
Dengan tangan saling bertautan Annisa mengikuti langkah suaminya dan daddy Bima mengikutinya di belakang Annisa sambil terus menyilangkan tangan di dada.
Setelah melewati lorong yang begitu rapih, Annisa melihat perempuan yang menjadi tujuannya kesini sedang duduk di satu kursi sambil terus menunduk. Tapi, bukan itu yang menjadi fokus utamanya. Annisa langsung menghampiri bingkai foto di atas meja kecil dan mengambilnya.
Di sana ada fotonya sama foto kakaknya saat dirinya baru kelulusan. Salah satu foto yang paling Annisa sukai hingga detik itu.
"Dari kemarin aku mikir siapa kamu sebenernya. Karena muka kamu sangat nggak asing," ucap Sakilla tiba-tiba tanpa berani menatap mereka satu per satu. "Tapi setelah di pikirin akhirnya aku inget kalau kamu adiknya Namira. Adik yang selalu Namira ceritakan dengan bahagia."
Annisa memandang Sakilla dengan pandangan berbinar. Perasannya campur aduk. Ia memeluk foto itu dan mulai menitikkan air mata. Sedih yang ia tahan sejak kemarin ia tahan kini mulai pecah. Annisa nggak bisa mehanannya lagi.
"Kamu Annisa kan?"
Annisa mengangguk dengan cepat.
"Selama ini kakak kamu selalu mau ketemu sama kamu. Katanya kamu pasti bisa memaafkan perbuatannya karena dulu kalian dekat banget," cerita Sakilla. "Tapi maaf, aku gak pernah kasih izin Namira buat nemuin kamu. Sekarang aku menyesal, karena impian Namira yang terakhir kalinya malah ga terwujud karena keegoisan aku."
Tubuh Annisa perlahan terjatuh ke bawah. Pandangannya menatap penuh benci ke Sakilla. Ia menarik napas dalam, membuang segala sesak yang mengikat hatinya.
"Kenapa?" papar Annisa pelan. "Kenapa kamu tega pisahin aku sama kakak aku!" histerisnya tiba-tiba membuat Bram langsung menghampiri Annisa dan memeluk tubuh Annisa dari belakang.
"Maaf ...," sesal Sakilla
Annisa memberontak di pelukan Bram, membuat Bram mengerahkan segala tenaga untuk menahan tubuh istrinya.
"Mas ... dia jahat, kenapa dia misahin aku sama kakak aku!" seru Annisa sambil memeluk lengan suaminya yang nahan tubuh Annisa. "Dia nggak tau seberapa hancur aku pas tau kakak aku pergi. Dia nggak tau sesusah apa aku karena kak Namira pergi, padahal selama ini aku selalu ketergantungan sama kak Namira. Karena nggak ada yang ngertiin aku selain kak Namira."
Perempuan itu semakin histeris, membuat daddy Bima menatap sembarang arah. Ikut sedih melihat menantunya yang seperti ini.
"Iya ... mas tau, tapi tenang dulu ya. Kamu sendiri kan yang bilang kalau kita harus nyelesaiin masalah dengan tenang. Kalau marah yang ada pikiran kita terjerat dan yang keluar cuma marah-marah doang."
Annisa berusaha menarik napas dalam dan menghembus kan nya kasar. Ia menatap penuh benci pada Sakilla.
"Mbak ... aku nggak tau apa yang sebenarnya udah kamu lakuin sama kakak aku. Sampai kakak akhirnya tega buat ninggalin aku sama orang tua kakak. Aku kira selama ini kakak nggak pernah mau ketemu aku tuh karena kemauan dia sendiri. Karena dia takut atau malu buat ketemu kita lagi. Aku kira ini kemauan kakak sendiri karena kalau emang kemauan kakak, aku bisa apa?"
Sakilla menunduk, tangannya saling bertaut menimbulkan bunyi tabrakan antara kuku panjang Sakilla.
Perempuan itu sangat ketakutan. Melihat banyak tatapan jahat yang tertuju ke arahnya.
