Istri Dadakan

Istri Dadakan
Layaknya Keluarga (2)


__ADS_3

Bram mengangguk untuk menanggapi pertanyaan dari Annisa tersebut.


“Kamu kenapa diam saja Annisa? Ini bukan masalah kecil. Untung saja mas sempat dengar pembicaraan kalian dan dirasa ada yang aneh, mas memilih untuk nelepon ibu kamu. Akhirnya karena ini mas bisa tahu apa yang terjadi dan pas itu mas sedikit marah ya sama kamu. Karena kamu beneran nggak anggap mas sama sekali sebagai suami kamu. Padahal ini hal yang penting.”


Annisa menunduk, memainkan ujung bajunya.


“Aku malu, mas ...”


“Kenapa harus malu, Annisa?” tanya Bram sambil menatap istrinya itu. “Mas malahan suka kalau kamu terbuka dan karena ini buat mas mau buat perjanjian penting sama kkamu.”


“Perjanjian penting?”


Bram mengangguk.


“Kalau ada masalah buat ke depannya, apa pun itu. Kamu harus cerita sama mas. Kita harus tau masalah satu sama lain. Biar kita bisa selesaikan dengan bersama. Dua kepala di satukan akan menciptakan suatu jawaban lebih jelas di banding memikirkan sendiri. Apapun masalah nya, mas akan cerita sama kamu. Kalau kamu juga ada masalah. Kamu juga wajib cerita! Kalau pun salah satu dari kita nggak tahu jawaban dari penyelesaian masalah. Paling nggak ... dengan membagikan masalah ke orang yang dekat sama kita. Akan membuat perasaan kita jauh lebih tenang kan?”


Annisa mengangguk.


Ia berjanji di hatinya sendiri untuk mengikuti apa yang suaminya pinta. Toh, ini demi kebaikan mereka berdua kan?


“Okei ... balik lagi, apa alasan kamu malu tadi? Mas beneran bingung, kenapa kamu bisa malu sama suami kamu sendiri.”


Annisa mulai menatap suaminya itu dengan perlahan.


“Bukannya aku udah sering bilang sama kamu ya mas, kalau aku selalu ngerasa nggak enak. Karena terlalu sering minta uang sama kamu,” jelas Annisa pada akhirnya. “Baru juga ketemu, aku udah minta kamu buat bayarin hutan aku sama keluarga aku. Dan itu bukan jumlah yang sedikit dan sekarang, kamu juga biayain keluarga aku. Bahkan ibu sama bapak sampai minta benerin rumah. Padahal itu udah hal yang sangat besar kamu kasih ke kami. Tapi sayangnya orang tua aku kalap dan malah minta mobil.”

__ADS_1


“...”


“Dan itu semua cuman karena gengsi,” lirih Annisa sambil menunduk. Perempuan itu segera merasakan punggungnya di usap sama Bram. Sepertinya laki-laki itu berusaha untuk menenangkan dirinya.


“Maksud aku nggak cerita sama kamu, karena aku beneran nggak enak banget sama kamu. Apa apa selalu kamu. Bahkan untuk pernikahan aja, kamu nggak biarin aku bayar sedikit pun. Makanya ... kadang aku malu sama kamu.”


“Annisa,” panggil Bram tapi perempuan itu malah menunduk.


Dengan terpaksa, Bram berdiri dan berlutut tepat di depan Annisa. Bram berusaha menatap wajah Annisa yang keliatan sedih.


“Aku malu, mas.” Lanjut Annisa dengan pelan. “Aku takut kalau keluarga aku terlalu bebanin hidup kamu. Apalagi bisa di bilang kita ini belum ada kenal sampai satu tahun. Takutnya kamu itu malahan risih sama keluarga aku. Dan aku takut kalau kamu ngerasa keluarga aku ini matre. Walaupun memang begitu adanya.”


“Hey ...,” panggil Bram membuat perempuan itu diam dan kembali menatap Bram dengan mata yang berbinar.


“...”


Annisa menunduk.


“Mulai sekarang, kamu nggak perlu khawatir sama sekali. Terbuka ya sama mas. Kita hadapi semuanya dengan bersama. Termasuk hal kecil kayak gini. Karena kita ini suami istri, kita ini sebuah keluarga. Jadi, mas harap kita nggak akan pernah memendam hal seperti ini.”


Lesung pipi Annisa mulai terlihat.


“Nah ... gitu dong senyum. Mas kan seneng lihatnya kalau kamu kayak gini.”


Bram bangkit dan menepuk kepala Annisa. “Jangan pernah sembunyikan apa pun dari mas ya Annisa. Mau itu masalah keluarga kamu. Karena sekarang urusan keluarga kamu, juga urusan mas. Bukankah kamu menginginkan hubungan pernikahan seperti pada umumnya? Dan ini yang biasa dilakukan banyak keluarga loh.”

__ADS_1


“Mas ...”


“Hmm?”


“Makasih banyak ya. Aku beneran beruntung banget bisa kenal sama kamu. Laki-laki yang punya hati luas dan benar-benar sebaik itu. Dari awal aku hanya mengira kalau pernikahan ini nggak bakalan berjalan dengan baik karena banyak masalah yang datang. Termasuk mantan istri kamu ini. Tapi ... ternyata sikap kamu yang dewasa, buat hubungan pernikahan yang nggak pernah aku bayangin sama sekali. Kini bisa terjadi sampai sejauh ini.”


“Sama-sama Annisa ... Sudah yuk, jangan nangis. Mendingan kita panggil Rama sekarang juga dan kita lanjutkan kegiatan perbelanjaan kita ini. Keburu malem. Karena mas mau ngajak kamu sama Rama makan malam di luar.”


Pada akhirnya, mereka langsung memanggil Rama. Walaupun sempat drama karena Rama yang enggan untuk pergi, sepertinya anak itu kesenangan ada di sini. Tapi untung saja Annisa bisa membujuk Rama.


Setelah meninggalkan area bermain. Bram mengajak mereka ke area kebutuhan rumah tangga. Dengan Annisa sama Rama yang terus memimpin dan Bram akan mengikuti dari belakang sampai mendorong troli.


Ini kegiatan pertama mereka secara bersama setalah pernikahan mereka berlangsung. Walau ini pertama kalinya aura kebahagiaan yang terpancarkan dari mereka membuat beberapa orang sempat melirik dan merasa iri.


Tidak hanya itu,


Rama juga menambah keseruan perbincangan mereka. Menciptakan banyak candaan yang menimbulkan gelak tawa pada orang tuanya. Suasana kali ini benar-benar membahagiakan.


Dan ... mereka berharap kalau selamanya akan terus begini.


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2