Istri Dadakan

Istri Dadakan
Tahu Semuanya


__ADS_3

Setelah melewatkan perbincangan yang panjang dan menyelesaikan masalah dengan kepala dingin. Akhirnya Bram tau inti masalah ini ada dari Sakilla alias mantan istri nya yang tidak tahu diri itu.


Kini,


Bram mengetahui alasan Sakilla meminjam ponselnya pada dia waktu itu.


"Pantas saja dia berani meminjam ponsel saya ..." gumam Bram lalu menatap pada dua orang tua di sana. "Bude dan pakde jangan percaya ya sama pesan itu. Karena sungguh saya nggak mungkin ngasih tau secara gamblang pada Annisa. Ini ulah mantan istri saya. Dia sok minjem ponsel saya dan akhirnya malah hubungin Annisa yang enggak enggak. Ya ampun ..."


Bram memijat keningnya.


Dia tak menyangka kalau Sakilla akan senekat itu dan dia juga bodoh banget karena sudah meminjamkan ponselnya pada Sakilla waktu itu. 'Kenapa aku percaya banget sih waktu itu ...'


Bram kembali menunduk, memohon ampun.


Ia mengeluarkan ponselnya dan menunjukan pesan antara dia dan Annisa. Bude dan pakde langsung mengambil ponselnya itu dan saling menatap. Keraguan mereka mulai runtuh. Melihat Bram yang begitu serius membuat mereka akhirnya sedikit luluh dan percaya.

__ADS_1


Bahkan wajah Bram yang memerah tanda ingin menangis membuat mereka semakin percaya kalau Bram juga begitu sulit melewati ini semua.


"Kamu tahu ... tindakan kamu membohongi istri kamu demi bertemu sama mantan kamu itu salah? bude nggak masalah kalau ternyata ini salah paham. Tapi kamu paham kan kalau awal dari salah paham ini tuh karena apa? karena kamu yang malah menemui mantan kamu."


Bram mengangguk.


"Maaf bude ..."


"Sebagai seorang suami harusnya kamu tegas!" sela pakde dengan tegas. "Kamu ini tidak bisa memaksa untuk memiliki keduanya. Sekarang pakde tanya ... kamu lebih memilih istri kamu alias Annisa ponakan kami, atau mantan istri kamu itu? kalau kamu lebih mau bertemu sama mantan kamu. Tinggalkan Annisa sekarang!"


Bram menggeleng dan langsung berlutut di hadapan mereka.


"Fokus utama saya sekarang cuma untuk anak saya dan Annisa. Nggak ada yang lain. Saya bisa buktikan semuanya. Tapi tolong maafkan saya untuk kali ini saja dan saya tidak akan pernah lalai sama sekali. Saya tidak akan membiarkan siapa pun merusak hubungan pernikahan saya dan Annisa."


"..."

__ADS_1


"Saya mohon ... jangan pisahkan saya dengan Annisa. Dia sudah merubah saya banyak hal dan karena kehadiran Annisa buat saya tau arti bahagia yang sebenarnya. Annisa udah mengajarkan banyak hal. Jadi, saya mohon untuk biarkan saya bertemu Annisa dan membicarakan masalah ini."


Bram sungguh takut.


Ia trauma dengan kata kehilangan dan kini dia tidak mau lagi kehilangan orang yang dia sayang untuk yang kesekian kalinya. Dia akan berusaha sekuat tenaga untuk mendapat kan kepercayaan bude dan pakde lalu mendapatkan Annisa kembali lalu memposisikannya untuk selalu ada di hidupnya itu.


"Saya mohon ..."


"Sudah lah pak, kasihan ibu liatnya. Kita tanya Annisa dulu saja. Pertemukan mereka. Kalau Annisa memaafkan nak Bram, kita juga tidak bisa apa-apa. Kota tunggu jawaban Annisa."


Pakde pada akhirnya mengalah dan mengangguk.


"Kondisi Annisa lagi tidak baik dan silahkan kamu ke dalam untuk mengetahui apa yang terjadi pada Annisa. Pakde harap kamu juga jangan terlalu menekan Annisa mau gimana pun kondisinya lagi tidak stabil. Jangan paksa dia kalau Annisa memang tidak mau."


Bram mengangguk. Ia mengucapkan terima kasih banyak-banyak pada pakde dan bude sebelum kini dia kembali gugup karena sudah berdiri di pintu kamar inap tempat Annisa berada.

__ADS_1


"Saya pasti bisa ..."


__ADS_2