Istri Dadakan

Istri Dadakan
Kecewa?


__ADS_3

/Apa hubungan aku sama Annisa sekurang jelas itu ya? bukannya selama kita yang tahu kalau kita ini sepasang suami istri tuh bakalan ya udah, nggak bakal ada yang peduli juga. Toh ini hidup kita, tapi kenapa kita harus dapet validasi dari orang lain. /


Di kursi kebesarannya, Bram terus memikirkan kata-kata yang begitu asing di benaknya. Ujung jarinya terus mengetuk ujung meja tanda dia benar-benar bingung sama semua jawaban dari pertanyaan yang ada di benaknya ini.


“Kalau sudah gini, aku harus ngelakuin apa?”


***


Sementara itu,


Tanpa Annisa tahu, kepergiannya ke kantin perusahaan ternyata di buntuti sama sekretaris Bram. Perempuan yang menjabat untuk mengurus data perusahaan itu sengaja berdiri sedikit jauh supaya istri dari atasannya itu tidak ke napa-napa lagi.


Annisa sendiri memilih untuk membeli beberapa makanan yang kelihatan sangat enak. Jujur saja, seluruh mata seolah tertuju menatap dirinya membuat Annisa terkadang nggak enak sendiri. Tapi, ia hanya terus jalan saja berusaha tidak peduli sama mereka.


“Huh ... ini pasti karena mereka tahu aku ini istri dari mas Bram,” gumamnya yang sedang menunggu pesanan selesai


Annisa mengedarkan pandangan, lagi-lagi ia bersiatap dengan beberapa orang dan mereka langsung mengalihkan pandangan saat Annisa membalas tatapannya. Jantungnya mulai berdegup, merasa tidak aman di tempatnya yang sekarang. Berulang kali Annisa membasahi kerongkongannya yang terasa sangat kering.


“Kenapa mereka semua lihatin aku kayak gitu?” gumamnya di dalam hati. “Ada yang salah sama penampilan aku atau gimana?” ucapnya lagi yang sedikit tidak terima


Perempuan itu terus menggerutu di dalam hatinya, tidak terima dengan tatapan semua orang yang terus menghakimi dirinya.


“Mbak ini yang lagi ramai dibicarain orang ya,” ucap ibu penjual saat menyerahkan pesanan Annisa


“Maksud ibu gimana ya?” tanya Annisa balik


“Iya ... tadi sempet rame karena tuan Bram nolong perempuan dan ngakuin kalau itu istrinya. Rame banget sih, apalagi dua resepsionis yang ada di lobby utama juga nggak tahu pada ke mana setelah dibawa pergi asisten tuan. Terus ... pas mbak datang ke sini, ternyata semua orang langsung ngomongin mbak gitu. Jadi, mbak orang yang dimaksud mereka kan?”


“Kalau iya, kenapa ... kalau enggak, kenapa?”


“Bukannya begitu mbak, tapi mbak nggak usah ladenin omongan orang-orang ya. Mereka memang selalu kayak gini, wajar kalau ada masalah semua orang langsung ngomongin. Jadi, maaf ya mbak kalau anak-anak sini buat mbak cukup risih,” aku ibu kantin yang memang lumayan tua itu. “Ini juga pakai acara gas habis, jadi harus beli dulu. Makanya saua sengaja ajak mbak ngobrol gini.”


Annisa menarik napas pelan.


“Iya nggak apa-apa.”


“Mbak mendingan masuk aja, kelihatannya mbak risih ya sama tatapan mereka.”


Akhirnya Annisa masuk ke dalam gorden lalu duduk di kursi plasti di dalam. Ia menghela napas sambil menyandarkan tubuhnya, jujur sekarang lebih terasa lega kalau kayak gini.


“Bu ... makasih ya, maaf ngerepotin.”


“Enggak mbak, nggak ada yang ngerepotin. Dari awal kedatangan kamu aja, ibu langsung sadar kalau mereka lihatin kamu terus dan kamu risih. Udah, sampai nunggu pesanan kamu datang. Kamu duduk aja di sini.”


Annisa mengangguk.


