Istri Dadakan

Istri Dadakan
Di Sisi Lain


__ADS_3

Sementara itu,


Kembali ke beberapa jam yang lalu. Tempat yang sangat jauh dari kota itu ada seorang anak yang masih terkejut akan omongan sang tante yang sungguh membuatnya terkejut itu.


Baru saja Annisa selesai menelepon tantenya yang meminta untuk datang karena mereka harus membicarakan masalah orang tuanya itu. Supaya lebih enak bagi kedua nya juga.


"Ya ampun ... seenggaknya ada sedikit kabar deh di tante," gumam Annisa dengan sangat bahagia.


Walaupun di sisi lain, Annisa masih sangat sedih karena fakta yang baru dia dapat itu. Dia duduk menyandar dan mulai merasakan kesepian di rumah yang begitu besar dan hanya ada dia sendiri di rumah ini.


Annisa menoleh ke belakang dan berdecak kagum. Beberapa kali dia melihat isi rumah ini, beberapa kali juga Annisa akan dibuat kagum.


"Aku nggak habis pikir deh sama ibu dan bapak," jujur Annisa sembari menggeleng kecil. "Padahal udah dapet semuanya kayak gini. Tapi masih aja ngerasa kurang. Padahal ... ya ampun ini udah jauh lebih mewah. Beneran jauh banget lah sama rumah yang kita tinggalin pas dulu. Tapi kenapa ibu sama bapak masih nggak cukup juga?" tanya Annisa yang benar-benar bingung sama jawabannya sendiri.


"Sebenarnya ... ibu sama bapak tuh butuh uang sebanyak apa sih? dan uangnya buat apa? soalnya nggak pernah tuh bersyukur sama sekali."


***


"Makasih ih bu Dini!" papar Annisa.


Ibu Dini datang membawakan lauk dan Annisa langsung mempersilahkannya untuk masuk. Lalu menutup pintu lagi. Karena sungguh, setelah banyak warga yang tahu kalau ada dirinya di rumah ini mereka nggak berhenti mengatainya hal buruk.


Setiap warga lewat di depan rumah. Pasti ada aja orang yang sengaja berteriak untuk mencacinya dan itu sedikit membuat Annisa sakit hati. Jadi dirinya memilih untuk menutup pintu rapat-rapat. Walau dari dalam rumah dia masih bisa mendengar cacian mereka.


"Kamu udah dapat kabar?" tanya ibu Dini sambil menuang lauknya ke piring besar.


Annisa mengikutinya dari belakang lalu duduk di meja makan. Ia mengangguk dan kembali menggeleng pelan. Masih bingung dirinya udah dapat kabar atau belum.

__ADS_1


"Aku belum bisa nemuin ibu sama bapak," gumamnya dengan sangat sedih. "Tapi aku udah dapat kabar dari tante. Kata mereka, ibu sama bapak sempat datang ke rumah mereka beberapa hari yang lalu. Jadinya aku berharap mereka ada di sana. Tapi tante bilang kalau ibu sama bapak udah pergi lagi gitu aja dan sekarang tante nggak tahu ibu sama bapak ada di mana. Aku nggak tahu ini kabar baik atau buruk. Tapi aku ngerasa kalau aku harus nemuin tante supaya bisa ngomongin masalah ini."


Ibu Dini mengangguk.


"Seenggaknya ada sedikit kabar nak."


Annisa menarik napas dalam.


"Bu ... tapi, gimana kalau aku nggak bisa nemuin ibu sama bapak?" tanya Annisa yang khawatir. Karena dia sudah memikirkan kalau jumlah uang yang di taruh warga pada orang tuanya bukan jumlah yang kecil. Ditambah satu orang warga pasti menaruh cukup banyak uang. Mengingat juga, banyaknya orang yang menuntut dia di rumah RW waktu itu.


"Ibu juga bingung nak, kita ngomongin sambil makan," titah Ibu Dini sambil menyodorkan sepiring nasi dan lauk. "Pasti dari tadi kamu belum makan kan karena kepikiran ini? Ibu nggak mau ya kalau kamu sampai lupa makan karena hal ini. Kasihan perut kamu juga."


