Istri Dadakan

Istri Dadakan
Maaf


__ADS_3

"Bukan apa-apa mas, aku cuma nyebutin orang yang nggak aku suka aja," jawab Annisa lalu kembali berjalan tapi tubuh nya kembali ditarik oleh Bram.


"Sebenarnya kamu kenapa sih!" ucap Bram mengeraskan suaranya, supaya tidak meredam di tengah derasnya hujan. "Perasaan sebelumnya kamu masih baik-baik aja dan kita semua bercanda bareng. Sampai tiba-tiba kamu pergi tanpa pamit. Terus pas pulang ke rumah, udah kayak gini? Aneh tau nggak sih ... mas nggak tahu apa yang terjadi sama kamu. Tapi kamu beneran aneh!"


Annisa berbalik, sedikit memberikan jarak antara mereka. Membiarkan punggungnya terkena hujan. Ia mendongak, menatap mata Bram secara langsung.


"Kalau aku jelasin juga kamu nggak akan paham kan?"


"Ya makanya jelasin!"


"Aku males mas ... rasanya aku kacau. Aku ada, tapi nggak pernah dianggap. Aku disayang, tapi tetap aja selalu ada hal yang nggak aku tau dan sungguh aku kecewa sama semua hal seperti itu. Mungkin bagi semua orang itu hal kecil, tapi nggak bagi aku," ucap Annisa yang sedikit ambigu.


"Mak—


Annisa tidak mau mendengar penjelasan Bram dan langsung beranjak lalu menerobos hujan. Ia tinggalkan Bram yang masih terpaku di bawah payung.


"Mamah kok hujan-hujanan sih!" seru Rama mendongak. "Mamah mau pergi loh! nanti kalau mamah sakit gimana?"


Annisa tertawa tipis.


"Mamah nggak bakalan sakit kok, tenang aja."


Rama menggandeng tangan Annisa dan memarahi Bram yang baru datang karena membiarkan Annisa malah basah. Rama terus mengomel. Omelan yang memecah keheningan di antara Annisa dan Bram.


Mereka menunggu kereta sambil duduk di salah satu kursi tunggu. Lalu lalang manusia tak membuat mereka saling berbicara satu sama lain. Seolah dunia mereka itu berhenti, berbeda dengan orang lain yang terus beranjak semaunya.


Sesekali Bram melirik ke arah Annisa yang terus menyibukkan diri dengan ponselnya. Bram merenung, mulai sadar perubahan sikap istrinya itu atas dirinya.


Sesaat ia bertanya-tanya, apa salahnya? sambil sesekali Bram menatap sekeliling stasiun. Hingga dia mendapati orang yang menjual minuman. Ia berdiri sambil menyampir kan tas pinggangnya.


"Mas mau beli minuman nih, ada yang mau nitip nggak?" tanya Bram memecah keheningan. Lalu menunjuk tukan jualan yang dimaksud.


"Bebas ... buat Rama aja, aku nggak haus." Singkat Annisa


Bram meremang sembari mengangguk pelan. "Rama mau ikut sama ayah kesana?"

__ADS_1


Rama menggeleng. "Aku mau di sini sama mamah aja yah. Aku mau susu hangat aja dong," pintanya. "Tapi ayah beliin mamah minuman juga ya. Yang hangat gitu. Soalnya mamah pasti kedinginan karena kehujanan tadi," lanjutnya sambil memeluk tubuh Annisa dari samping.


"Nggak usah—


"Biar mas belikan."


Bram meninggalkan Annisa dan Rama. Ia beranjak ke arah tukang jualan yang juga sedang meneduh.


"Pak ... beli kopi, teh, susu. Semuanya hangat ya pak," pinta Bram dengan begitu sopan.


"Baik mas, tunggu sebentar ya."


Selama menunggu, Laki-laki itu berdiri menyandar sambil menatap langit malam yang masih hujan deras. Pikirannya berkelana ke beberapa waktu yang lalu. Apa yang terjadi sebelumnya sampai perubahan sikap Annisa yang tiba-tiba dan sampai saat ini, Bram tidak menemukan apa kesalahan dia sama sekali.


Ia meraup wajahnya frustasi.


