
Annisa menceritakan semuanya. Bagaimana dirinya yang tiba-tiba drop pas baru datang ke rumah bude dan pakde nya. Pada saat itu Annisa langsung dibawa ke rumah sakit dan mereka diberi tahu kalau Annisa hamil. Kebahagiaan yang benar-benar Annisa rasakan kala itu.
Bahkan Annisa sangat lupa memberi tahu Bram. Yang dia ingat hanya lah pergi untuk menemui sang kakak. Dia dan bude beserta pakde langsung bergegas menghampiri makam sang kakak alias Namira karena Annisa ingin berbagi kabar berbahagia ini.
Untuk sesaat Annisa benar-benar melupakan kebahagiaan ini. Dia mengunjungi makam kakak dan tanpa menginap, mereka bertiga langsung bergegas kembali tapi begitu tiba di rumah bude dan pakde.
Sesaat Annisa malah mendapat pesan kurang baik dari nomor suaminya.
/Annisa ... setelah mas pikir pikir sepertinya mas nggak bisa semudah itu buat lupain mantan istri mas. Setelah ketemu sama Sakilla beberapa kali, mas jadi sadar kalau hati mas masih buat Sakilla. Kamu tinggal saja di sana, tidak usah perdulikan mas lagi. Mas akan usut surat cerai pernikahan kita dan mas akan kembali sama Sakilla. Terima kasih untuk semuanya./
Pesan yang sampai detik ini masih Annisa ingat.
"Setelah itu aku kaget mas, rasanya pikiran aku campur aduk. Belum selesai masalah yang di buat orang tua aku. Aku harus dapet fakta kalau kamu milih dia mas. Aku beneran kaget mas ..."
Annisa menunduk.
"Hal yang paling aku takutin banget setelah kamu ketemu sama mbak Sakilla malah terjadi. Aku histeris. Pandangan aku mengabur, aku beneran nggak bisa apa-apa. Waktu itu aku masuk kamar mandi, niatnya sih nangis. Biar bude sama pakde nggak denger aku yang nangis. Tapi memang aku yang kurang hati-hati aku malah terantuk injakan di kamar mandi dan perut aku kena batu kecil di sana."
"..."
"Dari situ bude sama pakde beneran over protektif banget sama aku. Aku gak di kasih izin buat megang HP. Makanya gak bisa ngasih kabar sama sekali."
Bram tertegun.
"Tapi dia baik-baik aja kan?" tanya Bram perlahan.
Annisa mengangguk. "Anak kita kuat mas, dia berhasil bertahan di perut aku dan aku janji supaya hati-hati dan nggak buat keselamatan dia terancam."
Bram refleks menarik Annisa mendekat dan memeluknya sangat erat.
"Mas beneran nggak menyangka bakal dapat hadiah semewah ini."
Bram mengecupi wajah Annisa membuat perempuan itu terkekeh.
Tangannya meraih perut Annisa yang masih rata. "Mas nggak pernah sebahagia ini di hidup mas. Ya ampun, Annisa. Beneran ... mas merasa beruntung banget setelah ketemu sama kamu karena banyak perubahan datang di hidup mas. Pokoknya kamu jangan pernah tinggalin mas. Mas nggak tahu bakalan sesedih apa kalau kamu pergi dari sisi mas."
__ADS_1
Annisa mengangguk.
"Semua tergantung kamu, mas. Kalau kamu masih butuh aku. Sudah pasti, aku nggak bakalan pernah pergi dari hidup kamu. Tapi kalau kamu memang udah nggak butuh aku. Aku bakalan pergi!"
Bram memegang tangan Annisa dan menatap mata perempuan itu dengan sangat tulus.
"Mungkin janji doang akan terdengar memuakan bagi kamu yang udah mas kecewakan, tapi mas akan berusaha untuk berubah dan jadi yang terbaik buat kamu. Mas akan buktiin kalau mas akan membahagiakan kamu dan kamu juga akan selalu ada di sisi mas."
"..."
"Sekali lagi mas minta maaf atas kesalah pahaman yang udah mas buat. Tapi boleh mas minta satu hal?"
"Apa itu?" tanya Annisa dengan tatapan bingung.
"Kalau kamu marah atau kecewa, marah dan kecewanya sama mas aja. Jangan sama Rama. Dia nggak tahu apa-apa loh. Ini pure kesalahan mas. Mas beneran yang udah maksa Rama untuk nyimpen semuanya dari kamu."
