Istri Dadakan

Istri Dadakan
Kembali Berulah


__ADS_3

"Mom maaf ya ..."


Mommy Chika berbalik dan mengangguk pelan. "Mommy sudah mendengar semuanya dari Bram. Kami jadi paham dan sudah siap untuk menghadapi sikap orang tua kamu yang kayak tadi. Tapi .. bukan itu yang mom pikirin deh. Kamu selama ini baik-baik aja kan? Karena, kata Bram itu kamu juga sering tertekan sama sikap mereka?"


Mommy Chika berkacak pinggang dan menggeleng pelan.


"Mom juga nggak habis pikir deh sama kelakuan mereka. Kenapa mereka bisa berlaku jahat sama anak sendiri? Di sini kan harusnya orang tua tuh ngalah ya sama anak. Nah tapi kenapa mereka nggak ngalah sama sekali? Ini kamu anaknya loh. Anak satu-satunya karena kakak kamu—


Mommy Chika mengatupkan bibirnya.


"Oh iya ... mommy sama daddy turut berduka cita ya," ucapnya sambil mengusap lengan atas Annisa. "Semoga amalan ibadah kakak kamu diterima di sisi Allah dan semoga kamu diberi ketabahan yang melimpah. Jangan pernah merasa sendiri ya. Karena di sini masih ada mom, dad dan Bram. Mommy tau kamu pasti sedih. Tapi jangan terlalu berlarut ya. Karena kami nggak ada yang suka lihat kamu nangis."


Annisa berterima kasih. Kenapa mertuanya bisa sebaik ini? Sangat berbanding terbalik sama orang tuanya sendiri. Dia menatap sendu.


"Makasih banyak ya mom. Bahkan mommy sama daddy jauh-jauh datang ke sini hanya untuk nemuin aku sama mas Bram. Aku beneran makasih banyak dan makasih atas doanya."


"Sama-sama sayang ..."


Annisa kembali beralih ke masakannya. Ia sama mertuanya hanya mau menghangatkan makanan saja. Karena semua makanan sudah tersedia. Sesekali Annisa berceloteh lucu membuat mommy Chika tertawa kecil.


"Maaf kalau mom menyela ... tapi memang biasanya kayak gini ya? ibu kamu sama sekali nggak pernah bantu kamu?" tanya mom Chika yang udah gedek. Dari tadi perempuan itu selalu melirik ke arah luar dan melihat besannya cuman duduk santai di atas meja makan. Ah, jangan lupakan kaki nya yang terangkat ke kursi lainnya.


"Maaf ya mom," ucap Annisa nggak enak mau menghampiri ibunya tapi langsung ditahan.


"Mom sama sekali nggak butuh maaf kami. Ini mommy cuma penasaran aja. Kenapa bisa-bisanya orang tua kamu tuh nggak peduli pas anaknya lagi sibuk kayak gini. Padahal seharusnya orang tua yang paling direpotkan lah kalau ada kegiatan kayak gini."


Annisa hanya bisa menghela napas kecil.

__ADS_1


"Dari kecil udah kebiasaan gini mom. Aku yang melayani mereka dan mereka cuma santai doang. Jadi, nggak tahu lagi deh. Ini kayak udah rutinitas biasanya gitu."


"Ya ampun ... mommy jadi ngebayangin sekuat apa kamu ngelewatin semua ini. Hebat banget ya kamu."


"Ah nggak sehebat manusia lain di luaran sana kok."


"Ah kamu bisa aja." Mommy Chika mengangkat mangkuk besar berisi sambal goreng kentang ati. "Ini udah selesai kan? Mom bawa keluar ya."


"Iya mom."


Mommy Chika beranjak keluar dan menaruh di atas meja makan. Sekali lagi dia melirik besannya yang masih santai.


"Ayok semuanya makan. Annisa udah selesai masak nih dan makannya udah pasti enak. Hayuk pada makan. Kita udah selesai masaknya! Buruan, mumpung masih hangat. Enak buat dimakan."


