Istri Dadakan

Istri Dadakan
Ada Apa Ini?


__ADS_3

Hingga satu jam lamanya Annisa berdiri di rumah yang terlihat asing itu. Rumah besar yang terkesan sepi. Mewah namun tidak terlihat nyaman.


Annisa duduk di kursi sambil terus menghubungi orang tuanya atau sesekali ia mengetuk pintu. Tapi sampai detik ini tak ada jawaban sama sekali.


Perempuan itu mulai memikirkan kemungkinan yang terjadi. Hingga lamunannya buyar akibat suara ponselnya. Nama Bram memenuhi layar dan Annisa langsung mengangkatnya


"Hallo mas ..."


/Annisa? kamu udah sampai kan? kalau di lihat dari waktu di tiket sih seharusnya kamu udah sampai. Tapi ke napa kamu belum kabarin mas? mas khawatir tau nggak sih ... kamu udah di rumah ibu kamu kan? nggak ada apa-apa kan di jalan?/


Annisa memandang rumah orang tuanya. Memilih menyembunyikan masalah ini ketimbang suaminya akan memperbesar masalah kecil seperti ini.


"Maaf mas ... aku udah sampai dari tadi kok. Aku keasyikan mengenang masa kecil aku di sini mas. Jadi lupa sama waktu. Maaf ya mas. Jadi, kamu duluan yang ngehubungin aku kayak gini."


/Tidak masalah ... yang penting kamu baik-baik aja. Mas jadi lega mendengarnya./


"Oh iya ... gimana Rama mas? Dia nggak mengamuk kan? Aku jadi sedikit nggak enak sama Rama. Takut dia marah deh. Soalnya kita nggak bangunin dia kan pas pergi. Lagian aku juga nggak tega kalau pergi pas Rama nangis juga," lanjut Annisa dengan pelan.


/Hahaha ... tidak ada masalah kok. Rama sedikit mengamuk seperti dugaan kita. Tapi mas bisa nenangin dia kok dan udah, sekarang mas lebih lega karena udah dapat kabar dari kamu. Sekarang, mendingan kamu istirahat aja. Pasti capek kan udah perjalanan jauh?/


"Hmm ..."


/Ya sudah ... selamat liburan Annisa./

__ADS_1


"Iya mas, makasih."


Perempuan itu menghela napas. Memandang kosong ponselnya.


"Maaf mas aku bohong," gumamnya pelan. "Aku takut kalau. kamu khawatir dan malah maksa ke sini. Padahal sampai sekarang aja, aku nggak tau di mana ibu sama bapak."


Tidak mungkin diam saja.


Akhirnya Annisa menaruh semua barang di halaman rumah yang sedikit tertutupi oleh kursi. Lalu beranjak ke kebun yang dulu menjadi tempat pencaharian keluarganya. Di sana lagi dan lagi Annisa harus menelan kekecewaan karena tidak menemukan orang tuanya.


"Lagian ... emang nggak mungkin sih ibu sama bapak masih kerja kayak gini," gumam Annisa memandang puluhan pohon singkong di depannya. "Udah capek, panas, dapet uangnya nggak banyak. Pasti ibu sama bapak sekarang lebih milih diem di rumah. Kan mas Bram juga udah kirim uang tiap bulannya. Jadi, mereka nggak perlu capek capek lagi kayak gini."


Annisa bergegas kembali, lalu ia menemukan warung gubuk kecil dan memutuskan untuk membeli secangkir es. Untuk melepas dahaganya.


"Bu ... beli es teh manis ya," pinta Annisa dengan sopan ke penjual yang menjaga.


"Minum di sini aja bu."


Setelah memesan, Annisa duduk di kursi kayu yang menghadap ke jalanan. Ia menatap kesana kemari dan mengernyit bingung. Yang Annisa tahu, dulu kampungnya begitu ramai. Tak kenal waktu. Mau siang atau larut malam sekali pun. Pasti banyak orang yang lewat. Tetapi kenapa sekarang bisa sepi sampai seperti ini.


"Di sini memang sepi neng kalau siang kayak gini," ucap penjual itu sambil menaruh pesanan Annisa dan duduk di kursi dekat pintu warungnya. "Neng dari mana ya? kok ibu baru lihat?"


"Ah ... aku aslinya orang sini, bu. Anaknya bu Marni. Tapi memang beberapa tahun terakhir aku kerja di kota dan berakhir nikah di sana. Ibu kenal tidak sama ibu Marni?" tanya Annisa setelah menyeruput minuman

__ADS_1


"Ibu Marni?" tanyanya yang Annisa mengangguk. "Ibu Marni tuh yang punya rumah besar di ujung jalan itu bukan?" tanya ibu tersebut


Annisa mengangguk dengan cepat dan berbalik.


"Gimana? ibu kenal sama ibu aku? kalau boleh tahu, di mana ya ibu aku. Soalnya aku udah lama nggak punya ke sini dan bingung pas tau rumah kosong kayak gitu. Dihubungi juga nggak bisa. Jadi, ibi tau sesuatu nggak tentang ibu aku?" tanya Annisa penuh harap


"Ibu sih sebenernya baru di sini. Jadi belum terlalu kenal, tapi ada gosip terkenal tentang ibu kami."


Annisa mengangguk, mendengarkan baik-baik.


"Ibu kamu dikenal sombong sama orang kampung di sini. Dia selalu menyombongkan hartanya dan banyaknya uang yang ia terima. Dia juga selalu menyombongkan menantu nya yang berarti suami kamu ya?"


Dengan kikuk Annisa mengangguk.


"Pokoknya hampir semua orang benci lah sama ibu kamu. Udah sombong, ibu kamu juga sering merendahkan orang lain. Jadi, banyak yang nggak suka lah. Apa lagi kalau ada orang yang datang untuk pinjam uang. Bukannya di kasih pinjam. Ibu kamu malah marah dan meremehkannya."


"Ya ampun ..." Annisa meraup wajahnya frustasi.


Banyak kejadian buruk yang baru ia dengar dan ini membuat perempuan itu benar-benar malu. Ditatapnya ibu warung itu dengan raut menyesal.


"Bu ... atas nama ibu aku, aku minta maaf ya ... aku nggak tau kalau ternyata kelakuan ibu disini sampai kayak gitu. Ya ampun ... aku jadi nggak enak gini."


"Tidak masalah ... bukan kamu kok yang melakukan. Tapi ada suatu hal yang cukup besar terjadi karena ulah ibu kamu dan karena itu sampai sekarang, kami tidak pernah lagi melihat keberadaan ibu kamu atau pun bapak kamu dan rumah itu juga jadi kosong."

__ADS_1


Annisa menatap serius dan meneguk saliva.


"Ada apa bu?"


__ADS_2