Istri Dadakan

Istri Dadakan
Bersama Sakilla (2)


__ADS_3

Sakilla menggeleng.


"Ah ... mau aku kasih tau juga kayaknya buat apa kan? soalnya kan mbak mau dihukum kan? jadi kemungkinan kecil buat mbak bisa ketemu sama Rama lagi? jadi dari pada aku buang waktu. Mendingan aku lakuin niat awal aku buat ketemu sama mbak."


Annisa menghapus air matanya.


Mulai tenang.


"Tolong kasih tau," papar Sakilla. Berbeda dengan Annisa kini Sakilla mulai gelisah begitu mendengar kabar sang anak. "Belakangan ini aku selalu mimpi tentang Rama dan omongan kamu tadi, buat aku sadar kalau aku memang udah bodoh banget waktu itu."


Sakilla ingin menghampiri Annisa, tapi kakinya terikat membuat ia berteriak marah.


Ia tidak bisa apa-apa. Tangan dan kakinya sama-sama tidak bisa di gerakkan sama sekali. Ia meronta tapi semuanya malah terasa sakit. Setelah menyerah meronta, Sakilla hanya bisa meraung kencang membuat Annisa sedikit tak tega melihatnya.


Tapi Annisa terus mengukuhkan pada dirinya sendiri kalau dirinya nggak boleh tertipu sama bujuk rayu Sakilla. Ia ingat kata suaminya yang bilang kalau Sakilla itu licik, jadi banyak cara yang bakal dia lakuin supaya orang bisa kasihan pada dirinya.


"Rama ... aku mau ketemu sama Rama, tolong bawa anak itu kesini." Perintah Sakilla dengan memohon. "Aku mau minta maaf karena udah buat anak itu jadi takut. Nanti janji deh nggak bakal macem-macem lagi kalau udah ketemu sama Rama. Asal bawa anak itu kesini. Aku mohon ..."


Sakilla terus mengadah pada Annisa.


"Kamu baik kan? aku yakin kalau kamu perempuan baik Semuanya terlihat menyukai kamu. Jadi tolong ... bawa Rama kesini. Aku janji gak bakalan berulah lagi. Tapi bawa anak itu kesini. Aku mohon ..."


Annisa bimbang tapi dia tetap menggeleng.


"Maaf mbak ... Bukannya aku nggak mau nolong. Tapi Rama sendiri yang bilang kalau dia nggak mau ketemu sama mbak lagi. Tapi ... kalau Rama mau, nanti pas persidangan aku bakalan ajak Rama buat datang." Ia menunduk. "Tapi aku gak bisa janji sama sekali."


Mata Sakilla membola dan dia langsung mengangguk dengan sangat cepat.

__ADS_1


"Gak apa-apa deh, asal aku bisa ketemu sama Rama. Ada yang mau aku sampaikan ke anak itu. Makasih, makasih banyak. Ya ampun, kenapa aku malah jahatin orang sebaik kamu. Janji, gak bakalan berulah lagi."


Sakilla terus berterima kasih membuat Annisa tak enak sendiri.


"Tapi aku gak janji."


Sakilla mengangguk. "Gak apa-apa, seenggaknya aku yakin kalau Rama percaya banget sama kamu. Dia pasti mau nurut apa pun yang kamu pinta."


Annisa menghela napas kecil. Tidak tahu pilihannya kali ini benar atau tidak. Tapi apa pun itu, Annisa berharap semoga semuanya baik-baik aja dan gak ada yang perlu di khawatir sama sekali.


"Udah tinggal dua puluh menit lagi," seru Annisa tiba-tiba sambil melirik jam di pergelangan tangannya. "Boleh aku nanya sesuatu tentang kak Namira?"


Sakilla mengangguk.


"Sebelumnya maaf, maaf aku udah merebut kakakmu itu. Maaf kalau semua mimpi kamu harus buyar karena ego. Sekali lagi maaf."


"Aku cuma mau nanya banyak hal tentang kak Namira." Annisa tersenyum tipis membayangkan senyuman kak Namira yang sangat indah itu. "Aku rasa, banyak hal berbeda dari kakak semenjak aku pergi. Apa lagi bisa di bilang kami pisah cukup lama. Jadi, pasti banyak hal baru seperti tubuh, kebiasaan atau lainnya tentang kak Namira yang ngak aku tau."


Suara pintu membuat kedua wanita itu menoleh.


"Waktunya sudah habis."


Sakilla sedikit meronta saat polisi itu menghampirinya. "Alamat rumah yang dulu, di dalam kamar, laci sama lemari. Ambil ajaaaa," teriaknya sebelum suaranya menghilang karena Sakilla yang sudah di bawa masuk ke dalam.


"Rumah?" Annisa terus memikirkan semuanya sambil berjalan keluar dari kantor polisi. "Apa yang dimaksud mbak Sakilla itu rumah dia sama kak Namira waktu itu?"


Sampai Annisa masuk ke dalam mobil yang sudah menunggunya, hingga Annisa tiba di kantor suaminya. Ia terus saja memikirkan masalah ini.

__ADS_1


"Mbak bisa menunggu dulu ya. Tuan Bram masih rapat." Asistennya itu menatap jam di pergelangan tangannya. "Mungkin setengah sampai satu jam lagi tuan Bram rapat. Mbak mau tunggu di dalam atau gimana?"


"Saya tunggu di dalam saja. Tidak masalah kan?" tanya Annisa balik.


"Tidak masalah mbak, malah tuan Bram sendiri yang menyarankan seperti itu. Kalau begitu saya kembali ke ruang rapat dulu ya mbak. Kalau ada apa-apa mbak bisa ke pantry. Dari lift mbak bisa langsung belok kanan, nanti di sana kelihatan. Nanti mbak suruh aja OB di sana buat bikin apa yang mbak mau."


Annisa mengangguk lagi dan mengibaskan tangan di udara, "iya ... udah kamu balik lagi. Waktu kamu jadi keganggu gini karena kedatangan saya."


Asisten Bram itu mengatakan tidak masalah dan pamit undur diri begitu Annisa tersenyum tipis.


***


Dua jam kemudian, baru Bram kembali. Annisa nggak tahu apa yang terjadi di dalam sana tapi suaminya keliatan sangat kacau begitu masuk dari luar.


"Hah ... untung ada kamu." Bram merengkuh tubuh Annisa. Kepalanya ia dusel ke ceruk leher Annisa, menghirup dalam aroma tubuh Annisa yang selalu menjadi favoritnya itu.


"Tadi mas beneran capek banget. Pusing, ternyata setelah mas lepas gitu aja ini perusahaan. Udah ada yang mau berulah. Untung aja asisten mas bisa nemuin kejanggalan dan tadi orang nya sama sekali nggak mau ngaku. Untung aja ada bukti. Jadi mas bisa usut dia," adu Bram.


Annisa menyisir rambut Bram dan mengangguk, berusaha menanggapi cerita suaminya.


Kan ini yang dia mau.


Dari dulu Annisa mau kalau Bram cerita apa yang terjadi dan semenjak pertengkaran mereka. Bram benar-benar banyak berubah dan Annisa menyukainya.


"Untung ada kamu. Capek mas langsung hilang pas meluk kamu. Kamu memang rumah buat mas. Dah ini mah, nggak ada lagi tempat ternyaman selain kamu. Pokoknya kamu best banget deh. Gak ada yang bisa nandingin sama sekali."


Annisa tersenyum simpul.

__ADS_1


"Oh iya ... tadi gimana?" Bram sadar dan langsung menatap lekat Annisa. "Sakilla gak berulah kan sama kamu?" tuduh Bram.


__ADS_2