geleng.
“Buat sekarang ke belakangin deh pemikiran itu. Karena yang utama, kita harus hadepin orang tua aku ini. Jadi, semangat yuuu,” bisik Annisa
__ADS_1