
“Sekarang ayah mau kemana?”
“Kita istirahat dulu, besok pagi kita akan langsung cari mamah kamu ya.”
Berbeda dengan saat berangkat. Waktu perjalanan pulang, Bram sama Rama memilih untuk diam. Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing. Bahkan mereka tak ada niatan untuk bercanda sama sekali. Semakin mendekati rumah. Mereka semakin paham kalau posisi mereka sekarang ini cukup serius dan nggak bisa di remehkan sama sekali. Oleh karen itu, keduanya lebih memilih memikirkan apa yang harus mereka lakuin ke depannya.
“Ayah juga istirahat ya,” papar Rama dengan khawatir. “Kantong mata ayah udah item kayak gitu. Pasti karena ayah yang jarang tidur. Aku tau kalau ayah khawatir dan kepikiran terus. Aku juga gitu kok. Tapi tetep aja ayah harus tidur dan istirahat.”
Bram diam.
“Bunda sendiri pernah bilang kan ke kita kalau ada masalah tuh tetep harus lakuin hal kayak biasanya. Jangan malah jadi lupa ini itu. Soalnya ... kalau nanti kita ketemu sama mamah dan mamah tahu kalau ayah kayak gini. Pasti mamah bakalan marah banget. Jadi, ayah jangan lupain makan ya. Aku nggak mau ayah di marahin sama mamah."
"Tenang aja ... udah gih sana masuk ke dalam."
"Iya ayah."
Rama berlalu pergi. Tapi belum sampai di lantai atas. Dia melihat Rama berbalik dan langsung memeluk Bram bentar.
"Aku sayang ayah. Jadi, ayah jangan nyalahin diri ayah sendiri ya. Ayah punya aku. Jadi, kita hadapin ini bareng ya yah."
Selanjutnya Bram tertegun dan tidak bisa berkata apa-apa. Hanya memandang Rama yang berlari ke lantai dua tanpa menoleh sama sekali.
Suara pintu tertutup membuat Bram sadar dan ia mengerjap bingung sebelum tersenyum tipis.
"Ah ... anak itu memang semakin dewasa saja."
***
Malam sudah begitu larut dan balkon Bram masih terbuka. Hanya ada kepulan asap karena sejak tadi Bram tidak berhenti merokok. Hampir satu bungkus rokok ia habiskan dari tadi jam makan malam sampai saat ini.
__ADS_1
Bram tahu ini tidak baik. Tapi ia butuh ketenangan diri. Bram tidak tahu harus melakukan apa untuk menenangkan dirinya sendiri.
"Apa saya harus cari ke rumah Sakilla?" gumam Bram lalu menggeleng pelan. Merasa bodoh dengan pemikirannya sendiri. "Tapi ... buat apa ke rumah Sakilla? nggak ada guna nya sama sekali."
Bram meraih ponselnya dan pesan yang masih terlihat tanpa ada niatan ia buka terpampang nyata di layar ponsel.
/Nak Bram ... kamu bersedia datang ke rumah besok? di sini saya mau meminta maaf atas semua ulah Sakilla. Sama semua tingkah saya yang menurut kamu menyebalkan di masa lalu dan ada yang mau saya bicarakan ke kamu. Jadi, kalau kamu mau memaafkan saya. Tolong datang ke rumah besok pagi./
Bram menghela napas.
"Sudah lama ibunya Sakilla gak ngehubungin saya. Dulu terakhir dia ngehubungin tuh karena selalu jodohin dia sama kembaran Sakilla dan juga adiknya. Tapi kenapa sekarang tiba-tiba terdengar baik sekali?"
Bram sekali lagi membaca pesan tersebut dari notifikasi.
"Ah ... bener kata Rama. Saya masih ada dia. Jadi, lebih baik besok saya tanya ke Rama dulu. Saya harus kesana. Tapi kalau Rama. melarang. Nanti saya tidak perlu ke sana karena yang harus saya lakukan pertama kali itu datang ke makam Almarhum kak Namira. Siapa tahu karena lagi sedih. Annisa jadi datang ke makam kakaknya kan?"