Dari sela etalase, ia bisa melihat banyak orang yang menatap ke arah warung ini. Annisa hanya bisa menatap nanar sembari menahan kegelisahan di dalam hatinya.


“Memang selalu kayak begini ya?” ucapnya tiba-tiba


“Maksud mbak?”

__ADS_1


“Ah enggak, bu. Saya cuman ngomong sendiri aja.”


Annisa terus menunggu dengan perasaan campur aduk. Sampai beberapa saat kemudian gas yang ditunggu datang dan pesenannya selesai.


“Kamu langsung masuk ke lift aja, jangan dengerin omongan mereka. Karena mereka nggak segan buat ngomong jahat sama orang yang mereka gosipin. Jangan nyari ribut sama mereka. Karena nggak bakal ada habisnya dan malah nambah masalah aja. Kamu cukup sabar dan tenangin diri. Jangan terpancing ya.”


“Makasih banyak bu atas sarannya.”


Dengan memberanikan diri Annisa melewati mereka. Bisik-bisik dan tatapan kembali membuat Annisa sempa ragu. Tapi dengan bermodalkan nasihat ibu tadi, Annisa terus melangkah tanpa mau menatap mereka satu pun.


/Setelah buat masalah, bisa-bisanya malah santai dan makan. Ya ampun memang nggak punya hati banget./


/Memang dia beneran istri tuan Bram, atau begimana sih?/


/Nggak mungkin lah ... tuan Bram punya banyak uang, kalau menikah juga pasti buat pesta yang besar biar semua orang tahu. Tapi ini nggak ada apa-apa. Jadi, kayaknya nggak mungkin deh./


Degh!


Langkah Annisa semakin memelan mendengar penuturan itu. Ia tersenyum tipis, membenarkan omongannya itu.


“Ah ... nggak usah sedih Annisa, yang penting pernikahan kamu sah di mata hukum sama negara,” ucapnya berusaha menenangkan diri sambil menekan tombol lift lantai suaminya.


“Nggak apa-apa Annisa ... nggak usah sedih gitu, kamu udah keren. Jangan mikirin mereka, aku mohon ...”


***


“Mas ...”


“Annisa ...”


“Kamu duluan aja,” pinta Bram sambil mengambil tisu dan mengusap lembut noda di bibir Annisa.


“Eh!” Annisa berterima kasih. “Kamu aja,” ucapnya


“Ada yang mas mau omongin sama kamu,” ucap Bram dengan sangat lembut. “Ini berkaitan sama pernikahan kita dan mas baru sadar karena tadi mommy sendiri yang bilang langsung sama mas.”


“Mommy ke sini?”


Bram menggeleng. “Tadi mas nelepon mommy,” dustanya


Annisa menatap nyalang, “kamu nggak cerita kan mas sama mommy tentang masalah tadi?” tanya Annisa dengan sedikit was-was. “Aku nggak mau kalau mommy sampai khawatir loh mas. Masalahnya, aku juga nggak enak sama mommy. Itu makanan kan kita berdua yang masak. Tapi, dengan sayangnya itu makanan malah kebuang gitu aja. Ya ampun ...”


“Kenapa malah mikirin makanannya loh, kamu yang harusnya di kasihani di sini,” seru Bram. “Mas juga udah cerita sama mommy. Bukan bermaksud buat mom kepikiran, mas cuman mau mommy tahu kelakuan karyawan mas di sini sama keadaan kamu juga.”


“Tetep aja mas ...”


Keadaan tiba-tiba menjadi hening karena Bram sendiri yang tidak mengatakan apa pun dan malah menatap serius pada Annisa.


“Mas ...,” panggil Annisa dengan perasaan tidak enak.


“Ada yang mas mau omongin sama kamu. Mas mau tanya, selama ini kamu pernah bertanya-tanya sama hubungan kita nggak? karena jujur aja tadi mom bilang kalau peristiwa yang kamu dapet sekarang tuh karena mas yang nggak kasih penjelasan sama hubungan kita. Dan ya ... sekarang mas kepikiran. Apa selama ini hubungan kita tuh kurang ya, sampai semua orang salah paham?”

__ADS_1


“...”