Annisa mengangguk.
"Pasti dong ... mana bisa aku marah sama anak itu? sekarang .. di mana Rama? aku kangen berat sama dia."
"Jadi, mau pulang sekarang?" tanya bude kepada Bram dan juga Annisa
Bram yang merangkul Annisa spontan mengangguk. "Iya bude, dokter sendiri tadi yang bilang kalau kondisi Annisa sudah stabil dan bisa di bawa pulang. Jadi, saya mau bawa Annisa ke penginapan terlebih dahulu."
"Ya sudah kalau begitu ... tapi kalian jangan langsung pulang ke rumah kalian ya. Mampir dulu ke rumah bude dan pakde. Sekalian kami mau mengenal nak Bram terlebih dahulu."
Bram mengangguk. Ia juga harus menarik perhatian bude dan pakdenya, mengingat first impression dirinya sudah sangat buruk di mata bude dan pakdenya. Dia harus cari cara supaya mereka tahu dirinya serius sama Annisa.
"Buat bude ... Pakde, sekali lagi Bram minta maaf ya kalau sudah memperkeruh suasana di sini dan melakukan hal yang buat Annisa sedih. Buat ke depannya Bram akan lebih hati-hati dan memikirkan semuanya sebelum melakukan hal apa pun itu."
Pakde menepuk pundak Bram.
"Kami serahkan semuanya sama kamu. Tolong jaga ponakan kami, jangan sakiti dia lagi. Kalau kamu memang sudah nggak butuh, pintu rumah kami terbuka lebar untuk menampung ponakan kami."
Bram menggeleng. Wajahnya sedikit memucat.
__ADS_1
"Tidak pakde ... Bram pastikan kalau hal itu tidak akan pernah terjadi sama sekali."
"Buktikan ..."
Setelah perbincangan mereka selesai. Bude dan Pakde memilih untuk pulang sendiri karena tidak mau mengganggu acara Annisa dan Bram yang pastinya saling melepas rindu.
Bram juga memilih untuk mengurus administrasi sebelum mengajak Annisa ke mobil.
"Kamu kok bisa tahu aku ada di sini mas?" tanya Annisa memulai pembicaraan. "Aku beneran nggak menyangka kalau kamu bakalan seniat ini buat cari aku dan aku juga udah pasrah mas ... soalnya aku mengira pesan itu emang bener. Kalau kamu lebih milih dia di banding aku."
Bram menggeleng kuat-kuat.
"Mana ada begitu .." Bram menggeram. "Kayaknya mas harus mengurus Sakilla. Dia benar-benar udah kelewatan banget. Dia udah berani buat kamu sampai kayak gini dan dia udah buat hubungan kita berantakan."
"Iya ... kita omongin itu nanti ya." Annisa menenangkannya. "Sekarang aku penasaran. Kenapa kamu bisa ada di sini. Maksudnya ... kamu juga nggak kenal sama bude aku kan? jauh banget nyasarnya bisa ke sini."
"Yaa ... demi kamu apa sih yang enggak."
Annisa mendecih, tak ayal dia tetap tersipu malu.
"Kamu nih ya, ada-ada aja. Ditinggal sebentar kok malah jadi jago gombal terus gini sih? belum aku liat dari tadi kamu clingy banget. Kayak bukan kamu," papar Annisa. "Di mana suami aku yang bijaksana, tegas dan menyeramkan itu."
Tiba-tiba saja Bram memajukan bibirnya.
"Kayaknya first impression mas di kamu seburuk itu ya?" gumam Bram perlahan lalu menatap sedih. "Iya sih, mas ngerasa udah jahat banget sama kamu. Tapi mas janji buat ke depannya, nggak ada lagi tuh Bram yang jahat kayak dulu lagi. Mas akan merubah semuanya."
Lengan kanan Bram tetap berada di setir, matanya juga tetap menatap jalanan. Tapi lengannya yang lain ia gunakan untuk mengusap lengan Annisa.
"Mas akan menjadi suami yang baik buat kamu dan ayah yang baik buat Rama dan dedek."
Annisa mengangguk.
"Iya mas ... aku yakin kalau itu kamu. Makasih ya mas karena udah mencari aku dan berusaha mengembalikan kepercayaan itu. Aku beneran salut sama kamu."
Bram menghela napas.
__ADS_1
"Makasih juga karena udah memaafkan kesalahan besar ini."