"Ah iya bu makasih banyak."


Annisa mulai menyendok masakan ibu Dini dan tersenyum kagum akan rasanya.


Lapar yang sejak tadi sudah terasa kini mulai menghilang. Maklum, di rumah ini nggak ada lauk sama sekali dan Annisa terlalu malu buat pergi keluar untuk sekedar beli makanan. Takut kalau semakin banyak yang melihat, maka semakin banyak juga yang mencacinya. Jadi, Annisa memilih untuk menahan laparnya saja. Dan Annisa terlalu malu untuk mengabari Ibu Dini untuk ngomongin masalah ini.


"Ibu kan bilang kalau kamu lapar tuh jangan sungkan buat chat sama ibu," marah ibu Dini yang sadar kalau sejak tadi Annisa kelaparan. "Jangan di biasain ah buat nahan lapar gitu. Apa lagi alesannya cuman karena nggak enak doang. Kamu tahu sendiri ... gimana jahatnya orang di sini. Jadi ibu nggak mau kalau kamu kena amarah mereka. Jadi mending kamu chat ibu aja dan ibu yang bawa langsung ke sini."


Annisa menggeleng.


"Ibu kan juga jaga warung. Ditambah jarak rumah ibu sama rumah ini tuh lumayan jauh. Jadi, aku nggak enak ah kalau suruh ibu bolak balik ke sini. Kayak yang nggak sopan," aku Annisa jujur


"Nggak sopan gimana?"


"Ya nggak sopan aja ..."

__ADS_1


"Kayaknya ibu harus mikirin omongan kamu yang ngajak ibu buat tinggal di sini? kayaknya ibu harus mulai mikir sih. Soal nya kamu beneran nggak bisa di tinggal sendiri."


"BENERAN?!" seru Annisa yang bahagia.


Ibu Dini mengangguk.


"Demi kamu ... udah tenang aja. Nanti ibu mikirin supaya kamu bisa tinggal di sini dan makan kamu terpenuhi. Lagi pula ibu pikir kamu butuh temen bicara kan?"


Annisa mengangguk. "Makasih banyak ya bu. Padahal banyak orang yang jahat sama aku. Semua orang di sini mengutuk aku. Tapi masih ada ibu yang super baik sama aku. Aku janji akan kenang semua perbuatan ibu. Makasih banyak ibu atas kebaikannya. Semoga ibu selalu bahagia."


"Begitu juga dengan kamu. Bahagia terus ya cantik dan semoga masalah ini cepet selesai. Ibu akan selalu dukung kamu apa pun yang terjadi."


Annisa tersenyum simpul dan mengangguk.


***


"Sebenarnya ibu yang nggak habis pikir sama mereka."


Malam ini Ibu Dini tidur bersama dengan Annisa di kamar tamu. Ini juga atas permintaan Annisa yang sedikit takut karena tinggal di rumah sebesar ini dan cuma sendirian saja. Jadi perempuan itu berpikir kalau tinggal bersama maka akan lebih tenang?


"Nggak habis pikir gimana?" tanya Annisa yang bingung.


"Iya lah ... nggak habis pikir sama pikiran warga di sini. Sudah tahu kalau kamu nggak tahu apa-apa dan kamu juga korban. Apa lagi kamu pulang ke sini buat ketemu sama orang tua kamu. Tapi mereka malah nuduh kamu ini itu. Ya kan aneh ... kalau. mereka marah. Harusnya mereka tuh marah sama orang tua kamu. Bukannya malah sama kamu."


Annisa terdiam.


Dia juga sempat berpikiran seperti ini. Tapi Annisa jelas mengingat persepsi orang yang berbeda. Jadi mau tidak mau Annisa hanya bisa menerima perlakuan orang lain atas masalah yang dibuat orang tuanya.

__ADS_1


"Aku maunya juga begitu. Tapi mau gimana lagi?"


"Oh iya ... masalah ini udah sampai ke telinga suami kamu?"


__ADS_2