"Tapi ternyata? tadi mbak sendiri bilang kalau kakak sempat minta buat ketemu aku. Tapi ... kenapa nggak mbak turutin?" ucap Annisa semakin melemah di akhir ucapannya. "Mbak kenapa tega misahin aku sama kakak?"
Melihat istrinya yang semakin nggak terkontrol, Bram memerintah asistennya untuk mengambil minum. Bram juga menggendong Annisa untuk duduk di kursi dan memberi minuman yang sudah di kasih
__ADS_1
Sakilla melihat itu semua, ada rasa tak terima melihat itu. Tapi dia nggak punya kuasa untuk marah dan semuanya berakhir dia yang menunduk.
"Udah agak mendingan?"
Annisa mengangguk, tangannya melingkar pinggang Bram yang berdiri di sampingnya. Daddy Bima yang sejak tadi diam juga turut menghampiri anak dan menantunya. Dia berdiri di samping Annisa, lalu kembali menatap Sakilla yang udah ada di hadapan mereka bertiga.
"Ada yang mau kamu bilang?" Bram mengeluarkan suara beratnya membuat Sakilla sedikit terperanjat.
"..."
"Sungguh, dunia ini sempit banget nggak sih?" sindir Bram. "Bertahun-tahun gue kayak orang bodoh, datang ke makam yang gue nggak tau siapa orang di dalamnya."
Sakilla merasa tersindir.
"Gue nangis, gue terpuruk, gue bingung harus apa, tapi rasanya semua itu sia-sia karena yang jadi objek sedihnya gue malah huru-hara sama perempuan lain. Dan orang yang gue tuju ini malah egois dan ngelakuin hal yang bahkan gak ada di bayangan gue sama sekali."
Daddy Bima mengangguk. Dirinya menjadi saksi bagaimana Bram yang berubah seperti anaknya yang nggak ia kenali karena beberapa bulan setelah Sakilla pergi, Bram seperti mayat tak terurus sama sekali. Berat badannya turun sangat drastis. Fokusnya menghilang dan anaknya itu hanya diam sambil terus memandang foto pernikahannya.
"Ya ... walaupun akhirnya gue bisa ngelupain kesedihan itu karena ada seorang anak yang harus gue jaga."
Sakilla yang mendengar itu langsung mendongak, menatap langsung Bram. Berharap Bram menjelaskan tentang anak nya lagi, tapi Bram malah mengatupkan bibirnya dan balik fokus ke Annisa yang masih melamun.
"Oh iya ... sampai akhirnya gue ketemu sama dunia lagi." Bram tersenyum tipis dan menatap penuh cinta pada Annisa, ia mengusap pipi Annisa membuat perempuan itu tersenyum sangat tipis.
"..."
"Maaf ..."
"Gue nggak butuh maaf lu. Gue butuh jawaban lu. Benar kalau lu sayang sama kakaknya Annisa? Maksudnya benar lu suka sama sesama jenis?"
Sakilla menunduk.
"Udah lah, gue nggak mau bahas tentang penyimpangan sosial lu. Karena nggak ada gunanya sama sekali. Cuma ya kok kalau memang kayak gitu. Kenapa lu malah nikah sama gue? Gue merasa ditipu banget tau nggak sih."
"..."
"Coba dari awal lu jelasin sama gue, kalau lu nggak akan pernah suka sama gue. Tapi balik lagi. Mungkin kalau nggak ketemu lu. Gue nggak bakalan ketemu sama anak sepintar anak gue. Dan gue nggak bakalan ketemu sama Annisa. Tapi woah ... kadang gue nggak habis pikir aja sih. Lu tau kan kalau lu tuh jahat banget karena udah ngelakuin ini semua?"
Sakilla diam.
"JAWAB!" bentak Bram membuat Sakilla langsung mengangguk dengan cepat.
__ADS_1
"Ya ampun ... gue speechless. Woah, bahkan gue nggak tau harus ngomong apa lagi."
