Istri Dadakan

Istri Dadakan
Riga


__ADS_3

"Susu, buah, vitamin, sayur. Gimana? udah semua?" tanya Bram sambil memastikan semua barang yang udah mereka beli di dalam troli


Bram mengangguk setelah merasa yakin semua barang yang mereka butuhkan udah ada di troli. Satu troli sudah tampak penuh dan kini giliran mereka bayar di kasir.


"Mendingan kamu nunggu di dekat kasir aja, sambil duduk Ini ramai banget dan mas nggak mau kalau kamu kecapean karena ini," perintah Bram saat sadar wajah Annisa mulai memucat.


Maklum saja lah, mereka sudah hampir mengitari supermarket hampir tiga jam. Niat awal ingin cepat-cepat pulang karena mereka mau membujuk Rama. Tapi semua itu harus terelakkan karena Bram benar-benar hati-hati dalam memilih semua barang kebutuhan.


"Aku masih baik-baik aja kok mas," papar Annisa berusaha menguatkan dirinya sendiri. Lagian Annisa nggak enak. Dari awal Bram langsung mendorong troli, lalu mencari segala kebutuhan, dia hanya berjalan mengikuti Bram. Selebihnya benar-benar suaminya yang mengerjakan semuanya. Dia juga tak enak kalau begini.


"Ish nurut dong apa kata suami!" gertak Bram membuat Annisa terkekeh.


"Lagian dari tadi kerjaan aku cuma diri doang mas di deket kamu. Jadi, aku beneran nggak apa-apa."

__ADS_1


Bram menggeleng. "Itu hampir ada tujuh orang yang ngantri. Belum nanti ada yang lama. Udah mending kamu duduk aja." Bram menengok kesana-kemari. "Ah ... di sana ada yang jual jus. Mas minta tolong beliin sama kamu. Beli jus jeruk buat mas dan buat kami terserah, yang penting sehat."


"Oke mas!"


Annisa meninggalkan Bram. Ya jelas perempuan itu tahu kalau suaminya sengaja menyuruh Annisa untuk membeli minuman supaya tidak ikut mengantri di antrian yang memang sangat panjang itu.


"Huh ... bisa-bisanya punya suami yang keren banget kayak gini," gumam Annisa perlahan yang sangat kagum dengan suaminya itu. "Pokoknya nggak ada yang bisa ngalahin kesigapan mas Bram sebagai seorang suami deh," puji Annisa lagi dengan suara pelan sambil sesekali menoleh ke arah Bram yang masih setia memperhatikan dirinya itu.


"Padahal masih di satu tempat. Tapi mas Bram masih terus liatin aku!" Ia terkikik. "Aku kayak anak kecil nakal yang harus terus di awasin."


"Ya ampun ..." Ia menggelengkan kepala lalu mulai fokus ke stand penjual jus tersebut.


"Mbak ... es jeruknya dua ya, bungkus saja."

__ADS_1


"Baik mbak, mohon ditunggu."


Annisa mengangguk dan mengeluarkan dompetnya. Mencari uang pas supaya tidak perlu menunggu kembalian. Sedang asyik merogoh dompetnya, tubuh perempuan itu di toel membuat Annisa menoleh perlahan.


"Eh?"


"Benar kan Annisa!" pekik laki-laki di hadapannya ini. "Gue udah lihat lu dari jauh. Tapi awalnya kaget karena nggak mungkin lu ada di sini, mengingat rumah lu jauh banget dari sini. Tapi mau langsung pergi takut kepikiran soalnya mirip banget sama lu. Eh ternyata bener kan kalau ini Annisa!"


Annisa tertegun dan langsung memeluk laki-laki itu dengan sangat erat. Kebahagiaan nya membuncah dan ia benar benar terharu melihat laki-laki yang dulu sudah menolong nya itu.


"Ya ampun ...," histerisnya perlahan. "Ini beneran lu?" tanya Annisa memastikan.


Laki-laki itu mengangguk dengan sangat cepat.

__ADS_1


"Riga ..."


Tapi Annisa lupa sejak tadi ada laki-laki yang melihatnya penuh amarah dari jauh. Tapi Bram nggak bisa apa-apa karena ia tepat di depan kasir dan harus membayar semua belanjaannya itu.


__ADS_2