“Mas ngerasa ... selama kamu sama Rama baik-baik aja, nggak ada yang perlu mas khawatirin lagi. Yang penting kalian sama-sama baik. Tapi, ternyata apa yang mas pikiran nggak sejalan sama apa yang mom pikirin. Jadi, mas sekarang tanya sama kamu.”


Annisa terdiam.


“Apa kamu keberatan kalau hubungan kita kayak gini-gini aja? Atau kamu juga mau validasi dan mas umumin ke khalayak banyak tentang pernikahan kita?”


Annisa tertegun, sedikit tahu kalau ternyata suaminya ini sedikit santai akan hubungannya. Annisa jadi merasa hanya dirinya yang berjuang di hubungan ini. Tapi Bram tidak pernah peduli sama hubungan mereka.


Ia menarik napas pelan dan tersenyum tipis.


“Aku harus jawab jujur atau enggak nih?” pancing Annisa berusaha mencairkan suasana yang kaku


“Kita nggak lagi bercanda Annisa, jadi nggak usah malah balas nanya kayak gitu,” tegas Annisa membuat perempuan itu tersentak. “Tinggal jawab aja, kamu maunya gimana. Gampang kan? Jangan muter-muter dan malah buat mas pusing.”


“Kalau aku ngomong pengin yang orang lain lakuin gimana?”


Bram terdiam.


“Awalnya aku juga nggak peduli, beneran deh mas,” aku Annisa dengan serius. “Aku mikir sama kayak kamu, yang penting diri aku bahagia dan diri aku tahu posisi aku sebenarnya. Walau sesekali aku selalu bertanya-tanya tentang posisi aku di hidup kamu.”


“Ya aku suamimu lah,” jawab Bram


Annisa menggeleng, bukan itu yang dia butuhkan.


“Dari awal pernikahan kita memang sedikit aneh, mas. Kamu yang langsung ajak aku nikah tanpa kenalin orang tua kamu. Baru beberapa bulan setelah nikah, kamu baru ngenalin mereka. Itu pun harus orang tua kamu duluan yang turun tang. Awalnya sih kayak okei ... mungkin kamu nggak ada waktu buat ngenalin aku ke orang tua kamu. Jadi, aku nggak mau mikir yang macem-macem juga.”


“....”


“Terus semakin kesini, aku kayak nggak pernah kenal siapa kamu mas. Aku nggak tahu keluarga besar kamu kayak gimana. Aku nggak pernah diikut sertain sama semua masalah kamu. Kamu selalu nyuruh aku buat cerita, tapi kamu nggak pernah cerita. Sampai masalah mbak Sakilla,” ucapnya menyendu. “Bukan kamu doang mas korbannya, tapi juga aku. Jadi, wajar kali kalau aku mau ketemu mbak Sakilla ... tapi kamu ngelarang kayak tadi.”


“...”


“Aku juga nggak tahu tuh kamu apain mbak Sakilla, kamu cuman cerita sama mom dan dad doang. Mungkin, aku belum di percayain sama kamu ya. Atau memang akunya aja yang terlalu bodoh karena nggak bisa paham sama kondisi kamu atau akunya yang nggak akan bisa ngikutin pola pikir otak kamu. Karena kita yang beda,” jelas Annisa dengan perasaan super sesak


“Bukan begitu ...”


“Aku ngerasa di sisihin tahu, mas ...”


Annisa menarik napas.


Keluh kesah yang dia tahan selama ini akhirnya keluar juga. Di balik tas pada pangkuannya, ia mengepalkan tangan. Berusaha menahan rasa sedih yang menggebu.


“Aku ini isri kamu, tapi kayak bukan istri kamu ...”


“...”


“Dan, tadi aku denger dari pegawai kamu kalau aku cuman halu dan mereka salah dengar dari omongan kamu. Mereka nggak tahu kalau aku ini istri kamu, karena apa? ya karena mereka nggak pernah tahu kamu udah menikah. Yang mereka tahu cuman mbak Sakilla aja, bukan aku ... Karena kamu nggak pernah kenalin aku ke mereka.”


“Annisa ...”

__ADS_1


“Dan aku ngerasa semuanya itu bener.”


“Mungkin bagi kamu ini biasa, tapi enggak bagi aku ...”


__ADS_2