Istri Dadakan

Istri Dadakan
Kabar Duka


__ADS_3

Wajah mendung Bram langsung menjadi pemandangan mata Annisa. Perempuan itu buru-buru menaruh gelas berisi wedang jahe hangat di meja dan menghampiri Bram. Tanpa bilang apa apa, Annisa berdiri di hadapan Bram dan menarik tubuh laki-laki itu untuk mendekat. Bram juga langsung memeluk erat Annisa. Wajahnya ada di perut perempuan itu. Hanya di posisi kayak gini, semua pikiran yang sejak tadi memenuhi benaknya langsung hilang.


Rasa tenang langsung menghinggapi diri Bram.


“Ada aku, mas ... kita hadapi bersama ya. Apa pun yang sedang kamu pikirin ini. Kamu nggak perlu khawatir sama sekali. Karena aku akan terus ada di sini, hanya untuk kamu. Jangan sedih sendirian mas. Karena itu menyakitkan ...”


“Annisa ...”


“Iya mas? Kenapa, cerita aja sama aku. Aku bakal dengerin.”


Bram melepas pelukan pada Annisa dan menarik kursi yang ada di depannya dan tanpa pikir panjang. Annisa langsung saja duduk di sana, menatap Bram yang kelihatan sangat rapuh itu. Annisa tersenyum sangat lembut. Berharap Bram akan mengatakan sesuatu hal yang akan membuat dia paham sama kondisi suaminya itu.


“Dia menemukannya ...”

__ADS_1


Annisa memiringkan wajahnya, bingung sama maksud dari suaminya itu. Apa yang suaminya maksud di sini? Tapi wajah serius Bram membuat Annisa nggak sanggup untuk bertanya sama sekali. Ia memandang gugup pada Bram itu.


“Maksud mas ...”


“Akhirnya mas mengetahui lokasi Sakilla,” ucap Bram membuat dunia Annisa serasa berhenti untuk sesaat. “Mas beneran kaget banget saat mendapat foto dari asisten mas. Dia beneran masih hidup. Dia ada di sini. Dia membohongi mas. Melihat dia yang baik-baik aja, buat mas nggak bisa mengendalikan emosi. Mas beneran marah banget sama Sakilla ...”


“Ka— kamu beneran ketemu sama mbak Sakilla?” tanya Annisa dengan pelan. “Kamu ketemu sama orang yang selama ini kamu cari? Mas ini beneran. Berarti ada kakak aku dong? Dia baik baik aja kan. Kamu beneran nggak bohong kan?”


Melihat wajah suaminya yang malah menunduk membuat Annisa langsung menggeleng. Pikiran dia selalu mengarah ke arah yang buruk. Ia menelan saliva sambil menggeleng kecil.


“Annisa ... mas beneran minta maaf karena sudah telat,” pasrah Bram membuat Annisa menahan napas, merasa ada yang nggak beres di sini. “Sayangnya asisten mas bisa nemuin tempat Sakilla berada, karena data orang meninggal yang ada di lingkungan tempat tinggal mereka dan orang yang meninggal itu adalah kakak kamu sendiri.”


Annisa menutup mulutnya dan tertawa kecil, sambil menggeleng.

__ADS_1


“Kamu bercanda kan, mas? Kakak aku nggak mungkin beneran udah pergi kan? Pasti kamu nipu aku doang. Nggak ... aku nggak percaya sama sekali. Bisa aja kamu ngomong kayak gini buat nakutin aku doang,” tuduh Annisa sambil menatap dengan mata yang memicing.


“Ngapain mas bohong untuk hal seserius ini,” balas Bram membuat senyum Annisa kembali bungkam. Ia terdiam dan menunduk. “Mas beneran, besok kalau nggak percaya kita ke sana. Tapi hanya ke sana, karena sungguh mas masih belum berani kalau bertemu sama Sakilla. Kita hanya datang ke makam aja, gimana? Biar kamu yakin sama apa yang di temuin sama asisten mas itu.”


Annisa menunduk.


“Mas ...”


Bram menarik napas dalam dan langsung berlutut di depan istrinya itu.


“Aku belum mengatakan apa-apa sama kak Namira, aku belum minta maaf. Aku bahkan udah mulai nggak ingat rupa kak Namira sangking lamanya kita nggak ketemu. Tapi, kenapa sekarang aku malah ketemu sama hal kayak gini,” ucap Annisa pelan. “Masih banyak yang mau aku temuin sama kak Namira ... tapi kenapa takdir malah nggak mempertemukan kita lagi.”


Bram menahan rasa sedihnya di dalam hati. Ia berusaha menenangkan istrinya itu yang sedang sangat rapuh.

__ADS_1


“Maaf ... maaf banget karena mas telat. Mas minta maaf, sekali lagi ...”


__ADS_2