Ia kembali menghirup nikotin tersebut dan menghembuskan nya. Setelah sedikit tenang. Bram menutup balkon dan terkejut melihat Rama yang udah tertidur di kasurnya.
"Duh ... saya lupa lagi kalau tadi Rama minta tidur bareng,".gumam Bram berusaha menyalakan pembersih udara supaya asap rokok yang tadi di biarkan masuk ke dalam kamar bisa hilang.
"Anak itu terus menempel," tawa Bram. "Kayaknya dia sadar kalau ayahnya lagi hancur banget. Jadi, takut kalau ayahnya ini malah macam-macam? makanya terus temani saya kayak gini."
Bram memandang Rama sebentar. Sebelum masuk ke kamar mandi untuk menghapus aroma tak sedap dari tubuhnya. Tak lupa ia juga berganti piyama sebelum tiduran di samping Rama.
"Apa pun yang terjadi, makasih banyak ya nak karena kamu tidak menyalahkan ayah," papar Bram sambil mengusap pelan pipi Rama. "Makasih karena kamu udah jadi anak baik dan nggak ngebuat ayah semakin merasa bersalah."
Bram mengecup pipi Rama hingga anak itu sedikit terusik. Buru buru Bram menepuk punggung Bram dan mendesis. Menciptakan suara menenangkan supaya Rama tidak jadi terbangun.
Setelah beberapa saat dan tidak ada tanda-tanda Rama akan bangun. Bram langsung menyelipkan lengannya di tangan Rama dan menarik tubuh Rama mendekat. Dia memeluk anaknya dan tak lama tertidur di dekapan tubuh Rama.
__ADS_1
***
Suara kicau burung membuat Rama terusik. Ia mengernyit, matanya masih tertutup. Malas bangun. Tapi suara jam weker membuat Rama terpaksa membuka mata. Ia mengerjap dan terkejut melihat wajah ayahnya yang begitu dekat di depan dirinya.
"Ayah pasti baru aja tidur," gumamnya saat mendengar dengkuran halus. "Aku kasihan sama ayah. Pasti beberapa hari ini ayah capek banget atas banyak hal di sini."
Rama memindahkan lengan Bram dengan perlahan. Supaya tidak terbangun.
Dengan langkah pelan. Ia mendatangi jam weker dan mematikannya. Ia juga menutup semua gorden, tidak membiarkan cahaya masuk dan membuat ayahnya itu bangun.
"Beres." Setelah memastikan gak ada hal yang membuat ayahnya bangun. Rama memilih keluar. Ia menutup pintu kamar dengan hati-hati dan bergegas turun ke bawah.
"Eh den Rama sudah bangun. Mau sarapan? bibi lagi masak sup hangat. Tapi belum selesai. Kamu mau menunggu?" tanya bibi yang sedang memasak.
Rama mengangguk. "Bibi masak dulu aja. Aku belum terlalu lapar kok. Jadi bibi nggak usah buru-buru kayak begitu."
"Baik den ..."
Rama menangkup wajahnya dengan sebelah lengannya dan lengan lainnya tanpa sadar terus mengetuk di atas meja. Hingg menimbulkan suara.
Mata Rama terus melihat ke arah pintu rumahnya yang terbuka. Terlihat kosong namun Rama berharap ada seseorang yang ia tunggu dari lama akan masuk dari sana. Walau sedikit mustahil karena sampai detik ini nomor mamahnya tidak bisa di hubungi sama sekali. Tapi yang namanya harapan tuh masih bisa kan?
Rama menghela napas.
"Ah ... mamah kemana sih?" gumam Rama dengan sangat pelan. "Di mana pun mamah berada sekarang. Aku hanya bisa berharap mamah baik-baik aja. Aku cuma mau mastiin mamah tuh nggak ke napa-napa. Tapi, buat hubungin nomor nya aja nggak bisa."
Rama tertegun sampai ia melihat bibi yang datang untuk menaruh makanan.
"Bi ... bibi tahu keberadaan mamah nggak? atau nggak kenapa mamah pergi dari sini?"
__ADS_1