Mom Chika menuang nasi ke beberapa piring dan menaruhnya di depan kursi kosong. Melewati kursi ibu Marni.


"Eh ada apa ini?" panik Annisa sambil menaruh lauk ayam bakar di atas meja. Ia melirik dua perempuan di sana yang keliatan sedang beradu emosi. "Ibu kenapa? udah yuk duduk lagi. Kita makan dulu. Katanya ibu udah lapar kan? Nah ini aku udah selesai masaknya."


"ALAH!" Ibu Marni memalingkan wajahnya sambil menyilang kan tangan di dada. "Lihat kelakuan ibu mertua kamu! Dia nuangin nasi ke piring buat yang lain. Tapi apa? Pas bagian di kursi ibu, dia cuman ngelewatin doang."


"Ya anggap aja itu pelajaran karena ibu yang nggak bantu anaknya sama sekali," lanjut mom Chika. "Sosok ibu mana yang kayak ibu gini? Anak lagi sibuk, tapi malah main HP doang. Tahu nggak sih ... makanan di sini semuanya tuh yang masak Annisa. Jadi kalau bisa ibu tuh bantu anaknya buat angetin kayak tadi. Atau nggak susun piring kek. Bukan nya malah diem aja kayak gini. Nggak ada gunanya banget!"


Ibu Marni terkesiap dan mendengus.


"Tadi kan anda sudah bantu, jadi buat apa saya bantu lagi? Bikin ricuh di dapur aja. Lagian udah tugas Annisa lah buat nyiapin semuanya. Omong-omong ... Memangnya anda doang yang dari perjalanan jauh? Saya juga kali."


"Mau perjalanan jauh atau rumahnya cuma di samping doang kek. Sudah tugas kita buat bantu—

__ADS_1


"Udah mom nggak apa-apa," sela Annisa. "Dari pada ribut kayak gini. Mendingan kita makan. Keburu dingin nanti makanannya. Nggak enak loh."


"Ck ... ya sudahlah."


"Lihat? Anaknya aja nggak apa-apa. Tapi kenapa malah anda yang ribet?" sambung ibu Marni membuat Annisa menggeleng pelan.


"Bu ... udah ya. Jangan dilanjut lagi," mohon Annisa.


Ibu Marni mendengus dan menarik piring dengan kasar. Gengsi sebenarnya buat makan setelah ribut sama besan nya itu. Tapi mau gimana lagi? Perutnya sangat lapar.


"Malas ibu ribut, cepetan makan! Ibu lapar. Dari tadi ibu sama bapakmu udah datang, tapi baru dikasih makan pas mertua kamu datang," sindir ibu Marni. "Memang nyatanya kamu cuma manut sama orang yang beruang. Dasar! anak nggak tau diatur."


"Bu ..."


"Ada apa ini?" Bram menarik kursi dan duduk di sana. "Woah banyak sekali makanannya. Ya ampun Annisa .., kamu tuh masak semua ini sendirian? nggak capek apa?" kagum Bram yang membuat Annisa bersyukur, karena sudah buat amarahnya meredam


"Nggak aku sendiri kok mas. Tadi aku dibantu sama temen-temen yang kerja di sini," papar Annisa lalu menuang lauk ke piring suaminya itu. "Lengkap kan mas? Atau kamu nggak mau pakai apa gitu?"


"Pakai semua dong ... masa kamu udah masak banyak gini. Mas cuman makan satu lauk doang."


Mommy Chika menggeleng pelan.


"Anak kita beneran udah kembali kayak dulu lagi," ucapnya tanpa sadar. "Mom beneran bahagia banget karena kamu yang jadi istrinya Bram. Kamu berhasil buat anak mom balik kayak dulu lagi. Makasih ya sayang, makasih banyak ..."


Walaupun bingung Annisa mengangguk.


"Oh iya ... untuk semuanya, besok pagi kita harus langsung pergi ke makam kakaknya Annisa. Jadi Bram harap kalian bisa siap-siap pas pagi. Karena ada hal yang harus kita urus nanti."

__ADS_1


__ADS_2