
"Siapa ... siapa? kamu membicarakan siapa? nggak usah mengarang hanya karena nggak mau kami memaksa kamu. Kamu tuh cuman cocok sama adiknya Sakilla. Nggak usah cari perempuan lain. Hanya adik Sakilla yang bisa menutup kekosongan hati kamu? karena mereka berdua punya sifat yang mirip. Sakilla—
"Gimana kabar Sakilla?" todong Bram.
"Baik— eh?" ibu Sakilla terdiam untuk sesaat lalu beberapa detik kemudian langsung menggeleng. "Ngapain kamu nanya kabar Sakilla lagi? dia ada di sana ... sudah bahagia di atas sana. Kenapa kamu nanya lagi?"
"Bu ... ibu nggak lagi bohongin aku kan?" tanya Bram dengan tatapan memicing. "Ibu nggak lagi bohongin aku dan malah melakukan rencana buruk di belakang kami?"
Bram bisa melihat kalau ibunya Sakilla terlihat sangat lah gugup. Ia nggak tahu kenapa, tapi ini benar-benar kelihatan sangat aneh. Nggak seharusnya ibunya sangat gugup seperti ini. Seolah memang benar ada yang di smbunyikan sama ibunya Sakilla.
"Bu ... ibu tahu kan seberapa benci aku sama orang yang bohong? dan nggak cuman itu doang ... aku beneran gak bisa banget sama orang yang menyembunyikan hal besar di hidup aku. Bisa-bisanya kalau semua ini sampai ketahuan, aku bakalan cut off orang itu dan nggak boleh biarin orang itu untuk deket di hidup aku lagi. Aku nggak bakalan kirim uang lagi tiap bulannya—
"BRAM!"
Bram tersenyum penuh kemenangan. Ibunya Sakilla terkena jebakan. Lagian, Bram merasa sedikit sedih. Karena sampai detik ini ternyata ibunya Sakilla masih saja seperti ini. Masih dengan uang yang harus me jadi prioritas hidupnya.
"Bu ... jadi beneran kalau ibu menyembunyikan sesuatu dari Bram? bukannya ibu yang bilang sendiri, kalau nggak bakal ada rahasia di antara kita?"
"Kamu tuh ngomong apa sih?" gugup ibunya Sakilla yang nggak berani menatap mata Bram. "Lagian kamu sendiri yang harusnya jelasin sama ibu!" Ibu Sakilla membuka pintu rumah lebih lebar. "Kita omongin di dalam. Nggak enak kalau sampai kedengeran yang lain."
__ADS_1
Begitu masuk Bram langsung menghirup aroma tubuh Sakilla. Bram ingat sekali sama aroma ini. Langsung saja ia mengedarkan pandangan dan mencari ke setiap sudut ruangan. Mencari keberadaan orang yang sedang dia cari.
Tapi, sayang sampai saat ini belum ada tanda apa-apa di rumah ini. Seolah sengaja mereka nggak akan menaruh apa apa karena takut dirinya tiba-tiba saja datang.
"Bu ... siapa yang baru aja pergi?" tanya Bram sambil duduk di sofa. "Kenapa aroma parfumnya familiar banget?"
"Ah ... eh iya ... tadi adiknya Sakilla baru aja pergi. Eh itu, semenjak si sulung pergi ... adiknya Sakilla jadi suka sama semua yang Sakilla punya. Termasuk parfumnya. Jadi dia pakai parfum milik Sakilla deh. Katanya biar nggak terlalu kangen sama kakaknya?"
"Memangnya dia tau?"
"Maksud kamu, nak Bram?"
"Ya kan ... yang beli parfum ini aja aku. Jadi aku yang tahu mereknya dan semua barang milik Sakilla juga masih ada di kamar aku. Jadi, nggak ada yang berubah sama sekali dan kalian juga kan nggak pernah mau datang ke rumah pas masih ada Sakilla. Jadi ... seharusnya dia nggak akan tahu sama merek parfumnya."
"Hmm ..."
Bram kembali diam tapi matanya tertuju ke salah satu kamar. Kamar yang dulunya di tempati sama Sakilla.
"Bu ... akhir-akhir ini aku lagi kepikiran sama Sakilla deh. Jadi sengaja datang ke sini. Makanya boleh nggak kalau aku datang ke kamar Sakilla—
__ADS_1
"NGGAK BOLEH!"
"—Biar perasaan kangen ini terobati ... eh nggak boleh ya?" tanya Bram sambil menunduk kecil, Pura-pura sedih. "Hmm, emangnya kenapa ya bu? aku berhak juga kan masuk ke sana. Harusnya aku boleh dong. Mau gimana pun, aku suami Sakilla."
"SEKALI NGGAK BOLEH YA NGGAK BOLEH!"
Bram tertawa miris. Memang ada yang di sembunyikan sama mereka. Bram sangat yakin. Tapi dia nggak mau dulu membongkar dan memilih berdiri sambil membenarkan pakaiannya yang buruk.
"Ya sudah ... kalau kedatangan aku nggak di terima dengan baik. Jadi, Terima kasih ya bu."
Bram tiba-tiba saja teringat sesuatu dan menoleh ke belakang. Ibu Sakilla masih mengantarkannya ke depan mobilnya. Lalu Bram menarik napas dalam.
"Bu .. untuk ke depannya, nggak perlu datang ke mansion aku lagi."
"Kenapa begitu?"
"Saya nggak enak sama Annisa," jelasnya menimbulkan kening yang mengernyit. "Tadi aku sempet singgung, kalau aku udah menikah. Dan Annisa ini istri aku. Aku nggak mau dia sedih karena ibu yang terus jodohin aku sama adiknya Sakilla. Padahal aku nggak ada perasaan sama sekali dan nggak cuman itu doang ... aku harap ibu nggak pernah menyembunyikan sesuatu sama aku. Karena kalau sampai ketahuan. Aku nggak bakalan diam saja."
"Eh ... maksud kamu apa! menikah apa! jangan macam macam ya Bram. Kamu cuman bisa sama adiknya Sakilla aja. Nggak boleh sama perempuan lain. Ibu nggak akan pernah izinin sama sekali!"
__ADS_1
Bram nggak peduli dan langsung saja naik ke mobil dan meninggalkan ibu mertuanya di sana.
"Hah ... aku yakin banget ada yang di sembunyikan sama ibu. Tapi apa itu? kenapa dia kelihatan sangat ketakutan? pokoknya apa pun yang disembunyikan mereka, aku harus cari tau!" tekad Bram