"Perasaan nggak ada apa-apa deh dan terakhir kali aja masih ledek-ledekan loh," gumam Bram sangat pelan. "Tapi kenapa Annisa bawa-bawa nama Sakilla ya? maksudnya ... selama ini kita nggak pernah tuh bahas Sakilla sama sekali dan sekarang kenapa tiba-tiba ngomongin Sakilla lagi?"


Bram sungguh tidak mengerti.


Lamunan Bram buyar dan ia tersentak sebelum sadar saat tukan jualan tadi memberinya segelas pesanannya.


"Ah iya, saya bawa satu dulu ya pak."


Bram membawa susu ke Rama lalu kembali ke tukang jualan tadi dan membayarnya, sembari membawa sisanya. Tak lupa Bram mengucapkan terima kasih sebelum pergi.


"Diminum dulu, masih ada waktu sampai kereta datang."


"Makasih mas ..."


***


Beberapa menit berlalu dan sekarang Annisa sudah menukar tiket dan kereta sudah tiba di stasiun, sedang menunggu penumpang memasuki kereta. Derasnya hujan membuat laju kereta sedikit terhambat. Tapi hal itu tidak membuat Annisa urung untuk pulang. Ia semakin kukuh untuk kembali ke kampung halamannya.


"Annisa ... kamu beneran yakin buat pergi?" tanya Bram sambil menggendong Rama yang sudah tidur, sangking lama menunggu kereta. "Ini Rama pasti nangis banget sih pas bangun nanti. Karena dia nggak liat kamu pas pergi."

__ADS_1


Annisa tersenyum, mengusap punggung Rama.


"Kamu tenangin dulu ya mas. Dulu juga bisa kan nenangin Rama. Bilang sama Rama kalau aku nggak bakalan lama kok. Tenang aja ..."


"Kalau mas kangen sama kamu gimana?" tanya Bram lagi


Annisa tertegun, wajah sayu suaminya membuat hati Annisa bergetar. Ia mengepalkan tangannya diam-diam. Berusaha menguatkan hati, walau Annisa ingin memeluk suaminya juga sembari nanya kenapa Bram membohongi dirinya sampai seperti ini?


Annisa memejamkan mata sesaat dan menatap Bram kembali.


"Cuma satu minggu, mas. Tadi katanya nggak apa-apa. Jangan gini dong, aku jadi resah nih perginya."


"Iya deh." Bram menghela napas kasar. "Mau gimana lagi kan? mas juga nggak bisa apa-apa selain do'ain kamu dan di sini mas nggak tau apa yang terjadi sama kamu. Tapi semoga pas kamu kembali, mood kamu udah kembali baik ya Annisa dan kita nggak berantem lagi."


".."


"Mas nggak tau kamu kenapa. Tapi kalau kamu begini karena mas, mas beneran minta maaf sama kamu. Mas janji akan berubah jadi yang lebih baik dan mungkin selama di sana mas akan introspeksi diri supaya kamu nggak kenapa napa dan kita bisa balik kayak dulu lagi."


Bram merentangkan tangan yang kosong.


"Boleh mas minta kamu peluk mas?"


Tanpa pikir panjang. Annisa memeluk Bram dengan Rama yang ada diantara mereka. Annisa juga terus mengecupi punggung Rama, sementara Bram sudah mengecup puncak kepala Annisa.


Suasana jadi penuh rasa haru.


"Maafin Annisa yang udah banyak salah ya mas." Annisa melepas pelukan dan menggenggam tangan Bram. "Aku cuma minta satu, jangan pernah bohong sama aku dan anggap aku sebagai istri kamu mas. Istri yang bisa bareng bareng ngelakuin apapun sama seorang suami. Kamu ada aku, jangan anggap aku kayak orang lain dan ... aku pamit ya mas. Aku janji bakalan kembali satu minggu ke depan."


Annisa menyalimi lengan Bram sebelum benar-benar pergi tanpa menoleh sama sekali. Bahkan sampai masuk ke dalam kereta, Annisa tidak menoleh sama sekali. Takut kalau nanti dirinya akan lepas kendali dan malah urung untuk pergi.


Begitu duduk di kereta,


Annisa mengusap kaca kereta yang gelap dan memandang Bram yang mengusap air mata yang jatuh.


"Maaf mas ... maaf kalau aku egois. Tapi aku beneran butuh waktu sendiri."

__ADS_1


__ADS_2