Daddy Bima menoleh pada anaknya yang masih diam. Dia usul untuk ngomong sama Sakilla, setelah mendapat izin dari Bram. Daddy Bima langsung menarik kursi dan duduk tepat di depan Sakilla.
"Sakilla ...."
Sakilla yang dari tadi diam mendengar panggilan penuh lembut dari mantan mertuanya mulai merengut dan berakhir nangis.
"Terlepas dari masalah ini, pasti kamu lagi dalam suasana berduka ya karena kepergian nak Namira?" ucap daddy Bima yang berusaha mengerti posisi Sakilla "Pasti nggak gampang kan di tinggalin sama orang yang kamu sayang. Kamu tau kan gimana rasanya?"
Sakilla menutup wajahnya sambil mengangguk, "hancur," ucap Sakilla dengan sangat serak.
"Dan itu sama yang Bram rasain waktu itu. Nggak cuman Bram, tapi daddy sama mommy juga merasa hancur karena kepergian kamu." Sakilla semakin kencang menangis. "Kamu ini waktu itu udah dianggap anak sama keluarga kami dan yang kami tau, kamu sama Bram saling cinta satu sama lain."
Tiba-tiba Daddy Bima terdiam dan ia menoleh pada Annisa yang masih dibujuk sama Bram.
"Nak Annisa ... ini daddy nggak apa-apa kan kalau bahas sedikit masa lalu?" tanya daddy
Annisa mengangguk, "nggak apa-apa dad."
"Alhamdulillah kalau begitu." Daddy Bima kembali fokus pada Sakilla yang masih menangis.
"Dulu ... kami sama sekali nggak ada pikiran buruk tentang kamu loh. Kamu sama Bram keliatan sangat cinta satu sama lain. Kalian sangat serasi. Sampai daddy masih ingat kok, bagaimana bahagianya kamu pas anak Bram hadir di perut kamu. Daddy masih ingat semuanya. Sampai akhirnya kami mengetahui kalau kamu pergi setelah nggak kuat melahirkan anaknya Bram ke dunia ini."
Hati Sakilla sangat tertohok mendengarnya.
Omongan mantan mertuanya memang sangat lembut tapi sangat menghujam jantungnya dan itu menyakitkan sekali. Sakilla sampai nggak berkutik dan bingung harus jawab apa akan semua pertanyaan yang menyulitkan dirinya.
"Awalnya daddy nggak percaya loh," jujur Daddy Bima. "Pas itu Bram cerita atas semua masalah yang kamu buat. Tapi jujur daddy nggak percaya karena—
"Daddy nggak percaya sama omongan Bram?" rajuk Bram menyela omongan mereka.
"Bukannya nggak percaya," balasnya. "Tapi muka polos Sakilla buat daddy merasa dia nggak mungkin bisa sejahat itu. Tapi setelah daddy cari tau sendiri. Ternyata benar. Dan ya ... daddy sama mommy marah besar sama kamu. Kamu tau nggak sih berapa hancurnya hati orang tua saat melihat anaknya sendiri hancur karena ulah seorang perempuan dan ternyata perempuan itu membuat skenario palsu hanya untuk ngelakuin yang dia mau. Tanpa mikirin semua orang."
Daddy Bima menatap sembarang arah, kasihan tapi sisi orang tuanya membuat dia sangat marah ke Sakilla.
"Kalau kamu memang udah nggak bisa sama anak daddy. Kamu bisa kok jujur dan minta cerai. Itu lebih logis loh di banding kamu harus nyewa banyak orang buat bantuin skenario yang menurut daddy beneran memalukan itu."
"..."
"Kamu tau nggak sih karena perbuatan kamu, dokter yang bantu kamu itu sekarang lagi di penjara! Dokter itu emang salah. Tapi kamu lah yang harus di salahkan di sini. Karena kamu yang punya rencana."
__ADS_1
Napas Sakilla semakin sesak mendengar itu.
"Jadi ... sekarang daddy mau tanya. Mau kamu sendiri yang mengaku ke polisi atau kami paksa kamu untuk mengaku semua perbuatan kamu?"