
Pagi ini, Annisa terbangun dengan perasaan yang jauh lebih damai. Begitu membuka mata ia langsung melihat seisi rumah yang jelas ia tahu dan sangat kenal sama rumah ini.
"Ah ... aku benar-benar kangen rumah ini."
Iya, Annisa sudah ada di tempat tinggalnya. Rumahnya yang ia tinggali waktu itu. Sudah berapa lama ia pergi? Intinya lama sekali, sampai Annisa merasa merindukan seisi rumah ini.
Bram sengaja mengambil perjalanan malam untuk kembali ke rumah dan semalam Annisa sama Rama sudah tertidur di mobil begitu tiba. Jadi, Annisa tidak tahu kalau sekarang udah ada di sini.
"Mas Bram masih tidur ya?" Annisa menatap suaminya yang masih terlelap. "Duh mas Bram keliatan lagi capek banget," gumam Annisa lagi sebelum turun dari kasur dan merapih kan selimut yang sudah berantakan. Ia beri tepukan pelan di pipi Bram sebelum masuk kamar mandi.
Setelah urusannya selesai, Annisa langsung bergegas ke luar dan masuk ke dalam kamar Rama. Ia nyalakan lampu kamar anaknya yang tadinya padam dan seketika Annisa melihat Rama masih tertidur. Tanpa mengatakan apa-apa lagi. Ia memilih untuk menutupnya dan beranjak turun ke bawah.
Annisa menyapa beberapa pekerja di rumah ini yang juga menyapanya dengan senyuman lebar.
__ADS_1
"Akhirnya mbak Annisa pulang juga. Kami ikut bahagia karena tuan Bram berhasil membawa mbak Annisa pulang ke rumah ini.'
"Kami turut senang karena mbak Annisa pulang."
"Jangan pergi lagi ya mbak ... saya sedih lihat tuan Bram yang hidup tak tentu arah pas mbak Annisa pergi dari rumah ini."
Masih banyak perkataan dari mereka dan Annisa hanya bisa tersenyum canggung.
"Iya makasih banyak ya semuanya, saya nggak akan pergi lagi. Maaf karena kemarin saya pergi tanpa bilang-bilang. Dan ... saya pamit ke dapur dulu ya. Kalian lakuin aja yang lain. Tapi seperti biasa ... untuk area dapur, biar saya yang urus."
Annisa mengenakan apron dan pergerakannya terhenti saat ia ingat sesuatu. Annisa terkikik sambil menatap perutnya itu.
"Hai adek," gumamnya pelan mengelus perutnya. "Maaf ya kalau mamah suka lupa sama kamu," ucapnya pelan. "Ini pengalaman mamah pertama kali dengan lahirnya kamu di dunia ini. Jadi, maaf kalau mamah suka lupa sama kamu."
__ADS_1
Annisa menarik napas dalam.
"Tapi walaupun ini pertama kalinya, mamah janji akan jaga kamu dengan baik. Mamah akan banyak belajar biar kamu di dalam sana baik-baik aja. Mungkin nanti mamah bakalan banyak salah karena masih pertama kali. Tapi mamah akan berusaha terbaik mungkin buat kamu."
Annisa membuka rak dan melihat dus susu yang biasa Rama konsumsi.
"Ah iya ... harusnya ada susu buat ibu hamil ya?" tanya Annisa pada dirinya sendiri. "Ya ampun ternyata aku masih bisa sesantai ini padahal kamu udah ada di dalam sini satu bulan lamanya. Duh, maafin mamah ya ..."
Dengan perasaannya yang kacau Annisa berbalik untuk membangunkan Bram dan memberi tahu masalah ini. Tapi langkahnya berhenti melihat Bram turun dengan wajah bengkaknya.
"Besok ya yang, mas udah buat janji sama dokter kandungan buat cek anak kita. Terus habis pulang dari dokter kita langsung beli semua kebutuhan buat kamu."
Annisa terdiam.
__ADS_1
"Tenang mas udah mikirin banyak persiapan kok. Apalagi mas pernah melewati masa ini, jadi kamu jangan khawatir ya. Cukup ikutin kata mas saja."
"Iya mas ..." jawabnya lesu